Hidup ini ibarat di persimpangan. Jalan mana yang mau dipilih, silakan pilih, tapi harus siap juga dengan risiko atas pilihan itu.
Robi Afrizan Saputra

seen from Sri Lanka
seen from Iraq

seen from Malaysia
seen from United States
seen from China

seen from Malaysia
seen from Finland
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from India

seen from China

seen from Malaysia

seen from United States
seen from France
seen from United States
seen from Bangladesh
Hidup ini ibarat di persimpangan. Jalan mana yang mau dipilih, silakan pilih, tapi harus siap juga dengan risiko atas pilihan itu.
Robi Afrizan Saputra
Dikit-Dikit Takut, Kenapa?
Enggak bakal mungkin rasanya impian yang besar itu langsung tercapai dengan sekejap. Hari ini bermimpi, besok langsung tercapai. Enggak deh.
Semua itu dimulai dari hal yang kecil. Dari langkah pertama. Kemudian berproses bertahun-tahun. Gagal dan bangkrut berkali-kali. Diremehkan, dipandang sebelah mata, dan disepelekan orang-orang.
Kita enggak akan bisa merasakan itu semua, kalau kita enggak memutuskan untuk memulainya.
Kalau kita enggak memulai, ya kita enggak akan sampai.
Kalau kita enggak memulai, kita enggak akan gagal dan juga enggak akan berhasil. Kita hanya berjalan di tempat tanpa kemajuan sama sekali. Kita hanya dikekang oleh pikiran-pikiran ketakutan.
Mau memulai, tapi takut gagal, takut enggak bisa, takut bangkrut, takut enggak ada yang beli, takut ini dan itu. Kalau ketakutan itu terus dipelihara, ya kita enggak akan berani-berani.
Takut itu biasa. Takut itu wajar. Tinggal bagaimana kita mengelola ketakutan itu. Tempatkan rasa takut itu pada tempatnya. Kalau mau berhasil, mau sukses, mau begini dan begitu. Lah, kenapa takut? Gagal, bangkrut, enggak ada yang beli, diremehkan orang dll.. Itu ‘kan bagian dari proses. Santai aja.
Kendalikan pikiranmu. Lawan ketakutan itu. Bermimpi yang besar. Awali dari yang kecil. Mulai sekarang juga.
Kalau kamu memulai hari ini, setahun ke depan pasti sudah punya banyak pengalaman. Kalau enggak memulai? Ya enggak akan ke mana-mana. Di situ-situ aja.
IG: @robiafrizan1
Menangislah, Lepaskan Semuanya
Menangis, bukan berarti kamu lemah. Bukan berarti kamu cengeng.
Menangis adalah cara untuk melepaskan beban, meringankan pundak, menambah kekuatan untuk menghadapi hari-hari setelahnya.
Menangislah, lepaskan semuanya. Air matamu yang jatuh adalah tanda bahwa kamu sedang butuh ketenangan. Semoga jatuhnya air matamu itu, bisa sedikit melegakanmu.
Menangislah, tidak perlu malu. Kunci kamarmu dan nyalakan sesuatu atau keluarlah dan berkendaralah. Tutup rapat helmmu dan jatuhkan air matamu dengan perlahan. Jika sedang hujan, berteriaklah, tak ada juga orang yang akan mendengarkanmu. Jatuhkan air matamu sederas air hujan. Pelan-pelan, semakin deras.
Menangislah, semoga setelah itu kamu sedikit lebih lega dan lebih kuat.
@robiafrizan1 | Tuban | 12 Februari 2020
Menikah dengan Ilmu
Semoga pernikahan kita adalah pernikahan karena dan dengan ilmu, bukan sekadar menikah karena budaya dan tradisi belaka. Sebab, banyak orang yang menikah, kebanyakan mereka menikah hanya karena merasa sudah di fasenya, sudah itu budaya dan tradisinya, tetapi tidak banyak ilmu dan bekal yang dibawanya.
Padahal pernikahan adalah akad yang agung, perjanjian yang kuat, yang Allah sebutkan sebagai mitsaqan ghaliza, sebuah ikatan yang tidak boleh dimain-mainkan. Muaranya harus satu; surga. Dan perjalanan menuju surga adalah perjalanan yang serius, perjalanan yang membutuhkan ilmu, terlebih sebelum melakukan amalan-amalan kebaikan. Sebab, Islam mengenal konsep al-ilmu qabla amal. Butuh ilmu sebelum beramal, termasuk ilmu pernikahan, ilmu rumah tangga, ilmu mendidik dsbnya.
Bagaimana caranya seorang laki-laki sebagai pemimpin tetapi tidak tahu ilmu bagaimana memimpin rumah tangga, tidak tahu bagaimana mendidik anak, dan parahnya tidak tahu bagaimana doa yang harus diucapkan saat malam pertama, tidak tahu ilmu-ilmu agama yang harus disampaikan dalam rangka mendidik istri dan anak-anaknya, tidak tahu bagaimana cara mengelola ego, meredam emosi, dan manajemen konflik di rumah tangga, tidak tahu bagaimana pengelolaan harta agar tetap barakah, thayyib dan halal dsbnya. Padahal posisi laki-laki di rumah tangga adalah sebagai qawwam. Sebagaimana Al-Quran surah An-Nisa’ ayat 34 sampaikan, ar-rijal qawwamuna 'alan-nisa'. Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan.
