Tamu Hati
Ruang hatiku berantakan, jauh rasanya dari kesan rapi. Alasannya, karena ada saja yang mampir sebagai tamu, kemudian terpisah tapi jejaknya sulit sekali dihilangkan. Merekat bagai jaringan kulit yang membungkus tulang belulang.
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from China

seen from United States
seen from Canada
seen from South Korea
seen from United States

seen from India
seen from Malaysia
seen from Netherlands
seen from Ukraine

seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from United States
seen from India
seen from France
seen from China
Tamu Hati
Ruang hatiku berantakan, jauh rasanya dari kesan rapi. Alasannya, karena ada saja yang mampir sebagai tamu, kemudian terpisah tapi jejaknya sulit sekali dihilangkan. Merekat bagai jaringan kulit yang membungkus tulang belulang.
Usually, people say:
"When yo're hurt, you must open up the wound to see it as a whole or it will get infected."
But it doesn't apply to everyone.
Getting heartbroken isn't a metaphor.
You merely can't see the wound. But the injury is real.
The problem is that even the patient doesn't know about the injury.
Because it doesn't bleed.
It was okay that you hadn't reached all your goals by the age of 24.
We as human being absolutely shouldn't be compare and judge by achievements.
A road is not just where we walk, but also where we move forward.
A road where we can't move forward is not a real road.
Sadly, a road is open to everyone, but not everyone can take the road.
Toxic Positivity: The Dark Side of Positive Vibes
Halo, apa kabar hatimu? Bagaimana isi ruang hatimu saat ini?
Oh ya, pernah dengar Toxic Positivity? Apa sih Toxic Positivity itu?
“Dapat didefinisikan sebagai generalisasi berlebihan atau sebuah keyakinan ekstrem bahwa seberapa pun beratnya masalah atau betapa sulitnya suatu situasi, seseorang (dipaksa) untuk tetap harus mempertahankan pola pikir positif.”
Do you know about German philosopher Immanuel Kant? People with toxic positivity appear without human authenticity.
You don't want people to perpetuate negative emotion but you want people to acknowledge negative emotion. It is alienating when people with toxic positivity make you feel like you are alone with all the negativity.
Jadi, salah satu bentuk toxic adalah menolak negativity itu sendiri. Menyangkal diri secara berlebihan, tanpa berusaha menerima bahwa kamu sedang tidak baik saja.
Ya, memang sulit membedakan positif mindset atau toxic positivity.
Namun, ketika kita sudah tidak dapat memahami atau mengetahui apa yang sedang dirasakan dan bahkan tidak bisa membedakan perasaanmu terhadap sebuah situasi atau kondisi, maka kita sedang tidak baik-baik saja.
Teruntuk kamu yang sedang berada di situasi sulit, jangan deny. Jangan terlalu sering berpura-pura seolah kamu baik-baik saja. It’s okay not to be okay. Memaksa berpikir positif saat keadaan sedang tidak baik-baik saja, justru akan menjadi racun dalam dirimu dan memperburuk rasa sakitmu.
Percayalah, semua orang memiliki batas toleransi rasa sakit yang berbeda dan yang tau batas luka kita adalah kita sendiri. Mereka tak berhak menilai bahwa kamu kurang sabar atau mengatakan “Sabar ya”, tiap kali kamu bercerita tentang masalahmu. Atau perkataan lain yang menyengat dan menyesakkan seperti:
“Jangan terlalu dipikirin. Jangan terlalu berpikir negatif. Berpikir positif aja. Hidup tuh dibawa santai aja, slow men!”
“Kamu masih lebih beruntung, masih banyak yang lebih parah dari itu. Itu mah masalah sepele.”
“Jangan menyerah. Jangan sedih. Senyumin aja!”
“Jangan cengeng dong, kayak gitu doang. Masih banyak orang lain yang punya masalah lebih berat.”
Atau berbagai perkataan lainnya yang seolah positif tapi menyesakkan dada.
Padahal, jika tidak bisa merasakan luka atau salah mendeteksi letak luka itu, lalu bagaimana cara untuk dapat menyembuhkan luka itu? Apalagi jika salah memberi obat, malah justru akan memperburuk luka.
Ingat, ceritamu adalah milikmu, bukan milik mereka. Masalahmu juga masalahmu. Mereka tak berhak merasa seolah paling memahami ceritamu kemudian menghakimu tanpa tau situasi dan perasaanmu yang sebenarnya.
Jadi, sebagai pendengar yang baik, jika tidak bisa memberi solusi atau respon yang tepat, setidaknya cobalah untuk berempati dengan masalah orang lain.
Dan teruntuk orang-orang yang berada di situasi sulit, cobalah minta seseorang untuk mendengarkan ceritamu. Mintalah pada orang yang benar-benar bisa memahami dan memberikan solusi atas masalahmu, bukan orang yang sok peduli atau hanya ingin sekadar tau (K.E.P.O), tanpa berniat ingin membantu. Atau mungkin jika sudah merasa tidak nyaman dan tak sanggup bertahan sendiri, cobalah konsultasi ke psikolog atau psikiater.
Jangan bertahan dengan luka yang membuatmu merasa tidak nyaman karena akan berakhir buruk. Jangan terbiasa dengan lemparan batu kecil, karena suatu saat nanti akan ada lemparan batu besar yang dapat menghancurkanmu.
Untuk melupakan masa lalu, kita harus menerima bahwa masa lalu itu telah berakhir. Sekeras apapun kita mencoba untuk mengingat, mengulang kembali, menyesali, menyalahkan diri sendiri dan bahkan meratapi dengan derasnya air mata, itu semua telah berakhir. Tak akan pernah bisa merubah apapun. Jadi terimalah masa lalumu dan melangkah ke depan dengan perasaan yang telah terbebas dari perangkap masa lalu. Tegakkan badanmu. Lepaskan beban masa lalumu karena masa lalu tak berhak menyakitimu lagi. Lalu, mulailah hidup yang baru …
Ruang Hati
Satu orang menderita karena terus berkorban, satunya menderita karena merasa bersalah, lainnya menderita karena merasa tidak dihargai, diabaikan atau bahkan diremehkan. Pada akhirnya, semua menderita karena merasa tidak bahagia, namun masih tetap memaksa untuk bertahan. Inilah toxic relationship. Jika kau terus berkata baik-baik saja pada setiap lemparan batu kecil dan memendam luka begitu lama, suatu hari nanti kau akan menghadapi batu besar yang akan menghancurkanmu.
@ruanghatimanusia
Teliti dalam hatimu
“Lihat Hatimu, kamu selalu bisa mengecek keadaan hatimu setiap saat. Saya selalu katakan ” Jangan perlakukan hatimu seperti tempat sampah”. Semua emosi buruk kau lemparkan kedalam hatimu.
“Aku benci orang ini; kau masukan kedalam hatimu. Aku benci hal ini; kau masukkan ke dalam hatimu. Semua kebencian kau masukkan kedalam hatimu, Apakah masih ada ruang untuk yang lain bagi hatimu? Akhirnya hatimu…
View On WordPress