Dadak merak 225cm vs kepala barongan 60cm, meluncur. Monggo yg berminat lagi, bisa pesan segala ukuran dan harga. Bikin reyog sesuai budget saja boskuhh.... Bisa melayani segala request. #reog #reyog #ponorogo #asliponorogo #reogmurah #barongan #bajureog #dadakmerak #gamelan #ganongan #ganong #gong #kendang #jualkendang #jualreog #jualreyog #jualjaranan (di Ud. Suromenggolo) https://www.instagram.com/p/CG9XpF_AWbOqBUOC4Sl0dNIylo4ZIui3t9PXs80/?igshid=1hg638nvcru6f
Pendar bulan purnama menyapu permukaan air Telaga Ngebel, Kecamatan Jenangan, Ponorogo, pada Sabtu (12/10/2019) malam. Bersamaan dengan penyelenggaraan Reyog Jazz Ponorogo (RJP) di tempat yang sama.
Suasana bertambah romantis karena Sierra Soetedjo dari atas panggung melantunkan "(Somewhere) Over the Rainbow", sebuah lagu tema dari film legendaris The Wizard of Oz (1939) yang ditembanglaraskan aktris cum penyanyi Judy Garland.
"Malam ini kita sesi romantisan aja ya. Tadi sempat liat full moon juga. Rasanya bikin semakin romantis," ujar Sierra yang malam itu mengenakan paduan antara square neck dress putih sebagai atasan dengan rok dengan warna senada tersapu motif biru.
Berdiri di tengah panggung, kehadiran Sierra diapit oleh gitaris Tiyo Alibasjah dan Donny Koeswinarno sebagai peniup flute dan saksofon.
Sierra yang memulai kariernya seturut perilisan album perdana Only One (2011) merupakan penampil keenam dalam ajang yang juga dikenal dengan sebutan Jazz Telaga ini.
Disebut Jazz Telaga mengingat lokasinya berada persis di tepi telaga yang kelilingnya mencapai lima kilometer ini.
Penyelenggaraan festival yang telah memasuki usia penyelenggaraan kedua, sebelumnya pada 2017, dimaksudkan juga sebagai wadah pariwisata Ponorogo.
“Kami ingin mengabarkan bahwa Ponorogo bukan hanya kesenian tradisional reog. Ada banyak objek wisata lain yang bisa dikunjungi di daerah ini,” kata Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni dalam jumpa pers sehari sebelumnya yang berlangsung di Taman Sokosewu, Desa Sukorejo.
Selain telaga, objek wisata yang bisa dikunjungi di Ngebel ini adalah Terowongan Belanda dan Mloko Sewu yang tak kalah banyak menyediakan titik memanjakan mata untuk melakukan swafoto.
Harga tiket untuk memasuki objek-objek wisata tersebut juga terhitung enteng di kantong, tak lebih dari Rp10 ribu.
Bahkan untuk menikmati suguhan RJP yang berlangsung sejak siang hingga tengah malam, panitia tak memungut bayaran alias gratis. Cukup membayar retribusi masuk ke Telaga Ngebel sebesar Rp8 ribu.
Pengisi acara di panggung pada siang hingga menjelang jeda maghrib ini menghadirkan beberapa kelompok musik dari komunitas jazz lokal.
Mereka adalah kelompok The Apprentice yang terdiri dari lima musisi muda asal Ponorogo, Madjazz (komunitas jazz asal Madiun), dan Mrs. Holdingsky (komunitas jazz asal Ponorogo).
Setelah penampilan Reyog Groove yang terdiri dari Irfan Chasmala (kibordis), Adithya Pratama (bassis), Reno Castello (gitaris), Agis Kania (vokalis), dan Syaifuddin Dimyati (drummer), giliran kolaborasi Aditya Ong Trio bersama Jacob Jayasena (dari Solo Jazz Society) menguasai panggung setelah swastamita yang mengiringi terbenamnya matahari di ufuk barat.
Area RJP pun semakin ramai. Terselip beberapa di antaranya adalah wisatawan asing. Mereka asyik menikmati suguhan musik jazz sambil berdiri, duduk bersila, atau berselonjor di trotoar beralaskan tikar seperti yang dilakukan masyarakat sekitar.
Sementara tamu undangan yang terdiri dari elemen pemerintah daerah setempat menempati kursi-kursi beratapkan tenda yang berada di lapangan.
Di sekeliling lapangan tersebut berjejer stan yang menjajakan makanan, minuman, dan cendera mata khas Ponorogo.
Jacob yang sesekali pindah memainkan melodion, dengan sokongan Aditya Ong Trio, tampil membawakan “Ilir-Ilir”, “Sidewalk”, “Telaga”, “Jembatan Merah”, dan “Gundul-Gundul Pacul”.
Terobosan Baru
Sebagai festival yang masih tergolong sangat belia, sejumlah terobosan juga dilakukan. Ini untuk membedakannya dengan festival sejenis di daerah lain.
