RK4LQ RK3DG RK2AD RK SYX196DQNC | Dc To Dc converter IC | India. | Sparesale
RK4LQ RK3DG RK2AD RK SYX196DQNC Dc To Dc converter IC For Control And Regulate the Power Buy From Sparesale.com Direct Importer And Distributor in India.
seen from United States

seen from Indonesia
seen from United States

seen from Iraq
seen from Bangladesh

seen from United States
seen from United States
seen from Venezuela
seen from China

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Germany
seen from China
seen from Italy
seen from United States
seen from China

seen from United Kingdom
seen from Germany
seen from Philippines
RK4LQ RK3DG RK2AD RK SYX196DQNC | Dc To Dc converter IC | India. | Sparesale
RK4LQ RK3DG RK2AD RK SYX196DQNC Dc To Dc converter IC For Control And Regulate the Power Buy From Sparesale.com Direct Importer And Distributor in India.
literasi media a la warteg.
Literasi media belum menempati ruang khusus dalam kurikulum pendidikan Indonesia. Sejujurnya, ini menyebalkan. Terlebih, keran informasi dibuka sederas-derasnya selepas era reformasi bermula. Bukannya segar lantaran terpercik informasi, informasi-informasi yang disalurkan malah tak terbendung dan jadi air bah busuk bagi masyarakat.
Bukannya terpintarkan karena banyaknya informasi, malah yang ada: terbodohkan.
Ya, kita bisa salahkan informasi. Atau bisa saja salahkan pemerintah yang tak punya menyediakan “pipa” regulasi tersalurkannya informasi. Namun, masyarakat beradab tak hanya ditopang dari pemimpin yang cerdas. Rakyatnya pun harus cerdas.
Bisa saja kita mengadvokasi pemerintah untuk menyelipkan kurikulum Literasi Media dalam pembelajaran. Hal itu yang teman-teman saya dari media Masjid Salman ITB akan upayakan lewat menjaring guru agar ikut serangkaian pelatihan literasi media.
Diharapkan, rangkaian pelatihan ini bisa diajukan ke pemerintah untuk dipertimbangkan. Namun, tentu kita perlu memikirkan faktor-faktor “entahlah” di jajaran elit sana yang bisa bikin ajuan kami ditahan bertahun-tahun.
Kalau begini jadinya, kita bisa gercep, lho. Saringan diri serta orang-orang sekitar kita bisa dipercanggih secara mandiri. Era keterbukaan informasi di satu sisi memberi berkah jika kita telaten pilah-pilih info. Modul-modul serta buku tentang literasi media melimpah ruah. Kita bisa mempelajari dan memanfaatkannya untuk memandaikan kita dalam menganalisis informasi.
Melalui tulisan ini, saya akan memaparkan “pisau-pisau” yang digunakan untuk menganalisis isi pesan media. Saya mendapatkannya dari buku “Media Literacy for K-13” karya Frank Baker. Agar lebih terbayang, saya akan sertakan satu contoh konten media yang dianalisis oleh rumusan dari buku ini.
Saya ambil contoh propaganda yang dulu pernah saya kritik dan kini sedang ramai dibicarakan kembali di oleh Dosen Cultural Studies Unpad Aquarini Priatna: iklan kampanye kebersihan Bandung “Neng Iis”.
Sudah, cukup sekilas lihat Iis-nya yang memang cantik. Lagian semua perempuan cantik dengan caranya masing-masing kok. *naon* Haha.
Skip. Baik, ini dia pisau-pisau analisisnya!
***
PISAU 1: Siapa yang membuat pesan ini?
Pembuat pesan ini adalah tim kreatif yang menamakan diri mereka “Komunitas Sayang Bandung”. Mereka tidak dibiayai oleh dana Pemerintah Kota. Desainernya, Ben Wirawan, mengakui menghargai perempuan dan tidak bermaksud untuk merendahkan perempuan lewat tokoh Iis.
PISAU 2: Teknik kreatif yang digunakan untuk membuat pesan ini?
Foto perempuan cantik dan kalimat yang nyentil. “Pilih mana, bayar denda karena nyampah atau traktir aku?” Guyonan-guyonan yang menjurus ke arah hubungan antar jenis kelamin, perempuan cantik, atau lebih frontalnya lagi: seksi, memang sangat lekat dalam budaya populer saat ini. Desainer mencoba berbicara dengan “bahasa khalayak”. Belum lagi kampanye kebersihan seperti ini memang tidak biasa dan informal, sehingga tidak kaku.
