Ini edisi dibuang sayang.
cerita yang sudah mengendap di memori netbook bertahun-tahun. Sebenarnya hanya cerita pembuka yang dulu aku bayangkan akan jadi wah, megah dan bersimbah darah juga air mata. ok, abaikan,
*Plagiarism is very strictly prohibited*
Berpasang-pasang mata menatap lurus peta yang digelar di meja utama balai agung kerajaan Astaroshe. Meja berukuran lebih dari dua meter yang terbuat dari marmer itu menyajikan peta kawasan Astaroshe dan kerajaan Ragnard yang sebenarnya masih bersaudara, kerajaan Ragnard berdiri pada masa Astaroshe V. Sang raja memiliki dua putra dari dua istri yang berbeda, hal itu menimbulkan kekacauan karena dua putra tersebut lahir pada saat yang bersamaan. Tentu saja, anak sang ratu lah yang akan menjadi putra mahkota dan kelak akan memimpin Astaroshe. Tapi, anak dari selir Astaroshe V, Rune, juga menginginkan kekuasan atas Astaroshe dengan menjadi Putra Mahkota. Hal itu menimbulkan perdebatan dan membuat Rune melawan Aslan, putra mahkota Astaroshe yang sah. Kegagalan Rune membuatnya bersumpah akan melawan keturunan Aslan dan menguasai Astaroshe.
Salah satu yang hadir di ruangan itu adalah King Rex, keturunan ke sepuluh Astaroshe, pria berumur empat puluh delapan tahun itu memakai pakaian kebesarannya, jubah berwarna merah tuanya dihiasi ratusan manik-manik yang membuatnya terlihat anggun sekaligus gagah. Raut wajahnya terlihat serius dan sesekali dia mengangguk mendengar penjelasan panglima perang Astaroshe, Randall. Sementara di sebelah kanan dan kirinya duduk berturut-turut para kesatria, tepatnya lima kesatria yang juga keponakan King Rex.
Dari yang paling ujung sebelah kanan, duduk Trent, anak sulung adik King Rex. Wajahnya terlihat sangat tertarik dengan penjelasan Randall. Senyuman tidak pernah lepas dari wajahnya yang ramah itu, rambut panjangnya diikat tinggi, sementara di telinga kanannya terdapat anting dengan batu safir yang berpendar ditempa cahaya matahari yang masuk melalui lubang angin di atas ruangan megah yang berfungsi sebagai ruang pertemuan darurat.
“Izinkan kami ikut dalam pasukan utama, Yang Mulia Raja.” Druv buka suara. Dari kelima kesatria yang duduk berdampingan, Druv memang memiliki sifat yang berapi-api dan berani. Alasannya mengatakan hal barusan, karena menurut skenario Randall hanya Ramiel lah yang dimasukkan ke dalam pasukan utama yang berada di garis depan saat Astaroshe dan Ragnard bertempur satu minggu lagi.
Di sisi lain, Ramiel menatap kosong sebuah titik di dalam peta. Titik itu diberi nama Zero Ground, tempat dimana dia akan meregang nyawa untuk kejayaan Astaroshe. Zero Ground adalah padang luas yang berada di antara Ragnard dan Astaroshe. Tempat dua kerajaan bersepakat akan menggelar perang besar, untuk menyelesaikan pertikaian yang berlangsung selama ratusan tahun.