Khusus untuk penyelenggaraan tahun ini, untuk pertama kalinya panitia RJP menggandeng Komunitas Ponorogo Resik-Resik dengan mengadakan kegiatan “Reyog Jazz Clean Up” pagi sebelum festival berlangsung.
Selain itu, mereka juga menggandeng komunitas kreatif dari Ponorogo bernama Wani Pait Creative dan Karang Taruna Ngebel.
Kolaborasi ini menghasilkan sejumlah hiasan dan dekorasi yang terbuat dari bambu untuk memperkaya tata artisitik panggung dan beberapa area di sekitarnya.
“Harapannya kami bisa mengadakan semacam kompetisi artistik saat penyelenggaraan Reyog Jazz Ponorogo tahun depan. Untuk itu kami memberitahukan kepada teman-teman yang berada di sentra-sentra produksi kerajinan bambu dan semacamnya untuk mempersiapkan diri sejak sekarang,” tambah Agus Setiawan selaku pendiri sekaligus Direktur RJP yang juga Managing Director Warta Jazz.
Selain itu, Agus menjanjikan bahwa pihaknya terus berupaya meningkatkan partisipasi warga lokal. Semisal dari komposisi kepanitiaan.
“Kalau tahun pertama, 50% anggota panitia masih berasal dari kami. Sekarang sudah 80% komposisi panitia terdiri dari orang-orang Ponorogo. Harapannya tahun depan jumlah tersebut semakin bertambah sehingga nantinya mereka ini bisa sepenuhnya menyelenggarakan acara jazz sendiri,” tambah Agus.
Untuk pertama kalinya juga acara ini melibatkan Simo Budi Utomo, paguyuban seni reog mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Ponorogo, untuk berkolaborasi dengan kelompok Ber6 yang diperkuat Denny Chasmala, Andre Dinuth, Yankjay, Zendhi Kusuma, Franky Sadikin, dan Yandi Andaputra.
Penampilan kolaborasi nan rancak ini berlangsung sore hari sebagai penanda dibukanya secara resmi RJP oleh Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni.
Seolah tak ingin ketinggalan dengan Simo Budi Utomo, sang bupati juga berkolaborasi dengan proyek band yang dikomandoi gitaris Denny Chasmala itu.
Kolaborasi ini sungguh mengejutkan sebab kami para jurnalis tak pernah mendapatkan bocoran ini sebelumnya.
Kontan rombongan penonton yang berdiri di bibir panggung karena sebelumnya dihibur oleh penampilan Krisdayanti semakin ogah beranjak.
Tanpa tanggung bupati berumur 52 tahun itu menyanyikan empat lagu sekaligus diiringi Ber6. Kecuali lagu “Entah Apa yang Merasukimu” (Ilir7) yang sedang viral, tiga lagu lain yang dinyanyikannya, yaitu “Musnah” (Andra & the Blackbone), “Rumah Kita” (Godbless), dan “Bongkar” (Swami) kental atmosfer rock yang mengentak.
Malam yang semakin larut seolah tak merisaukannya. Pun para penonton yang heboh berjingkrak dan ikut menyanyi bareng. Dengan lantang diumumkannya dari atas panggung bahwa RJP akan kembali lagi tahun depan, tepatnya 10 Oktober 2020.
Sebagai pamungkas, tampil Fariz RM Anthology yang terdiri dari Fariz (kibordis, vokalis), Adi Darmawan (bassis), Eddy Syakroni (drummer), dan Iwan Wiradz (perkusionis).
Tanpa banyak cakap, musikus yang memulai kariernya sejak 1976 itu naik panggung dengan kibord Yamaha Montage 7. Lagu “Penari” ia jadikan pembuka repertoar.
Lagu tersebut aslinya berasal dari proyek band Superdigi yang pernah dibentuk Fariz bersama Eet Sjahranie, Sonny Subowo, dan Dandung Sadewa pada medio 80an. Selanjutnya ia menggeber lagu "Sungguh" dan "Kurnia dan Pesona".
Mengenakan kaos lengan panjang berwarna hitam dengan gambar macan yang menghiasi bagian depan, Fariz rehat sejenak dan menyapa para penonton yang masih setia bertahan menyaksikan penampilannya.
"Sepanjang 43 tahun berkarier, baru kali ini saya tampil di Ponorogo. Sebenarnya ada tawaran main lain di Jatim Expo, tapi saya memilih tampil di acara ini. Ternyata asyik,” katanya memuji antusiasme penonton.
Lalu mengalunlah “Hasrat dan Cinta”, lagu ciptaannya yang dipopulerkan Andie Meriem Matallata. Fariz RM menutup sesinya penampilan perdananya di kota reog itu sekaligus pelaksanaan RJP secara keseluruhan dengan lagu “Barcelona”.
Jarum jam tepat menunjuk pukul 01.00 WIB. Pesta jazz semalam suntuk itu pun usai pula. Meninggalkan penggalan lirik “Barcelona” yang masih terngiang di telinga. “Mungkin esok ku kan pergi, tapi ku berjanji, pasti diriku kembali…”