PISAU 3: Bagaimana orang yang berbeda memaknai pesan ini?
Tentu, bagi masyarakat Bandung penyuka humor-humor renyah dan tidak terlalu paham isu gender—merasa iklan ini lucu-lucu saja. Sedangkan bagi yang dekat dengan isu gender, maka iklan ini dianggap merendahkan nilai keindahan perempuan yang hanya digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu.
PISAU 4: Apa nilai-nilai yang terepresentasi dari pesan ini?
Renyah dan lucunya pesan membuang sampah. Tidak biasa. Harus diakui. Sangat berhasil dalam hal viralitas dan penyebaran isu. J
Iis (nama sunda) yang minta ditraktir, berpotensi menimbulkan kesan matre pada perempuan Sunda.
Tampak bahwa pria lebih gampang digugah kesadarannya lewat iklan yang memunculkan interest mereka: perempuan cantik.
Kesadaran mendalam akan pentingnya membuang sampah pada tempatnya belum tertanam betul. Kecuali memang ada tindak lanjut dari sekadar baliho “pemancing” in. Perlu ada evaluasi, apakah inti pesan ini tersampaikan dan betul-betul berdampak? Apakah ada dampak sampingan yang perlu diantisipasi?
PISAU 5: Mengapa pesan ini dibuat?
Untuk menyadarkan kepada warga pentingnya membuang sampah pada tempatnya.
(Dari kelima pisau ini diharapkan bisa menghasilkan saran dan tindak lanjut dalam menanggapi pesan ini. Misal: adakan diskusi dengan walikota soal iklan ini!)
***
Masih ada milyaran konten media yang bisa kita analisis dari kelima pisau ini. Mulai dari buku, poster, film, koran, lirik lagu, dan lain sebagainya. Akan sangat seru jika terbentuk diskusi-diskusi kecil—kemudian sama-sama menganalisa konten media dengan pisau-pisau tersebut. Kita bisa melakukannya dengan keluarga, teman-teman sepergaulan, dan lain sebagainya.
Tidak hanya menganalisis pesan media yang sudah dibuat, kelima pisau ini juga bermanfaat lho untuk menyusun pesan yang akan kita buat agar lebih efektif.
Kita yang nongkrong di warteg pun bisa kecil-kecilan melakukan praktik analisis media dengan pisau-pisau ini!
Makanya, saya namakan saja literasi media jenis ini sebagai “media literasi a la warteg”-- dengan harapan semua lapisan masyarakat terbiasa dengan proses analisis dalam bentuk yang sederhana.
Hehe. Jangan mikir ribet ah ketika dengar “literasi media”. Yuk, budayakan literasi media!
***
Sumber: Media Literacy for K-13 Classroom, oleh Frank Baker
Sumber foto dari sini.
Optimis Bandung Juara bersama @ridwankamil !
Jarang-jarang kita punya kandidat yang punya segudang prestasi, bukti konkret untuk perubahan. Masih kepikiran buat golput dan nyia-nyiain kesempatan langka ini? Katanya mau berubah! :D
#nitipmilihcalonterbaik #dilemawargaperbatasanyanggapunyahaksuara
Untuk Bandung Juara
Waktu kemaren jakarta pemilihan gubernur jujur aja gue antusias banget buat ngikutinnya. Gue kagum sama sosok jokowi yang bersahaja dan deket sama rakyat. Dalem hati pengen deh punya gubernur kaya gitu yang deket sama rakyatnya. Tapi pemilihan gubernur jabar kemaren gk ada calon yang bikin sreg bahkan sampe yang udah kepilih dan dilantik sekarang.
Waktu denger ridwan kamil bakalan jadi calon walikota bandung seneng banget, antusias yang kemaren sempet melanda sekarang balik lagi. Udah lama sih denger sosok ridwan kamil ini. Awalnya sering nonton acara solusi kamil. Kepikiran gimana ya kalau kang emil jadi walikota bandung. Eh, sekarang beneran nyalonin. Semangat banget buat nyari-nyari semua tentang kang emil ini.
Gue tau kang emil ini cuma manusia biasa, yang gk mungkin cuma dengan membalikan telapak tangan bisa langsung bikin bandung bebas dari semua masalah. Tapi semua masalah yang ada di bandung itu PR kita semua, kita kerja sama-sama untuk bangun bandung jadi lebih baik.
Mudah-mudahan masyarakat bandung cerdas dalam memilih tanggal 23 juni nanti. Bandung juara, kita mulai dari tanggal 23 nanti.
Jurus Jitu untuk Bandung Juara
Cita Cinta Bandung <3
Si Golput Mencari Cinta <3