Masa kabungku mencapai hilir.
Aku tahu sejak aku tak pandai lagi menjalin kata dalam nuansa duka.
Emosiku tidak lagi mencari bentuk bahasa, ia sudah melewati tahap yang bisa diwakili bahasa.
Orang bilang, pulih adalah muara kutiba. Tadinya kutak percaya. Tapi riaknya menyentuh kakiku. Dinginnya tak lagi menggigilkanku.
Orang bilang, jangan merasa bersalah karena beban kini terasa lebih ringan, pulih memang sering kali hening rupanya.
Aku bilang, aku hanya cemas penaku kehilangan fungsinya.
Kamu bilang, aku bisa menulis ulang semua warna, termasuk hijau mangga muda yang ribuan gradasinya.










