aku berusaha untuk menulis lagi. karena jika harus menulis tangan, jujur saja, sulit bagiku. LOL.
Bukan karena merasa si paling melek jaman, tapi memang menulis dengan cara konvensional itu, mililihkin. alias melelahkan. jadi mari menulis (mengetik)
Seharian ini aku sangat amat tidak bersemangat. aku sedih, lebih tepatnya sedih yang mendalam. seperti ini rasanya dilangkahi adik sendiri _baca dilangkahi menikah. Dia adikku, bukan adik kandungku, tapi anak dari Om ku. belum resmi diumumkan tanggal pernikahannya. tapi yang jelas aku melihat storynya bersama dengan wanitanya, sedang memilih cincin. yang aku asumsikan, ya cicin pernikahan lah, khan sama-sama memilih di toko.
hati aku hancur, bukan aku tidak berbahagia. aku ingat betul, jaman dia masih kecil, aku yang menemani dia bermain, menggendongnya lalu menyuapi bahkan memandikannya. _ya, kami memang sedekat itu dulu. bahkan saat akhirnya keluargaku pindah ke Bekasi, adik (sepupuku yang belum tau apa-apa itu) menangis tak henti-henti. kami berpisah. lalu banyak hal terjadi, sehingga pada akhirnya keluarga tetap keluarga, keluarga ku dan keluarga Om ku kembali dekat, sampai akhirnya Om ku meninggal, dan Papa ku meninggal jua 2 tahun setelahnya.
aku bahagia, ya bahagia, karena adikku akan menikah, dengan orang yang jelas-jelas kulihat baik untuknya. dan aku yakin itu kehendak Tuhan. (karena mereka betul-betul sepadan), tapi diwaktu yang bersamaan aku juga terluka, aku kecewa, aku sedih, karena dilangkahi. aku pun semakin meratapi nasibku, mengapa aku sampai detik ini belum menemukan teman hidup.
dan kalau betul-betul kepalaku sedang korslet, aku akan bertanya_ pada Tuhan
Mengapa Engkau membiarkan aku dilangkahi?
mengapa aku belum menikah? apakah aku tidak pantas untuk dicintai?
apakah aku tidak pantas untuk menjadi seorang istri ?
Tuhan, aku sedih, aku terluka.
kenapa Tuhan jahat sama aku?
BTW besok adalah Kamis Putih dan lusa adalah Jumat Agung _hari kematian Tuhan Yesus.
aku sayang Tuhan Yesus, tapi karena dilangkahi ini, aku betul-betul kecewa.
ada rencana untuk tidak menghadiri pernikahan itu, karena aku belum punya pasangan, belum punya apa-apa. aku tidak sanggup menjawab pertanyakan kapan nyusul dan sebagainya.
aku tidak mau terluka lagi.
Selamat subuh, selamat sahur juga teman-teman. Doakan aku ya.