Kembali Lagi
Kata orang, hidup adalah siklus, seperti roda : terus berputar, kadang di atas, kadang di bawah. Barangkali istilah itu bukan hanya berlaku bagi taraf hidup, tapi juga untuk perputaran lainnya.
Enam tahun yang lalu aku menginjakkan kaki di kota ini sebagai seorang mahasiswa kukerta. Takdir benar-benar penuh kejutan. Langkah kaki yang tercap di pasir kala itu belum sepenuhnya habis tergerus angin. Kini aku kembali lagi ke kota ini sebagai seorang guru, tanpa pernah terpikir sekalipun untuk kembali dan menetap. Mengejutkan.
Ada banyak perputaran yang berulang, bukan cuma perkara tempat, tapi bisajadi juga tentang orang yang ditemui. Barangkali orang yang tak sengaja ditemui di masa lalu kembali lagi ke kehidupan kini dan menetap lama.
Bisajadi ibu-ibu yang diserempet waktu itu jadi mertua di masa ini. Bisajadi bapak-bapak yang antrean SPBU-nya dipotong waktu itu jadi atasan di kantor sekarang. Bisajadi teman SD yang digalakin waktu itu jadi partner hidup ke depan. Bisajadi semua yang pernah ditemui, dijajaki, kembali lagi ke masa ini.
Pertemuan, perputaran hidup, semua sudah diatur dalam Lauhul Mahfuzh. Untuk perkara takdir seperti itu barangkali kita hanya bisa menerima, tapi urusan meresponse orang-orang yang singgah adalah pilihan : apakah memberikan kesan baik atau buruk.
Kita tak pernah tau orang mana yang suatu saat nanti kembali lagi, entah itu hanya sekedar singgah atau menetap lama untuk berjalan bersama menghadapi kehidupan yang keras ini.
Wallahu a'lam
Duri, 26 Agustus 2019











