Kepergianmu adalah pertemuanku dengan kedewasaan.
Apa-apa yang membuatku terluka, aku racik mereka dalam adukan kenangan yang berdusta. Entah mengapa. Kisah cinta yang berakhiran pahit, selalu memicu diri agar tegar melawan sakit.
Tegar, teguh. Hujan badaipun aku lawan mereka dengan kukuh. Banjir yang membasahi pipipun aku taklukan dengan luluh. Mereka patuh.
Dan aku tidak terjatuh.
—Arief Aumar Purwanto











