Mengapa?
Mengapa kau justru datang di saat aku beranjak pergi? Tak taukah kau seberapa sulit aku meyakinkan diri untuk kembali kepada-Nya dan mengabaikan kebahagiaanku berbicara denganmu? Kau seperti sedang menepuk pundakku untuk kembali menengok ke belakang. Meragukan langkah yang ingin ku jelang. Mengapa? Coba jelaskan kepadaku apa yang harus aku perbuat. Kau selalu membuatku ragu, Kau membuatku layaknya seorang nelayan yang berada di tengah lautan, kehabisan bahan bakar, dan bingung hendak mengarah kemana. Kau kadang buatku merasa terbang tinggi, tapi kadang buatku merasa dijatuhkan ke dalam lautan dalam. Sungguh. Sekarang aku ingin berhenti, bukan menyerah. Aku mohon tolong aku. Jangan tiba-tiba muncul lagi dan membuatku menabrak sesuatu yang ku sebut rindu. Jangan. Biarkan aku kembali kepada Pemilik hatiku, yang semenyakitkan apapun ketentuan-Nya itu adalah yang terbaik bagiku. Salam perpisahan dariku, Suatu saat nanti pasti kita berpadu jika ditakdirkan jadi satu. Ataupun, jikalau tak begitu, tak mengapa bagiku. Karena aku dan kau tak harus jadi 'kita'. Karena tak ada Pemilih yang sebaik Dia. Menunggulah, aku pun sedang menunggu








