Cerpen: Sampai Kapan?
Pertanyaan ini seperti tidak ada ujungnya. Di ruang tunggu ini, kamu seolah-olah menantikan ia yang tidak kunjung datang. Kamu selalu menantikan kedatangannya yang tidak pernah memberikan kepastian. Tak sadar bahwa kamu terlalu lama memberi waktu pada penantianmu, sehingga kamu kehilangan kesempatan. Kamu kehilangan waktumu yang paling berharga untuk menemukan dan dipertemukan.
Sudah saatnya kamu beranjak dari ruang tunggu ini, dari penantian yang tidak pernah menemukan ujungnya. Barangkali ia memang tidak sedang menujumu. Barangkali ia memang tidak berniat untuk tinggal. Penantian panjang yang hanya memintamu menunggu, tetapi tidak pernah memastikan bahwa kelak ia memang untukmu. Ada saat di mana kamu harus memilih untuk berhenti menunggu. Bukan karena tidak ingin bertahan, namun keadaan yang melelahkan memaksamu beranjak dari ketidakpastian.
Sudah saatnya kamu perlu lebih peka melihat dari berbagai sudut pandang, untuk lebih mendengarkan apa yang sebetulnya hatimu inginkan. Bisa jadi di luar sana ada yang lebih pantas untuk kamu perjuangkan, tetapi hatimu tidak pernah memperhatikannya.
Hatimu tidak pernah melihat ke arahnya.
Potret Memori | Jakarta, 27 Desember 2020
















