Hujan dan atap-atap kedai
Gemercik hujan turun begitu deras kali ini, sore yang aku harapkan akan melihat senja akhirnya tertunda lagi. Di bawah remang kedai kopi, deras hujan begitu berisik saat setiap rintik mengenai atap kedai, beberapa teman yang sedang bermain gitar akhirnya berhenti karena kalah beradu suara dengan rinai hujan.
“gila, gini banget hujannya” salah seorang temanku mulai protes, walaupun hujan mestinya tidak mendengar celotehnya
“nggak papa, syukuri aja, yang salah itu atapnya, kenapa sih mesti pakai asbes segala, bikin pekak telinga aja” jawabku, lalu kembali menatap laptop
“nggak papa, syukuri aja, masih mending ada penghalangnya, coba kalau nggak ada atap, bisa kehujanan kita nanti” jawab temanku yang satunya, lalu kembali bermain Moblie Legends
“susah ya mensyukuri apa yang sudah Tuhan beri kepada kita, nikmat Tuhan banyak banget aslinya mah, tapi kita tidak tahu ingin bagaimana cara kita menikmatinya bagaimana mensyukurinya. Hujan misal, itu salah satu nikmat Tuhan yang diberikan kepada semua manusia, ada di luar sana yang sedang asyik bermain dengan rinai dan rintiknya, sedangkan kita disini sedang asyik memperdebatkan bagaimana hujan berhentinya, tetapi kita tahu bukan hujan yang menjadi biang masalah, atap kedai yang terbuat dari asbes inilah yang menjadi masalahnya, brisik banget anjir” aku bergumam, lantas kembali menutup telinga dari suara-suara yang mengganggunya.












