aku berharap bisa bertemu dengan orang yang,
"ayo tunggu apalagi? kita buat karya itu bersama-sama!"
Show & Tell
Sweet Seals For You, Always
EXPECTATIONS
Mike Driver
No title available
will byers stan first human second
Lint Roller? I Barely Know Her
tumblr dot com
Monterey Bay Aquarium
$LAYYYTER

No title available

Kiana Khansmith

Jar Jar Binks Fan Club
NASA
occasionally subtle
Fai_Ryy
h

gracie abrams
I'd rather be in outer space 🛸
One Nice Bug Per Day
seen from Argentina

seen from United States
seen from Bangladesh

seen from Germany

seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye
seen from France

seen from Paraguay
seen from Ukraine

seen from Azerbaijan
seen from United States
seen from Canada

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Germany
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
@liyanshand
aku berharap bisa bertemu dengan orang yang,
"ayo tunggu apalagi? kita buat karya itu bersama-sama!"
Hidupnya harus lebih seru dari hidupku. Rencana dia harus lebih rapi dari rencanaku. Arah hidupnya lebih bold daripada arah hidupku. dan dia menarikku ke dalam hidupnya sebagai lawan main, bukan sebagai pemeran pembantu atau belakang layar. Dia percaya aku bisa, dia menuntunku dan aku menghormati cara melihat diriku.
Kita tinggal bersama supaya bisa mewujudkan mimpi bersama-sama, membicarakan ide dan eksekusi. membuat urusan kemana-mana lebih mudah jika kita sudah satu paket dan urusan ranjang ada di urutan seratus sekian.
When yh?
aku mengambil resiko dengan menuliskan namamu di sini. seorang pemuda yang tatapan matanya mondar-mandir di kepalaku. aku sendiri heran, apa urusannya dia ada di sini?
aku minta dia pergi, tapi dia semakin lekat dalam pikiranku. tiba-tiba hadir senyumnya yang tengil berkelebat. aduh...kenapa aku ingin lihat lagi?
siapa kamu sebenarnya?
apakah tidak berbahaya jika dia terus ada di pikiranku?, oh ya jelas berbahaya. Tidak seharusnya dia ada di sini. Aku mulai mencari pembenaran. Oke, pembenarannya adalah
Aku hanya sedang melihat refleksi diriku di dalam dirinya. sehingga yang aku lihat sebetulnya bukan diri aslinya, melainkan hanya sekelebat diriku saja.
Aku sedang bosan.
(Ini yang paling absurd) Dia juga melihat dengan cara yang sama (no.1)
Aku tidak ingin memikirkan yang ketiga, itu sangat jauh dari kontrolku. jadi lebih baik aku kembali ke nomor 1 dan 2. solusinya adalah, memperbanyak kegiatan yang menyenangkan hatiku, maksudnya sih supaya terlupakan.
oh banyak sekali kegiatanku. tapi, kenapa aku masih berharap aku bisa melakukan kegiatan bersama dia?, seolah aku butuh dia?, ada apa ini sebenarnya?
oke, mungkin aku hanya perlu duduk dengan pikiran dan perasaan ini. aku terlalu menganggap ini adalah 'gangguan', karena seharusnya ini tidak terjadi. aku pikir aku sudah cukup tau diri. tapi, tunggu dulu. Apakah orang lain juga pernah merasakan hal ini?.
tampan?. tidak, tapi manis, cukup fotogenic.
rapi?. bukan model rapi yang necis, dia bisa membawa diri, tapi seperti manusia umumnya saja, aku pernah bertemu dengannya dengan kaos oblong, celana pendek. not a best appearance, tapi cukup kelihatan 'manusia'.
lucu?, mungkin..dia cukup pendiam di sekitarku. dan banyak mencari spot untuk sendirian. dan merokok. dia bisa tersenyum dengan sangat lebar, dan itu manis. (aduh)
pintar?. kelihatannya pintar, tapi bukan pintar yang 'pintar'...dia kreatif.
tidak ada hal yang membuat dia secara signifikan bisa bertengger dalam kepalaku berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. aku hanya suka cara dia menatap. dalam dan jauh, seolah dia sudah tau apa isi pikiranku. sejujurnya, agak mengganggu.
