Sekitar akhir tahun 2015 saya dapat kabar kalau ayah dilaporkan atas penyalahgunaan anggaran buku Aksara Sunda dengan nilai yang gede banget. Tahun itu, ayah baru menjabat posisi sebagai kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Sedangkan kasus anggaran buku Aksara Sunda terjadi pada tahun 2010.
Saya kaget. Rasanya seumur hidup saya selalu hidup berkecukupan, tidak pernah merasakan cobaan yang berat. Saya kaget. Kalaupun iya, uangnya ke mana? Toh selama rentang waktu lima tahun tidak ada perubahan signifikan yang keluarga kami alami. Kami masih menempati rumah yang telah kami huni selama belasan tahun. Kendaraan yang dibeli oleh orang tua saya jumlahnya tidak bertambah, nilainya juga tidak banyak berubah. Kalaupun berubah, itupun masih dalam batas wajar. Toh kedua orang tua saya bekerja. Jadi, saya pikir, janggal juga kalau ada orang yang menuduh ayah sebagai pelaku korupsi. Oh iya, salah seorang JPU telah melakukan penelusuran terhadap rekening ayah serta kemungkinan2 adanya aliran dana tersebut. Hasilnya nihil. Uang yang ada ya uang yang memang hak ayah saya.
Kemudian hidup kami berjalan dengan lancar dan bahagia. Sampai pada hari antikorupsi tanggal 9 Desember 2016, ayah saya dipanggil dan ditetapkan jadi tersangka. Wuih, tiba-tiba berbagai macam wartawan dihadirkan. Kalau boleh saya berburuk sangka, mungkin ayah saya memang sengaja ditampilkan untuk 'menunjukkan' kinerja orang-orang tertentu. Seakan ada pihak yang mau bilang,
"Lihat, nih, di hari antikorupsi kami sudah menangkap tersangka korupsi! Kami kerja bener, kok! Kasih kredit, dong. Masukkin berita, gitu. Masukkin koran! Kapan lagi kami bisa jadi pahlawan di momen yang tepat?"
Tapi, sayangnya, mereka salah tangkap. Ah, saya nggak punya kapasitas buat kasih lihat bukti segala macem. Saya bukan orang hukum. Lihat aja, cari di google, nama ayah saya. Ikutin beritanya. Gampang, kok, nemuin kejanggalan-kejanggalan mengenai kasus yg menyeret ayah saya ini.
Sampai akhirnya, babak baru dimulai. Minggu ini akan ada sidang putusan ayah. Ayah sudah mengimbau kami untuk menerima kemungkinan terburuk.
Haha. Saya cuma bisa ketawa getir. Kok bisa, ya, orang yang menghabiskan waktunya untuk mengabdi, mengurangi budaya korupsi di dinas terkait, bekerja sesuai dengan bidang yang udah dijalaninya selama puluhan tahun, pergi subuh pulang gak tentu karena harus pergi ke daerah-daerah di Jawa Barat, dipaksa untuk siap mendapatkan hukuman atas perbuatan yang tidak dilakukannya? Aneh.
Gini, lho... Ayah saya mungkin bukan orang terpintar. Tapi kalau saya perlu menunjukkan, siapa sih contoh orang yang bertanggung jawab penuh atas pekerjaanya, ya salah satunya ayah saya. Ayah saya orang baik. Baik banget. Kalaupun pernah berbuat salah, korupsi bukan salah satu hal dari kesalahan ayah.
Dunia pendidikan itu bukan batu loncatan buat ayah. Saya tau persis. Dunia pendidikan itu dunianya ayah. Sekarang, sebagian besar dari dunianya direnggut sama orang yang sebel karena mereka jadi susah buat ngelakuin korupsi di dinas terkait sejak ayah jadi kadisdik. Tapi mau gimanapun orang berusaha buat ngerampas itu, ayah akan tetap hidup di dunia pendidikan. Dunia pendidikan bukan hanya dunia yang telah menghidupi ayah secara materi, tapi juga yang membuat ayah menjadi 'hidup' dalam menjalani hidup. Dunia pendidikan nggak pernah membuat ayah menjadi robot untuk menghasilkan uang lebih banyak atau untuk mendapat jabatan yang tidak ada akhirnya.
Sulit bagi saya untuk tidak melibatkan perasaan, pengalaman, dan posisi sebagai anak ketika membicarakan Bapak Asep Hilman. Saya tidak selalu mengatakan ini dengan gamblang dan terbuka. Tidak banyak yang dapat saya lakukan untuk membantu ayah saya. Tapi setidaknya saya dapat membantu menyebarkan informasi yang sebenar-benarnya mengenai ayah saya.