Menikmati teduhnya matamu mengisyaratkan rasa rindu. Saat mataku menatap dalam matamu, di dalam hatiku dipenuhi dengan gema kata-kata syahdu. Aku rindu. Aku rindu. Mengapa matamu sama persis dengan matanya? Saat rintik hujan yang turun membasahi bumi, pikiranku dipenuhi percikan-percikan rindu. Rindu yang selalu menggunung dan siap diledakkan kapan saja. Namun, karena ada suatu hal yang seolah menghalangi kita, aku mengurungkan niatku untuk bersandar di bahumu. Aku mengurungkan niatku untuk memelukmu. Hanya untuk sekadar meluapkan rasa sedihku. Dalam hujan kita berjalan. Masing-masing. Begitulah kiranya. Aku menaikkan kaca helmku untuk sekadar melihatmu. Meskipun hanya dapat menatap wajahmu dari kaca spion kendaraanmu. Dan kubiarkan wajahku dipenuhi tetesan-tetesan hujan yang dingin dan menyegarkan. Sekali lagi, kulakukan ini semua demi menikmati mata teduhmu itu. Terkadang aku sering mencuri pandang padamu dari kendaraanku sendiri. Kaca spionku begitu berjasa. Sebab ia dengan senang hati memunculkan wajahmu, sehingga bisa kunikmati mata teduhmu. Ya .... Meskipun matamu tak melihat mataku. Teruntuk kamu... Jangan marah ya jika aku berkata begitu ... dan jangan marah jika aku sering bersikap demikian padamu. Janji? -Setelah hujan sore tadi, dari aku yang tiba-tiba rindu kembali. #senandika#rindu#rindulagi#rinduterus https://www.instagram.com/p/B55Kq-zlFRC/?igshid=55wzlsnd938l













