April
aku menulis lagi di sela beraharap dan sedihmu. memastikan seberapa lapang dadamu menerima hal-hal yang tidak berjalan sesuai dengan yang kau ingin.
lenganku terbuka sangat lebar—seluas harapan ibu kepada anak pertama.
beberapa hal terbelah dan pecah di dingin kota bandung termasuk hatimu, aku punya dua tangan dan sepertinya cukup untuk merapihkan kesedihan-kesedihanmu yang berserak—sepertinya.
tapi, kesedihan nampaknya tidak pernah selesai untuk dirapihkan dia terus tumbuh di mana pun: di cisaranten atau di cigadung.
sore tadi hujan sampai menjelang lapar, aku memesan makanan dan satu bilah pertanyaan yang tajam: sudah selesaikah kau merawat kesedihan?
makananku datang dengan tergesa, diantar dengan motor dan kemasannya sedikit basah, sebab hujan masih saja turun dan riang menyirami lukamu.
aku menyantapnya dengan pelan, memastikan kemarahan tidak ikut serta aku lahap.
pada setiap suapan aku berharap kau hadir sebagai rasa yang mengubah cemas makananku menjadi hal yang dapat kutelan tanpa gemetar.
bdg, april 2025.














