Sore tadi sepulang dari mushola, kulihat kerumunan bapak-bapak di pertigaan gang sempit Jalan Pramuka Sari II. Mereka tampak antusias melihat yaa...apalagi kalau bukan batu akik dan mesin penggosoknya. Gambarannya persis seperti di komik ini.
Aku sendiri nggak asing dengan batu akik. Maklum, bapakku -Allahu yarham- dulunya juga pedagang cincin dan batu akik. Jauh sebelum ada tren gila batu akik yang eksesnya sampai merusak keseimbangan alam seperti sekarang.
Seingatku, penggemar batu akik yang sering berkunjung ke lapak bapak sebagian besar didominasi usia setengah baya ke atas. Sekarang? Jangan ditanya. Beberapa waktu lalu seorang kawan lama di kampung yang kini jadi guru SD mengunggah foto muridnya, gadis cilik yang memamerkan kalung liontin akik sebesar kepalan tangan bayi berumur satu minggu. Weleh-weleh, bahkan anak-anak di kampung pun terjangkit demam akik !
Tiba-tiba aku serasa melompat ke suatu ruangan, bertemu sesosok manusia aneh. Wajah dan postur tubuhnya mirip denganku, persis. Tapi gaya berpakaiannya bak ulama’ abad pertengahan. Sebut saja S (sosok aneh) dan D (diriku). Lalu dia mulai berceloteh.
S: Manusia oh manusia, gampang terbawa dengan tren sesaat. Dilambungkan oleh kehebohan, psikologi massa ternyata sampai sebegitunya ya..
D: Emangnya ada yang salah ya? Dalam dinamika sosial itu wajar aja kali, ada perubahan kaya gitu. Perubahan tren itu cuma satu dari perubahan sosial yang kecil-kecilan, ga banyak ngaruh kok.
S: Hoo, aku nggak bicara besar-kecilnya. Tapi ini indikator lho..maksudku bisa jadi pelajaran buat kita.
S: Banyak dari kita yang hobi ngikutin tren, padahal tren itu kan sifatnya musiman. Dia nggak abadi.
D: Yang abadi kan hanya Allah.
S: Heissy, aku nggak bicara ke ranah itu. Maksudnya yang stabil di setiap zaman lho. Gini, kenapa sih nggak pada heboh sama emas saja? Emas kan nilainya -mendekati stabil- kekal?
D: Lah, kalau nggak heboh bukan tren dong namanya. Lagipula kamu nggak baca sejarah apa? Demam emas itu juga pernah terjadi kok di awal abad ke-19. Waktu itu banyak pemburu-penambang emas menggila di Australia, Selandia Baru, Brasil, Kanada, Afrika Selatan, dan Amerika.
S: Oh iya, aku pernah baca di album Donal Bebek bekas dulu. Paman Gober itu bagian dari zaman itu ya.
D: Pfft, dasar bacaannya komik doang.
S: Komiknya bagus dan inspiratif kok. Coba baca Tintin, Asterix, Deni Manusia Ika...
D: Oke stop stop stop. Yaa, intinya sama saja. Keinginan manusia itu sangat berlebihan dan tak pernah ada habisnya. Keinginan untuk menguasai apapun.
S: Sepakat. Sekali lagi, buat aku ada pelajaran yang bisa diambil.
S: Apapun yang diciptakan Allah nggak ada yang sia-sia. Semuanya bernilai. Rabbanaa maa khalaqta haadzaa batila. Nah, akik jadi bernilai karena tren. Seperti dulu heboh ikan louhan atau tanaman hias. Emas bernilai karena kelangkaannya. Jadi semuanya bernilai. Cuma...
S: Kebanyakan manusia sibuk dengan nilai (value) yang remeh-temeh. Dan terpukau, sibuk mengejar nilai-nilai macam itu, lalu lalai pada nilai yang abadi.
D: Nilai yang abadi maksudnya nilai-nilai yang orientasinya akhirat kan?
D: Yaa, tapi itu kan secara umum. Kalau secara khusus, sebenarnya ikut-ikutan tren itu baik atau nggak?
S: Ibn Khaldun dalam Mukaddimahnya berkata bahwa kecenderungan mengikuti mode/tren mulai dari slogan, gaya busana, agama, dan perilaku itu merupakan ciri dari bangsa terjajah. Artinya ini bagian dari sikap inferior suatu bangsa. Dia mencontohkan ketika bangsa Andalusia (Muslim Spanyol) secara perlahan mengekor perilaku bangsa Galasia di segala bidang.
D: Bukankah akulturasi itu keniscayaan sosial, Sunnatullah? Berarti dia sifatnya netral dong.
S: Eit, yang kita bahas itu bukan akulturasi, tapi proses ikut-ikutan tren itu sendiri.
D: Oh iya iya. So, bisa jadi kemunduran umat Islam itu karena kita terlalu sering ikut-ikutan tren ya?
S: Good. Itu karena kita lupa pada nilai-nilai abadi, nilai-nilai keluhuran. Semakin ke sini semakin abai pada sikap empati, gotongroyong, persatuan, dan sifat altruistik. Itu hanya sebagian saja lho. Makanya ini yang dimaksud oleh cendekiawan Islam Muhammad Abduh “Al Islam mahjubun bil muslimin..” Islam yang mulia ini tersaput oleh keburukan pemeluknya yang lalai mengamalkan nilai-nilai di kehidupan nyata.
Perhatikan biografi orang-orang terbaik di dunia, muslim maupun non muslim. Pasti dalam kehidupan mereka ada nilai-nilai abadi yang mereka anut dan perjuangkan.
D: I see...Jadi gimana, kita perlu ikutan tren batu akik juga nggak?
S: Nggak usah lah. Dulu Bapak kita kan udah pernah jualan juga. Ada baiknya kita ciptakan tren-tren baru yang punya nilai abadi seperti yang kau bilang tadi.
S: Yaa, itu pekerjaan rumah kita bareng-bareng. Dah, balik ke ruangan kita masing-masing deh.
Plop! Mendadak aku terlonjak dari kursi. Di atas meja masih tergeletak terjemahan Mukaddimah Ibn Khaldun serta buku Filsafat Ilmu Perspektif Barat & Islam.
“Ya Allah, ini nih efek ketiduran sebelum nyelesein bacaan...”