Itulah (maaf diawali dengan kata itulah, katanya menyalahi ketentuan berbahasa yang baik dalam menulis, yang pernah ditekankan seorang dosen bahasa saat ia didaulat jadi pemateri tentang teknik-teknik yang baik dalam menulis. Mengenai penjelasannya saya kurang pasti, tapi ada keterangan seperti itu dalam mengawali sebuah paragraf tulisan), itulah nomor rumah yang sekarang, aku tinggal di rumah nomor itu.
Rumah berlantai dua, sebenarnya mau dibikin tiga lantai. Rumah yang sudah berusia lebih dari dua puluh lima tahun itu dulunya dibangun atas biaya jerih payah ayah Somat selama masih bekerja sebagai pengemudi kendaraan. Tidak akan aku ceritakan di mana ayah dulu bekerja. Aku ceritakan saja bagaimana di sini ayah meninggal dan bertepatan dengan hari apa hari saat meninggalnya. Dan itu nanti diceritakannya. Semoga ada saat yang tepat untuk bercerita tentangnya.
Di Blok C No. 199 di Cipagalo rumah itu. Salah satu tempat di begitu luasnya daerah yang bernama Buah batu. Yaaa, sejak dulu tau-nya kalau daerah Buah batu itu hanya sekitaran Karapitan dan jalan ke Terusan Buah batu Bojongsoang yang tengah-tengahnya dipotong Perempatan By-Pass dari arah Cimahi ke Cileunyi-Cibiru.
Aku tidak akan ceritakan nama kompleks perumahannya, cukup Cipagalo C-199 aja. Ini bukan akan menjadi sebuah kekhawatiran yang terbersit di benak mengenai apa yang akan terjadi nanti (meski ini hanya hal yang berlebihan jika dipikirkan lebih panjang dan membosankan).
Rumah di kompleks perumahan itu selalu dirundung masalah. Bukan karena si pemilik masih menunggak biaya cicilan pembayarannya, walau hal itu juga salah satu dari masalah juga.
Tapi juga salah satu anak dari penghuni. Amamiya Arabia, nama anak lelaki itu. Sejak dulu takpernah bisa lepas dari rundungan. Orangtuanya bukan enggan melaporkan atau tidak sayang pada anaknya itu. Tapi bicara tentang perundungan dan berakibat menjadi viral kelak jika bermedia sosial menyatakan kekecewaannya dalam sebuah interaksi masyarakat. Khususnya dalam lingkungan anak-anak. Dan butuh keberanian untuk bisa mendekati pihak berwajib dalam menguatkan apa yang terjadi.
Di sebuah masjid di saat datang waktu sholat. Arabia dimaki anak lain yang usianya tidak setua dirinya. Kata kasar yang seharusnya tidak keluar dari mulut seorang anak yang sering datang ke tempat ibadah.
Arabia sudah terlalu sering mendapat perlakuan itu. Sang ayah selalu memberi wejangan yang sama. Tetap bertahan dalam sabar dan selalu berdzikir. Itu tidak dianggap solusi bagi Arabia. Ia bahkan jadi membenci Somat Solahudin. Ayahnya tidak banyak bertindak untuknya. Dia tidak diberi pembelaan.
Apa yang harus dilakukan? Dulu pernah, Somat datang pada bapaknya si perundung dan bicara baik-baik. Apa hasil, tidak ada. Yang ada hanya emosi di bapak itu. Masalah dulu adalah masalah Arabia dengan adik si perundung. Kekhawatiran Somat ialah Arabia kalap dan adik si perundung jadi bulan-bulanan.
Sekarang yang jadi hitam di benak Somat ialah, kakak si perundung yang sepertinya menyatakan perang dingin itu pada Arabia. Karena buah laporan Somat pada si bapak perundung. Perihal adiknya yang di awal jadi titik nol perjalanan Arabia untuk menjadi seorang pria di lingkungan rumahnya.
Somat merasa bersalah sampai saat ini.













