Bagaimana rasanya menjadi yang mati dan membicarakan yang hidup? Tabu, begitulah kira-kira maksud yang disampaikan oleh penulis dalam cerita pendeknya yang berjudul Rumah Duka. Rumah Duka menceritakan sebuah Rumah Duka bernomor ruangan 19 dengan penghuni seorang wanita bernama Willa, seorang pria tua bernama Doc dan seorang anak kecil bernama Macklemore. Mereka terjebak dalam situasi menanti sebuah Bus Penjemput yang seharusnya mengangkut mereka ke tujuan akhir kehidupan. Selama penantian, mereka bertemu beberapa orang meninggal lainnya yang juga menanti Bus Penjemput di Rumah Duka. Banyak hal-hal dan pelajaran penting tentang kehidupan yang disampaikan penulis melalui tokoh-tokoh pengisi Rumah Duka.
Dibuka dengan paragraf yang membuat penasaran dan kalimat pertama yang menghasilkan banyak tanya di benak pembaca: “Willa memainkan peran penting.” Siapa itu Willa? Peran apa yang dimainkannya? Apa perannya dalam cerita pendek Rumah Duka ini? Kemudian, dalam paragraf selanjutnya pun, penulis tetap menggiring pembaca untuk membaca ceritanya sampai tuntas melalui alur cerita yang jelas.
Dalam cerpen ini, terdapat tiga tokoh utama: Willa, Macklemore, dan Doc. Adapula beberapa tokoh tambahan lainnya yang silih berganti, muncul dan pergi. Karakter ketiga tokoh utamanya digambarkan melalui dialog antar tokoh dan narasi. Melalui narasinya juga, penulis berhasil memperkenalkan tokoh-tokoh yang ada dalam cerita ini sebagai orang-orang yang sudah meninggal atau bisa dikatakan sebagai hantu. Hanya ada sedikit kekurangan yakni penamaan karakter yang agak rancu. Penulis menggunakan nama Willa sebagai salah satu tokoh dalam ceritanya, di mana umumnya nama tersebut dapat menjadi nama untuk tokoh laki-laki maupun perempuan. Tapi, lagi-lagi, narasi yang dilakukan penulis dalam cerpen ini mampu menutupi kekurangannya tersebut.
Untuk ide cerita, penulis dengan brillian mampu menjadikan sebuah rumah duka menjadi latar cerita, mengingat rumah duka jarang digunakan sebagai latar tempat dalam setingan cerita. Sayangnya, penulis belum terlalu jelas menggambarkan latar waktu dalam ceritanya. Pada satu poin disebutkan bahwa baju yang dikenakan tokoh Doc sudah sangat kuno, yang bisa berarti tokoh berasal dari masa yang sangat lama. Tapi, ada suatu dialog yang menjelaskan bahwa umur mereka sebagai makhluk yang mati tidak lebih lama dari satu bulan. Sehingga ada ketidakharmonisan mengenai keterangan atau latar waktu yang dipakai.
Cerita ditutup dengan pemikiran dua orang tokoh yang berargumen tentang bagaimana mereka mati dan kenapa sampai sekarang nama mereka tidak terdaftar sebagai penumpang Bus Penjemput, yang kemudian, sekali lagi memunculkan tanya dalam benak pembaca.
Jadi, siapakah tiga tokoh utama dalam cerita ini? Apakah mereka merupakan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari Ayah, Ibu dan Anak? Atau justru mereka adalah orang asing bagi satu sama lain? Temukan jawabannya dalam cerpen Rumah Duka. (lf)
Baca cerita lengkapnya di : http://www.storial.co/book/rumah-duka