itulah yang membuat tatapan matanya menginap dalam kepalaku, sampai pusing aku dibuatnya. kuakui aku lemah dengan tatapan mata.
aku terlalu banyak melihat dari tatapan mata, cukup hafal dengan tatapan-tatapan mata yang pernah aku alami. semacam, "kalau tatapan matanya begini artinya orangnya seperti ini". tapi banyak juga tatapan mata yang tidak berisi apa-apa. tidak ada tarikan, tidak ada dorongan, tidak ada kesan, datar saja.
kembali lagi kepada dia yang tatapan matanya sulit aku lupakan (dan senyumnya). aku mendoakanmu sehat dan sukses, semua cita-cita dan harapanmu tercapai. jika hadir halang dan rintangan di depanmu, semoga disertai juga dengan kemudahan, dan dirimu juga mudah untuk menangkap kemudahan itu.
dan terakhir, semoga kamu bisa jadi Sutradara yang hebat dan sukses. See you on top.
Masa kabungku mencapai hilir.
Aku tahu sejak aku tak pandai lagi menjalin kata dalam nuansa duka.
Emosiku tidak lagi mencari bentuk bahasa, ia sudah melewati tahap yang bisa diwakili bahasa.
Orang bilang, pulih adalah muara kutiba. Tadinya kutak percaya. Tapi riaknya menyentuh kakiku. Dinginnya tak lagi menggigilkanku.
Orang bilang, jangan merasa bersalah karena beban kini terasa lebih ringan, pulih memang sering kali hening rupanya.
Aku bilang, aku hanya cemas penaku kehilangan fungsinya.
Kamu bilang, aku bisa menulis ulang semua warna, termasuk hijau mangga muda yang ribuan gradasinya.
Asik Sendiri
Kadang asik sendiri memang pilihan yang tepat,
Beberapa tahun ini aku selalu bertanya-tanya,
"kenapa ya rasanya aku selalu sendirian? sering merasa tidak nyambung dengan sebagian orang?, apakah memang sebagian besar orang-pada umumnya-juga merasakan hal yang sama?"
Kita selalu mengelu-elu kan jargon, "just be yourself", "just be you.",, "be unique."
tapi tidak ada yang memberi tahu bahwa untuk menuju kesana, kita harus siap untuk merasa kesepian.
circle semakin kecil, sangat kecil. kita hanya akan in touch dengan 1-2 orang yang itu juga biasanya sama-sama sibuknya.
Kita berharap dengan "just be yourself", orang akan lebih mudah approach, lebih banyak yang akan berada di jalan yang sama dengan kita, karena kita nyaman dan menjadi diri kita sendiri. tapi nyatanya tidak seperti itu.
Semoga kita akan didekatkan dengan orang-orang yang asik dengan dunia yang sama, frekuensi yang sama, tidak menganggap kita saingan dan tidak memanfaatkan keunikan yang kita punya untuk keuntungan dirinya.
sembari itu, kita bisa asik sendiri dulu...
“Why struggle to open a door between us when the whole wall is an illusion?”
— Rumi
Kenapa Puasa?
Katanya
'Urip mung mampir ngombe'
Tapi kok ada waktu
dimana aku ngombe aja gaboleh.
Ternyata urip bukan cuma
soal ngombe nya saja.
Tapi tentang tidak ngombe nya.
Antara boleh dan tidak bolehnya
ada jarak.
Menyadari ada jarak
antara keduanya.
Menyadari kita perlu gas dan
perlu rem untuk ngombe.
Jarak itu perlu.
Coba kalau tulisan ini semuanya
berdempetan dan melekat
satu sama lain, susah ya bacanya.
Kalau dalam desain elementer
ada ruang positif & ruang negatif.
Kalau dalam musik, ada ritme.
Kalau dalam tubuh dan pikiran, ada puasa.
Iya, ya. Ibarat aku dateng ke cafe punya
teman, kita minta coklat panas,
setiap gelasmu hampir kosong di isi lagi. Enak sih..
Tapi apa perlu diminum semuanya
dalam satu waktu?
Aku pastimya bilang, 'nanti lagi aja, ya. '
Adanya jarak itu supaya aku meyadari,
betapa sama pentingnya
antara yang ada dan yang tidak,
yang isi dan kosong,
kenyang dan lapar, senang dan sedih.
Dan ternyata aku itu tidak
terlalu melekat dan bergantung
pada masing-masing sisinya.
