Menghadiahkan Rasa Yang Sama
Kerempongan sejak pagi, di antara jarak yang jauh. Aku yang belum bisa hadir di hari ujian komprehensif teman sekontrakanku, yang kini jadi partner berpikir, partner cerita segala hal tentang cita cita besar kita dalam dakwah kampus.
"Rek ayo, bangun². Ndang berangkat ke kampus. Jangan lupa selempangnya. Aku tunggu foto kalian ya" pesan singkat ku kirim pagi itu, pada mereka yang masih menetap di Malang.
"Iya ini siap siap, ayooo"
"Baru bangun. Maap aku chat ibunya duluu"
Dan segelintir balasan rempong lainnya.
Ah, rasanya sedih di hari spesial mu aku tak hadir melengkapi di situ. Padahal jaraknya cuma 1,5 jam. Tapi kalau bapak negara ngga ngizinin, apa mau di kata. Pasrah aja, ngga mau maksa.
Jam 10.00 semua baru fullteam, kirim boomerang, foto dan video. Hari ini bukan hanya satu, tapi 3 orang teman kontrakanku ujian, menjemput gelar sarjananya. Grup kontrakan riuh rendah, mba mba yang dulu pun semuanya muncul. Menyelamati satu per satu, tidak menyangka kini adek adeknya sudah hampir lulus.
"Pengen mba, tapi S2 ke jepang wkwk" balas satu dari 5 orang.
Oh baik, itu juga impianku. Ternyata, kami benar benar tumbuh. Mengisi pos masing masing, dengan berbagai drama tentunya. Soal kontrakan, teman, sosok kakak, dan tumbuh menjadi kita yang hari ini. Tentu tak mudah.
Lalu, aku tertegun. Bukan kah, kini saatnya kita yang melanjutkan estafet itu? Dan menghadiahkan rasa yang sama pada adik adik kita nanti?
Mereka butuh sosok kakak. Di hari harinya yang panjang dan melelahkan menjaga diri di dalam kampus, yang tentunya heterogen. Menjadi orang orang tangguh, dan berdedikasi untuk orang lain. Menjadi pilar pilar pertama ketika teman nya yang lain sudah berbelok dan merangkul "Ayo sholat dulu, nugasnya di lanjut lagi nanti ya" "Eh udah adzan, ayo rapatnya break dulu"
Maka, ada gelisah yang menghujam dalam dada. Apakah kita siap, di hadapkan dengan tantangan di depan mata? Tentang esok, saat wajah baru berdatangan lagi. Dan sudah memasuki tahun ke 4.
Ah rasanya terlalu naif dan jauh berbicara siap atau tidak. Pada diri sendiri saja masih banyak PR, dan tugas tugas besar yang belum selesai. Tapi, tapi..
Kita tidak boleh diam kan?
Maka, di hari ini. Saat ujian komprehensif tadi. Aku ingin merangkul kalian disana. Mari, kita rapatkan shaf agar semua hati dan pikiran menyatu. Mewujudkan impian dan cita kita dahulu, di mushola kecil berkarpet hijau, saat keresahan sama sama kita tularkan.
Selamat mengudara dengan bahagia yang tercipta hari ini. Kamu hebat, sudah bisa memprioritaskan tugas utama, menimba ilmu di tanah rantau. Siang malam dan segenap pengorbanan tak tidur, semoga Allah yang mengganti waktu istirahatmu dengan kebahagiaan lainnya.
Tapi, aku harap semoga Allah juga menguatkan mu selalu untuk terus membersamai. Entah alasan apa yang kau buat untuk kembali lagi ke Kota Apel ini. Tapi aku percaya, jika tekad sudah bulat. Allah akan membantu menjawab.
Yakinlah, di dalam setiap gelisah, ada Allah disana. Yang kan selalu mendengar do'a do'amu. Semoga kamu, kita dan mereka semua selalu Allah jaga dengan niat tulus untuk melanjutkan. Setidaknya, taun ini kita selesaikan bersama sama.
Aku belum bertanya langsung, masih menerka nerka. Tapi aku yakin, pasti ada gelisah yang nyatanya tak mudah untuk di jawab.
Hei, 1/10. Barakallah fii ilmy. Semoga yang lainnya segera menyusul. Tolong motivasi kita hehe. Allhamdulillah 'ala kulli hal. Alhamdulillah wa syukurillah.
Bangil, 28 Mei 2019 | 23.30