Menjelang Pernikahan #1: Ayah dan Anak Perempuannya
Tulisan ini ditulis beberapa hari setelah Hari Ayah, sekaligus di saat aku sedang proses menuju pernikahan.
Saat orang-orang ramai mengunggah postingan di Hari Ayah, sedangkan aku masih sibuk berkutat pada pekerjaan, jadilah aku tidak mengunggah apapun di Hari Ayah. Namun, di kepalaku berputar memori manis dan kikuk tentangnya.
Ayah merupakan sosok yang sangat penyayang sekaligus over-protective terhadap anak perempuannya. Ingat sekali saat masa-masa sekolah, sejak kelas dua SD hingga aku menjadi mahasiswa semester dua, beliau yang mengantarkanku hingga depan sekolah, memastikan anak perempuannya benar-benar sekolah. Ayah juga yang sering melarang anak perempuannya ini ketika kecil, gak boleh main melebihi waktu maghrib, gak boleh main terlalu jauh, jangan nonton film ini, bahkan dulu pernah melarang untuk ikut camping.
Ayah melarang keras saya untuk Camping ke Curug Cibereum Sukabumi saat kelas 1 SMP.
“Ini lagi musim hujan, di sana dingin, nanti kamu tidur di mana?”
“Di sana banyak pacet, kan kamu takut banget sama pacet”
“Jalanan di sana terjal, kamu akan jalan jauh dengan bawa barang-barang yang berat, apa kamu sanggup?”
Begitulah kalimat-kalimat kekhawatiran ayah. Yang akhirnya aku bisa patahkan kekhawatiran ayah dengan pulang ke rumah dalam keadaan yang sehat wal ‘afiat. Sejak hari itu, beliau memberikan kepercayaan kepadaku bahwa aku mampu melakukan sesuatu.
Sebagai seorang ayah, beliau agaknya mengerti kalau anak perempuan punya kecenderungan untuk merasa cemburu. Saat kecil, saya kerap menunjukkan kecemburuan itu secara samar-samar. Apalagi aku adalah anak tengah dari empat bersaudara. Bagaimana rasanya jadi anak tengah? Ada sebuah film yang sungguh menggambarkan perasaan anak tengah dengan akurat: Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI). Di situ, anak tengah digambarkan sebagai sosok yang merasa dilupakan. Semua perhatian tersita pada si bungsu. Maka cemburu adalah responsnya demi mendapatkan kasih sayang.
Ayah paham pada kecenderungan itu, sehingga beliau sering berusaha memastikan agar saya tidak merasa dilupakan. Misalnya, saat aku baru memiliki adik, saat itu baru 7 tahun. Saat itu aku seneng punya adik, sekaligus cemburu. Senang karena punya adik yang lucu, chubby, menggemaskan. Cemburu karena semua perhatian ayah dan ibu dicurahkan untuk si adik. Karena kondisi ibu yang masih payah setelah melahirkan, ibu gak bisa mengantar jemput aku. Sejak hari itu, ayah yang mengambil alih tugas antar-jemput saya. Saat itu aku merasa hanya ayah yang bisa memahami aku.
Bahkan sampai aku sudah bekerja, beliau adalah orang yang masih selalu menjaga perasaanku. Suatu kali, saat pulang ke rumah orang tua (waktu itu masih ngekos), aku melihat foto-foto wisuda adik-adik saya yang lulus TK terpajang di ruang tamu. Hanya saja, foto keluarga saat saya wisuda tak ikut dipajang di situ. Sebetulnya, saya tidak menyadari apalagi menganggap itu masalah, sampai ayah melihatku dan berkata, "Ibu udah niat mau cetak foto keluarga pas wisuda Mba dulu. Nanti dipasang di sini juga."
Beliau seperti khawatirku akan merasa terlupakan karena foto wisuda saya tak dipajang di sana. Beliau menjaga perasaan saya. Padahal, saya sih tidak menganggap persoalan foto wisuda sepenting itu. Dan, di saat itulah saya tersadarkan bahwa saya adalah anak perempuan yang sangat beruntung, karena memiliki ayah seperti beliau.
Selama proses menuju pernikahan ini, aku melihat ayah seperti tidak rela melepas anak perempuannya kepada laki-laki asing. Apalagi saya baru mengenalnya setahun terakhir. Menjalani proses ta’aruf di masa pendemi memiliki tantangan tersendiri buatku. Setelah melewati fase nadzhor online dan sama-sama yakin mau lanjut ke fase berikutnya yaitu ta’aruf keluarga, kami diminta untuk berkenalan dengan keluarga calon.
Aku yakin Ayah merasakan hal yang aneh, untuk pertama kalinya ada laki-laki datang ke rumah dengan niat serius untuk proses menuju pernikahan dan aku menerima laki-laki tersebut. Ayah tau betul selama ini aku selalu menolak laki-laki yang datang dengan niat serius, beliau paham ketakutanku soal pernikahan. Beliau tau anak perempuannya ini sulit membuka hati untuk laki-laki. Ayah tau betul teman-temanku yang laki-laki ketika datang ke rumah itu hanya untuk silaturahim, bukan untuk serius menikahi putrinya. Hanya teman.
Ayahku merestui proses yang aku jalani ini. Namun aku paham, pasti berat buat Ayah, melepaskan anak perempuannya, menemui orang tua dari laki-laki tersebut, apakah putrinya diterima dengan baik? Apakah putrinya yakin dengan laki-laki tersebut? Aku melihat kekhawatirannya, sekaligus keyakinannya jika memang dia jodohku pasti akan dimudahkan segala prosesnya.
Terima kasih Ayah, sudah menjagaku hingga hari ini. Mempercayai bahwa aku mampu menjalani hidup ini dengan pilihanku. Terima kasih untuk segala cinta, do’a, pelukan, kecupan, nasihat. Aku selalu ingat rasanya digendong ayah ketika sakit, naik motor dengan kecepatan tinggi agar aku tidak terlambat masuk sekolah, berteduh di pinggir jalan karena lupa bawa jas hujan, disiapin susu dan sarapan sebelum berangkat sekolah, bahkan aku masih ingat rasanya dianterin ayah waktu pertama kali ngekos di depok.
Terima kasih Ayah sudah mempercayakanku untuk menjalani hidupku, merestui proses ini, mendo’akan yang terbaik. Terima kasih sudah menerima Ardhi dan keluarganya dengan baik. Terima kasih, Ayah.