"Aku pasti tidak bisa puasa, aku terbiasa kenyang"
Itu kata pikiranku. Bukan kata tubuhku.
Apakah aku sudah paling tau tentang tubuhku sendiri?
Kira-kira siapa yang paling
amat sangat kenal dengan
tubuhku?
Dia jugalah yang memintaku puasa.
-braindump 2/355
“Forgive me if I don’t talk much at times. It’s loud enough in my head.”
— Unknown
Lagi minus-minusnya isi dompet terus ada quotes lewat yang tulisannya begini;
'Kita dekat sama yang punya toko roti aja bisa kenyang makan roti terus apalagi kalo kita dekat sama yang punya dunia'
Kalo dipikir-pikir awal bulan ini gajian nyisa cuma 50ribu dihari yang sama setelah gw terima gaji dan ya Alhamdulillah... Alhamdulillah Allah kasih rezeki dari arah yang Dia kehendaki sampai hampir dipenghujung bulan maret ini gw baru inget kalo bulan ini gw tuh cuma pegang uang 50ribu. Kalo dikalkulasi gaji gw mungkin gak cukup kalo harus back up semua kebutuhan rumah tapi balik lagi gw tuh miskin gak punya kuasa apa-apa yang Maha Kaya dan punya segalanya itu Allah. Semoga Allah senantiasa mencukupkan bahkan memberi lebih khususnya untuk kita si sandwich generation ini.
Persepsi Ramadan
Ramadhan waktu SD rasanya seru, karena sekolah jadi pulang awal. Tidak sabar pakai baju baru waktu lebaran dan libur panjang.
Ramadhan waktu SMP lebih seru, karena tiap berbuka ibu sering bikin es. Tidak sabar tiap lebaran bertemu dengan saudara sepantaran dan dapat THR.
Ramadhan waktu SMA menyenangkan, karena punya teman ngabuburit. Tidak sabar tiap lebaran makan makan besar dan makan berbagai macam kukis.
Ramadhan waktu kuliah terasa hambar, jauh dari rumah dan punya agendanya masing2. Terasa mulai membosankan dan berat.
Ramadhan waktu awal bekerja, tidak jauh beda, hampir tidak ada excitement,skeptis. Hanya berharap untuk cepat libur saja.
Ramadhan saat ini. Menyadari bahwa kemarin ramadhan terasa membosankan, karena aku berjangkar dari apa yang bisa kulihat, kudengar, kukecap, kuraba, kuhirup. Ketika ada unsur yang hilang, Ramadhan terasa tidak ada artinya. 'Sama saja seperti bulan lainnya, hanya lapar dan haus saja'. Tapi, ternyata bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Aku bukan sedang menghadapi tubuhku yang lapar, haus dan lemas. Tapi menghadapi pikiranku. Saat ini lebih sulit menahan emosi ketimbang menahan lapar. Lebih sulit menahan apa yang ada dalam pikiranku, tentang oranglain, tentang pekerjaanku, tentang diriku. Berlipat lipat menjadi lebih sulit karena disaat yang bersamaan aku pun menahan haus, lapar dan lemas. Puasa bukan hanya memberi jarak antar makan dan minum, tetapi memberi jarak antara pikiran ku dengan diriku. Mengijinkan diriku untuk menonton pikiranku sendiri.
Kalau idulfitri artinya memang 'kembali berbuka' dan 'kembali fitri', bagiku esensinya bukan kembali ke 0. Tapi bagaimana diriku akhirnya kembali terbuka pada fitrah manusia yang dapat menyeimbangkan antara pikiran, tubuh dan jiwa.
Aku pikir selama ini aku sudah cukup paham dengan diriku sendiri. Seberapa batas tubuh menahan haus dan lapar. Tapi ternyata bukan hanya itu, tapi, seberapa jauh aku bisa mengendalikan diriku sendiri, seberapa jauh aku punya kontrol penuh atas pikiranku sendiri.
Setidaknya, ini bagiku, mungkin orang lain punya pengalaman dan persepsi yang berbeda.
Hidup ini indah, jika kita pandai menghubungkan titik-titik yang terjadi pada hidup kita. Selalu ada pelajaran dari tiap peristiwa, apa kamu mampu untuk memahaminya?
Cahaya
Realitas di kepala kita tercipta dari kesalahpahaman yang dipilih.
Kita sangat penuh dengan asumsi dan prediksi. Mencoba bekerjasama dengan hukum alam yang penuh dengan ketidakpastian.