Bagaimana caranya seorang perempuan sebagai istri sekaligus ibu bagi anak-anaknya nanti, tetapi ia tidak tahu kewajiban-kewajibannya sebagai seorang istri, tidak bisa mengajarkan bacaan Al-Quran kepada anak-anaknya, tidak bisa mendidik anak dengan lemah lembut, tidak tahu bagaimana cara manajemen keuangan keluarga, tidak tahu bagaimana cara mengelola rumah tangga dsbnya. Padahal perempuan punya posisi penting di sebuah bangunan rumah tangga. Posisi ini, jika ia sadar, paham, dan tahu ilmunya, bisa mengantarkan ia masuk menuju pintu surga.
Pernikahan yang kita idamkan, semoga tidak sekadar pernikahan dengan riuh tepuk tangan orang-orang, namun pernikahan yang benar-benar menikah dengan dan karena ilmu, menikah di jalan Allah, dengan tujuan Allah, dan karena Allah. Sebab, menikah adalah ibadah dan Allah harus terus kita sertakan di setiap langkah. Hingga akhir hayat, hingga akhir kehidupan ini.
Semoga pernikahan kita adalah pernikahan yang barakah, yang malaikat mendoakannya, dan Allah mencurahkan kasih-sayangnya. Selamat memperjuangkannya!
Robi Afrizan Saputra IG: @robiafrizan1
Hasil
Hasil yang kita dapatkan akan berbanding lurus dengan usaha yang kita lakukan. Kemalasan yang terus kita pelihara tidak akan pernah menghantarkan kita pada cita-cita besar itu. Kemalasan hanya akan berujung pada penyesalan. Dan, penyesalan itu baru akan terasa di beberapa tahun yang akan datang, jika saat ini kita masih saja bermalas-malasan.
Robi Afrizan Saputra
Tolok Ukur Siap Menikah
Menikahlah saat kita benar-benar merasa sudah yakin, sudah mampu, dan sudah siap dengan segala halnya.
Sudah siap dengan risiko dan konsekuensi yang akan diterima. Sudah yakin akan menjadi seorang suami/ayah atau seorang istri/ibu. Sudah mampu untuk bertanggungjawab, mengelola ego, dan tidak lagi mementingkan diri sendiri. Sudah siap untuk menjadi pemimpin keluarga bagi laki-laki dengan segala kapasitas keilmuan yang harus terus ditingkatkan. Sudah siap untuk menjadi seorang istri yang akan dididik oleh seorang laki-laki bernama suami. Sudah siap untuk menjadi keluarga baru di tengah masyarakat; siap berbaur, siap beradaptasi.
Jangan menikah karena tergesa-gesa. Jangan menikah hanya karena dorongan nafsu belaka. Sebab, menikah tidaklah main-main. Alquran menyebutkannya sebagai mitsaqan ghaliza, perjanjian yang berat dan perjanjian itu langsung dengan Allaah.
Bagaimana tolok ukur kesiapan untuk menikah? Coba tanyakan pada diri sendiri dan dengarkan baik-baik suara hatimu yang berbicara. Apakah hatimu sudah merasa siap dan yakin atau malah sebaliknya?
IG: @robiafrizan1
Setiap orang akan menikah pada waktunya, tetapi tidak setiap orang yang serius mempersiapkan pernikahannya
Robi Afrizan Saputra
Memilih Tidak Berteriak
“Dek, di awal masa pernikahan kita nanti, aku ingin membuat satu kesepakatan bersamamu dan kesepakatan ini tidak akan pernah berakhir. Kesepakatan ini adalah kesepakatan selamanya yang aku dan kamu berkomitmen untuk terus melaksanakannya.”
“Dek, aku ingin rumah kita nanti adalah rumah tanpa teriakan. Jika nanti kita sedikit konflik atas sebab apapun itu, aku ingin kita menyelesaikannya bukan dengan emosi yang berapi-api apalagi dengan berteriak dan membentak-bentak. Aku ingin menyelesaikannya berdua denganmu dengan tenang, dengan mata yang saling tatap mendamaikan. Aku ingin menyelesaikannya denganmu dari hati ke hati, bukan dari mulut ke mulut.”
“Dek, aku ingin rumah kita nanti adalah rumah yang menenangkan. Saat anak-anak salah atau menjatuhkan piring dan pecah berderai di lantai rumah, aku ingin kita mendidiknya bukan dengan membentak apalagi berteriak memarahinya. Aku ingin kita mendidiknya dengan teladan dan kebijaksanaan agar dia bisa mengambil pelajaran atas apa yang telah dilakukannya.”
“Dek, aku ingin rumah kita nanti adalah rumah yang menenangkan, bukan rumah yang penuh dengan teriakan. Dek, aku ingin rumah kita nanti adalah rumah yang mendamaikan, bukan rumah yang penuh dengan bentakan. Sebab, tidak akan pernah selesai sebuah masalah jika kita melibatkan emosi dalam menyelesaikannya. Api yang membara hanya akan padam jika disiram dengan air kesejukan.”
--ini, akan kusampaikan padamu nanti di hari pertama pernikahan kita. Insya Allah.
Robi Afrizan Saputra IG: @robiafrizan1