RK Story
This has been quite a journey for me. I always have this soul of adventurer and that’s what this month had been for me, A journey full of wonder. Pada bulan ini dan beberapa hari terakhir bulan Juni lalu aku menghabiskan banyak waktu untuk berkeliling, menambah pengalaman, memanjangkan narasi perjuangan dan kepayahan. Selesai pada Ujian akhir aku langsung tancap gas dari kampus mengenakan carrier menuju Purwokerto, bukan untuk menaiki gunung Slamet yang memang megah itu namun lama-kelamaan keserakahan manusia terus menimbulkan pitak dan potek pada Slamet. Melainkan menuju Universitas Jendral Soedirman menghadiri acara IMMUN, atau orang-orang mengenalnya sebagai model united nation, uniknya aku menghadiri agenda ini bukan sebagai peserta seperti kebanyakan orang yang rela berpergian ke luar kota karena sebagai delegasi mewakili houses universitasnya masing-masing. Aku hadir justru sebagai supervisor acara, padahal apa yang aku tau tentang model united nation, dari dulu selalu tidak tertarik dengan sesuatu yang berbau reka-reka. Aku justru lebih menyenangi panasnya kongres KM UGM, berlarut-larutnya konsolidasi, bahkan memanas-manasi kongres KMFK-KMK itu sendiri, apalagi ketika dulu kita mahasiswa rapat 44 jam tanpa istirahat hanya untuk menilai LPJ-an pengurus ISMKI waktu itu. Tapi namanya kehendak Allah siapa sangka, kita hanya bisa berbaik sangka, disanalah aku, menghabiskan sekitar 3 hari di Purwokerto, tempat yang sebenarnya sudah sangat maju namun sering aku salah persepsikan karena guyonan kami di tiap pertemuan ISMKI.
Pasca perjalanan dan diskusi-diskusi seru di kota Purwokerto aku kembali ke Yogyakarta mengurusi satu dua hal dan serunya lagi, akhir pekan itu kami putuskan untuk menanjaki gunung Sumbing si Istimewa, para pendaki sering salah kaprah oleh Sumbing yang tidak seterkenal Merbabu ataupun Merapi, tapi elok tubuhnya Sumbing tak bisa ditandingi tanpa penilaian yang kompetitif. Selalu aku senangi kala mendaki gunung, karena yang perasaannya ialah nostalgik, padahal di Jambi tidak pernah ku daki gunung satupun, hanya bermain-main di hutan keluar masuk belukar.
Ketiga kalinya aku melakukan petualangan pada bulan ini ialah menuju Jember, katanya lomba, tapi aku hanya ingin sesuatu yang baru, seperti yang kukatakan, penambah pengalaman dan pemanjang narasi. Di Jember ini banyak sekali hal luar biasa yang ku nikmati, baru-baru kita sampai hotel sudah disambut kawan lama kita berdiskusi di kongres-kongres ISMKI.
Pengalaman terakhir di bulan ini ialah yang paling luar biasa, aku memang lebih ingin liburanku diisi hal-hal positif daripada hanya pulang dan menggua di rumah. Semester lalu liburanku diisi dengan keliling antar kota dan diskusi dengan tokoh-tokoh yang lebih dari layak untuk dijadikan mentor, sedangkan liburan semester ini ? aku menghabiskan 10 hari ku di Jakarta untuk berdiskusi dan sharing dengan lebih banyak warna tokoh lebih luas pengaruhnya atas diri sendiri. Contohnya hari pertama aku tiba langsung saja siangnya ku mengurus segala tetek bengek passport di kantor imigrasi Jakarta barat yang ternyata ada di kota tua, selalu kunikmati selepas dari kantor imigrasi untuk melihat-lihat lokasi tersebut, sorenya lepas saja kita merapat dalam diskusi negosiasi kerjasama ISMKI dan salah satu publisher terkenal yaitu Elsevier, uniknya mereka datang jauh-jauh dari Singapura ke Jakarta karena memang tidak berkantor di Indonesia, dan ISMKI bisa saja menjadi jalan istimewa untuk menyambungkan seluruh mahasiswa kedokteran se-Indonesia dengan akses literasi yang mumpuni, hari selanjutnya memang sedikit mengecewakan karena tidak jadi mengikuti workshop cancer management di RSCM karena bentrok jadwal dengan pertemuan di PB IDI, disana pula kita berdiskusi dengan ketua IDI dan ketua terpilih IDI, ada pula tim moratorium FK unsur IDI yang bahkan kita lanjutkan diskusi hingga dijalan. Kemudian hari-hari setelahnya diisi dengan kegiatan symposium pertemuan internist dalam Manajemen kanker, aku yang mahasiswa ini? tentu saja seorang yang beruntung karena mengikuti symposium di hotel JW Marriot ini secara cuma-cuma, jatah kuota mahasiswa yang tidak diambil orang kebanyakan. Selain itu kita sempatkan pula untuk berbincang tentang BPJS dengan Timboel Siregar, coordinator advokasi BPJS watch, padahal siangnya kita juga diskusi dengan dirut BPJS, prof. Fahmi, dan serta mengikuti rapat komisi X DPR RI mengenai RUU Dikdok. Those are kind of awe moments to me and make me feel a lot smaller than ever, but also more focused in achieving my goals. Hanya saja ada sedikit rasa yang harus diikhlaskan, karena ketidaktercapai nya usaha ku mengomandoi aksi mahasiswa kedokteran menuntut moratorium FK.
Dan lagi, mohon doanya karena akhir pekan ini kita akan berdiskusi mengenai disaster management di kuala lumpur, insyaallah aku akan berbicara mengenai GO-NGO success and failure in coordination for humanitarian response and disaster management.