Kita hanya ingin melihat apa yang ingin kita lihat.
Kita hanya ingin mendengar apa yang ingin kita dengar.
Sekalipun itu sebuah kesalahan
Sekalipun itu sebuah kebohongan
Selama itu mempertemukan kita pada ekspektasi dan harapan.
Dimana fakta? Dimana realitas?.
Ketidaktahuan dan ketidakpastian sangat menakutkan bagi ego.
Maka ego memilih untuk meyakinkan dirinya.
Mencari validasi, mencari berbagai bukti untuk semua salah paham yang dialami.
Tidak ingin mundur tapi tak bisa lepas dari bayangan diri yang gelap. Yang terbalut dengan salah paham.
Maka kita mencari cahaya. lebih mudah untuk mempercayai sesuatu begitu saja, dibandingkan bertanya "apa itu?" Ke dalam diri. Karena itu akan merobek robek semua salah paham yang telah dirajut indah oleh ego.
Ego tidak peduli apakah itu benar dan benar yang benar. Karena baginya semua benar, untuk bertahan hidup.
Lihat cahaya yang kamu pilih untuk menerangi dirimu.
Semakin terang cahaya di depanmu, semakin gelap pula bayangan di belakangmu.
2024
Ujian (?)
Allah menguji kita lewat apa yang paling-paling-paling melekat dan yang paling kita cintai. Seolah Dia memang sedang menguji rasa cinta kita padaNya.
Tidak ada yang melarang manusia untuk mencintai dan saling mencinta,
Tapi hati-hatilah dalam mencintai dan meletakkan cinta.
Ketika ujian hidup terasa begitu berat, tinggal kita tengok, apa yang akhir-akhir ini paling kita cintai?. Apa yang sangat melekat dengan diri sehingga kita amat sangat takut kehilangan?.
Uang?
Jabatan?
Kekasih?
Keluarga?
Istri?
Suami?
Harga diri?
Reputasi?
Menjadi masuk akal ketika kita membandingkan, suatu hal atau sesuatu, yang kita tidak melekat padanya, menjadikannya seapa adanya tanpa ada lekat kepemilikan, lekat kontrol, ketika itu semua pergi, tidak akan terasa terlalu berat melaluinya. Bukan jadi sebuah ujian. Just, let it be.
Bayangkan kita tidak melekat pada apapun, sehingga, ketika masalah datang, itu tidak akan terasa berat, tidak berlarut.
Tak ada ujian.
Tapi apakah itu mungkin?
Terlalu melekat pada ketidakmelekatan pun bisa saja menyelinap.
Yah, lagipula, kita hanyalah manusia.
Mencintai menjadi fitrah manusia, apalagi, mencintai dunia.
Tapi, Allah juga ingin mengajarkan bagaimana melepas dunia dan ingin mengajarkan makna cinta yang lebih besar. Mengingatkan kita lewat apa yg paling melekat dan paling kita cintai, karena disitulah letak seluruh perhatian kita.
Ini hanya persinggahan, mampir saja, mendapat kesempatan nikmat dunia. Karena setelah ini kita semua akan kembali padaNya. Buat hidup sebermakna dan sebermanfaat mungkin untuk sekitar.
Seperti judul lagu,
'Jalan yang jauh, Jangan lupa pulang'
🇵🇸🇵🇸🇵🇸
Manusia
Manusia tempatnya salah, dan kebenaran hanya milik Allah. tidak mengakui kesalahan seperti Landak tidak mengakui durinya, Jerapah tidak mau mengakui leher panjangnya. Artinya, tidak mengakui kesalahannya, sama saja tidak mengakui dirinya sebagai manusia. Otomatis, sudah merendahkan harga dirinya sendiri. Ditambah merasa paling benar, yang mana kebenaran hanyalah kuasa Allah. Sudah tidak merasa jadi manusia, mengaku-ngaku memiliki kebenaran. Entah ada dimana nuraninya. Barangkali sudah dilindas oleh egonya sendiri.
Jika tidak ikhlas, beranikan. Jika tidak berani, ikhlaskan.
Harus diingat,
tidak semua orang punya frekuensi yang sama soal rencana.
Jadi hati-hati dengan siapa dirimu membagi rencana, membagi mimpi-mimpimu. Bisa jadi buatmu memang hanya angan yang dilepas, tapi untuk orang lain itulah harapannya satu-satunya.
Karena yang berharap banyak bisa kecewa berat, yang tidak berharap akan bersyukur jika rencanamu gagal.
Share your plans with the right people.