Bolehkah aku bercerita padamu?
Boleh, ya? Agar kau mendengarnya akan ku titipkan pada semiir angin yang meliuk-liuk di awang-awang.
Ini cerita tentang malam, di hari ini, di pertengahan Ramadhan.
Cepat sekali ya Ramadhan berlalu, padahal masih terasa ramainya masjid di hari pertama tarawih kemarin.
Kau lihat tidak? Bulan bundar sempurna, dialah purnama. Di ufuk timur ia berpendar, bagaikan lampu bolam kuning dengan daya berjuta watt karena bisa menerangi malamku, juga malammu, indah ya?
Dan kau sadar tidak, di langit seberangnya, di barat sana, ada dua benda langit menggantung mesra berdekatan, kalau ku ukur dari sini mereka hanya berjarak satu buku jari telunjukku. Yang satu putih terang yang satu lebih kecil dan oranye, jika tak salah, kurasa mereka adalah venus dan mars, bukan bintang. Hehe.
Aku berjalan sendiri malam ini, tapi tenang, aku bertemu orang-orang sejurusan di simpang jalan menuju masjid. Kau sih, tak menemaniku malam ini, ups!
Tapi tetap saja, bagiku langit malam adalah kesunyian.
Di masjid, aku di shaff paling depan. Semakin hari masjid ini berkurang jamaahnya. Di awal Ramadhan, shaff akhwat sampai enam baris, sampai keluar di teras masjid. Sekarang, tinggal tiga baris, tapi mengobati kecewaku dari yang kemarin karena telah bertambah satu baris. Karena aku berada di shaff depan, aku bisa meihat shaff ikhwan bila berdiri, maklum saja hijabnya pendek. Aku menemukan perbedaan signifikan yang membuatku tertawa sendiri. Jika kau meletakkan sujudmu diatas sajadah, boleh jadi kamu berada di barisan akhwat, karena di barisan ikhwan hanya satu atau dua yang membawa sajadah, wkwkwk. Ya sebenarnya memang tak perlu membawa sajadah lagi, karena sudah ada sajadah masjid. Namanya juga ibu-ibu, tak afdol jika keluar rumah tanpa menenteng sesuatu.
Imam kali ini sepertinya sudah sepuh, terlihat dari rambutnya yang telah berubah putih. Dan, ya, eng, shalat isya’ dan tarawihnya kuakui lebih lama dari biasanya. Lumayanlah, aku sih ndak masalah, masa’ mau mengeluh? beliau saja yang sepuh masih kuat, masa’ kita letoy? Semangatku jadi terbakar lagi.
Setelah shalat isya’ dan tarawih selesai, di masjid ini selalu di adakan kultum sebelum shalat witir. saat ku tengok ke shaff belakang, dua shaff telah lenyap tanpa penghuni. Agak kecewa melihatnya. Dan entah apa, yang membuatku kurang konsentrasi mendengarkan kultum. Tapi kurasa anak-anak kecil semakin berisik saja, bermain, kejar-kejaran, berteriak sesuka hati, makin menjadi-jadi, tambah pula ada yang menangis. Ibu-ibu pun tak mau kalah, ngobrol atau ngerumpi? Entahlah, tapi benar mengalahkan suara kultum dari speaker masjid. Aku malah agak gelisah, tak tahu mengapa.
Diantara berisiknya orang-orang itu, masihlah, ku dengar beberapa poin materi kultum.
“Celakalah orang-orang yang membaca Al-qur’an tanpa mau memahami artinya.” itu salah satunya yang kudengar.
Lalu “Orang yang paling munafik adalah orang pintar yang tidak mau menjadikan ilmunya (Al-Qur’an) sebagai petunjuk dalam hidup.”
Terus “Dan kewajiban orang tua adalah mengajari anaknya untuk memahami Al-qur’an, karena itu adalah hak anaknya. Dan yang paling utama bertanggung jawab atas semua itu adalah seorang Ayah, dia bertanggung jawab atas anak dan istrinya, dialah imam keluarga.”
Nah, yang terakhir membuatmu melintas di pikiranku. Begitu berat ya, tugas seorang imam? Memang tanggung jawab ada di pundakmu, tapi nanti sama-sama ya dalam mengerjakannya, biar sama-sama juga masuk syurgaNya. Hehe.
Yang penting, sekarang, do’akan aku istiqomah ya!
Istiqomah untuk memperbaiki diri supaya menjadi orang yang pantas untukmu nanti, wahai imamku yang tertulis di Lauhul Mahfudz.
Kamu juga ya yang istiqomah, agar bisa membimbingku menuju Cinta yang hakiki, Cinta kita pada Allah ‘azza wa jalla.
kusematkan rinduku untukmu pada do’a malam ini padaNya. Karena sudah seharusnya muara kerinduan ini adalah rinduku padaNya.