Sang Murabbi : KH. Hilmi Aminuddin
Sang Muassis Dakwah telah pergi, namun ilmu dan manfaatnya terus mengalir hingga generasi ini.
Seorang Santri Tebu Ireng yang memiliki visi jauh kedepan, Pelajar Universitas Madinah yang memberikan keteladanan berdakwah, Seorang guru, ulama yang meneruskan misi kenabian pada satu masa.
Muslim Negarawan
KH. Hilmi adalah seorang Muslim Negarawan. Tentu tak sesempit dalam pengertian "Muslim Negarawan" nya KAMMI. Beliau lebih daripada itu.
Seperti Muhammad Natsir, KH. Agus Salim, dan para Founding Fathers Republik ini, apa yang beliau lakukan adalah praktek secara langsung atas keislaman yang menyatu dengan nilai-nilai kebangsaan. Islam dan Kebangsaan adalah diskursus dan ijtihad ulama terdahulu. Untuk generasi hari, hindari perdebatan tentang hal itu dan mulai fokus untuk merawatnya.
Dr. Irwan Prayitno, salah satu murid beliau yang pernah menjabat Gubernur Sumatera Barat, menjelaskan bahwa pada masa reformasi dilakukan Amandemen UUD 1945. KH. Himi menyetujui langkah tersebut bahkan turut memberikan masukan.
Wawasan beliau sangat luas dan moderat. Beliau dihormati banyak kalangan karena kelembutan akhlak, keluasan pandangan, serta kemampuannya membangun komunikasi antar harokah Islam dan elemen bangsa yang berbeda. Memang tak banyak riwayat yang menceritakan hal ini karena ketawadhuan beliau yang tak ingin dipuji.
Ini menjadi contoh bahwa seorang Aktivis dakwah haruslah selalu menjadi perekat utama kesatuan bangsa, karena itu adalah tugas penting dan tak perlu adanya validasi atau publikasi.
Murabbinya Murrabbi
Ir. Suswono (Mentan Era SBY) menceritakan pengalaman Beliau pasca mengunjungi Markas Kopassus Cijantung, ketika melihat semboyan yang berbunyi, "Kami bukanlah prajurit yang terbaik namun kami adalah prajurit yang terlatih."
Kalimat ini mengingatkan kepada kita bahwa jamaah ini bukan diisi oleh kader instan, akan tetapi diisi oleh kader-kader yang terlatih oleh dari dauroh-dauroh sederhana yang menjadikan pribadi terbaik dengan versi masing-masing.
Tentang halaqah pekanan, sejatinya itu menjadi kebutuhan mutarabbi untuk melepas lelah dan mendapat ilmu. Murabbi hanyalah perantara akan hal itu. Namun tidak bagi beliau, halaqah pekanan sebagai seorang murabbi adalah kebutuhan baginya. Beliau pernah dalam satu hari mengisi pekanan dari pagi hari hingga larut malam. Energinya selalu full. Tidak setengah-setengah. Dan tentu dengan persiapan materi dan teknis acaranya.
Beliau adalah seorang yang memiliki wawasan yang luas sampai-sampai Para Mutarrabinya bingung dengan spesifikasi keilmuanya. Semua itu didapatkan selain dari belajar mandiri juga hasil berdiskusi dengan lintas tokoh dari berbagai elemen gerakan dan mutarabbinya yang memiliki keilmuan beragam.
Pernah ditanya setiap alamat dari masing-masing mutarabbi. Ternyata di akhir sesi, dengan mobil yang sederhana Beliau mengantarkan mereka pulang ke rumah masing-masing. Begitu besar perhatian beliau kepada para penerus dakwah.
Menurut Beliau, Aset terbesar dalam dakwah, seperti yang dijelaskan oleh Ust. Cahyadi Takariawan, bukanlah gedung atau harta yang melimpah untuk agenda dakwah, melainkan kader dakwah itu sendiri yang memiliki segala potensi dan jaringan untuk mengerjakan aktivitas-aktivitas dakwah.
Integritas dan Tawadhu
Dari dakwah Beliau, lahirlah sebuah wadah yang memiliki kontribusi besar bagi dakwah dan bangsa ini. Dengan pengikut yang banyak tentu sangat mudah untuk dikapitalisasi dan menjadi dai yang kondang. Namun beliau tetap memilih jalan sunyi jauh dari sorotan. Bahkan saat menjadi KMS sekalipun, fokus utama beliau tetaplah membina 10-12 orang, menguatkan kembali tauhid, rasmul bayan, dan sirah nabawiyah yang dikaitkan dengan mihwar dakwah saat itu.
Beliau adalah qudwah integritas. Beliau terkenal sebagai orang yang tepat waktu dan selalu menjadi teladan. Pernah satu masa dalam halaqah pekanan Beliau sengaja telat datang, ternyata masih saja ada yang terlambat datang.
Perihal maisyah, setiap aktivis dakwah haruslah berdikari secara ekonomi dan membangun kekuatan itu secara bersama. Beliau mencontohkan untuk memulai usaha sekecil apapun itu. Agar kedepan saat godaan harta datang, kita sudah merasa cukup beriring dengan keteguhan iman. Integritas haruslah menjadi laku setiap aktivis dakwah sepanjang zaman.
Pesan Beliau bagi kita :
"Dinamika adalah tuntutan Al-Quran dan sunnah. Kita harus memiliki vitalitas, dinamika, dan energi yang tinggi. Tentu kekuatan yang kita harapkan adalah kekuatan yang rabbani yang nahnu aqwiya birabbina (kita kuat bersama Rabb kita. Kita menjadi kuat karena kedekatan dengan Allah, karena ma'iyyatullah" (KH. Hilmi Aminuddin)
Semoga Allah senantiasa membimbing dan menguatkan kita untuk selalu tegar dan istiqomah, melanjutkan estafet dakwah Beliau, melanjutkan estafet dakwah Para Nabi dan Rasul.
***
Serial Sang Murabbi adalah segmen tulisan yang berfokus menceritakan kisah-kisah inspiratif Para Guru untuk menguatkan kita di Jalan Dakwah.








