It's like everyone tells a story about themselves inside their own head. Always. All the time. That story makes you what you are. We build ourselves out of that story.
---
Patrick Rothfuss, The Name of the Wind
seen from France
seen from Singapore
seen from Ukraine
seen from Kazakhstan
seen from Malta
seen from India
seen from China
seen from Australia
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Germany
seen from Macao SAR China
seen from United States
seen from Canada
seen from Türkiye
seen from Greece

seen from Canada
seen from Brazil
seen from United States
It's like everyone tells a story about themselves inside their own head. Always. All the time. That story makes you what you are. We build ourselves out of that story.
---
Patrick Rothfuss, The Name of the Wind
We all have a purpose in life. Learn to unlock that purpose with your powerful purpose-driven story today and unleash new energy, meaning, and purpose in YOUR life!
Next Dimension Story's powerful 3-step storytelling skills training and online coaching sessions combine the art & science of storytelling to help you to take charge of life and lead with courage and conviction.
Log on to http://nextdimensionstory.com/ NOW
We all have a purpose in life. Learn to unlock that purpose with your powerful purpose driven story today and unleash new energy, meaning, and purpose in YOUR life!
Next Dimension Story's powerful 3 step storytelling skills training and online coaching sessions combine the art & science of storytelling to help you to take charge of life and lead with courage and conviction.
Log on to http://nextdimensionstory.com/ NOW
Aku tak pandai menerka bagaimana hidup bisa berjalan dengan baik dan semestinya. Yang kutahu, ada hal-hal yang sudah terbentuk jalan dan caranya. Tinggal bagaimana kita mencoba dan menggali pesannya. Begitu pun menjadi orang tua. Ada kalanya, ekspektasi tak sesuai rencana. Sudah diterka ujungnya tetapi ternyata hasilnye berbeda. Kemudian, kita hanya perlu mengambil hikmahnya. Menemani anak mengejar impiannya bukanlah perkara menelurkan seorang juara. Yang kutahu, ini tugasku ‘tuk menemaninya menjadi manusia seutuhnya. Mengenalkan semesta, dunia, dan menjadi apa pun yang dia suka. Membuatnya tetap menjadi Kirana: Cahaya bagi sekitarnya. Namun, aku pun adalah manusia. Yang tak lepas dari banyaknya luka dan lantas kuproyeksikan ke hidupnya. Kuingin ia tak merasakan luka yang kupunya, kuingin ia memiliki sesuatu yang tak kupunya. Hingga akhirnya ia tak lagi mengenal dirinya. Sungguh, ini terjadi tak satu-dua kali saja. Berpuluh-puluh maaf pun kuhaturkan kepadanya dan ia pun tak lelah mengatakan,“Mbu, gapapa. Mbu kan sayang Kirana.” Dan pada akhirnya, malam terus berlalu di pukul kosong tiga. Selalu sama dan terlelap begitu saja. Aku tahu kami masih belajar mengenal bumi dan seisinya. Dan belajar bahwa semua sudah berjalan apa adanya. Maafkanku, Kirana. Terima kasih, Kirana. I love you, Kirana. #selfstory #selfjourney #Mbukacerita #parenting https://www.instagram.com/p/CUz01j0pk0W/?utm_medium=tumblr
me getting back from the hell
Part 7. So it’s been awhile, I do apologize about that. I had some milestones that came about quicker then I expected. Needless to say my attention has been going towards self care. Ok, so Oklahoma, I remember difficult days where I felt I belonged to entirely different family, I felt at a young age I did not belong and there must of been some kind of mistake.. How was I born into a family that could be closed minded and shallow at times. Do I feel loved, No, did I feel loved no. Most people will judge and say they beg to differ. How that was a different time and of course your parents loved you. But the proof is in the story and the story unfolds one day just like the truth.
First month passed: A Little Notes
1 February 2021
02:59am
Bulan pertama sudah berganti, namun nampak kesialan ku masih menetap. Rangkaian usaha terus ku lakoni hingga rasa pesimis nyaris habis.
Merefleksi bulan pertama di tahun ini, tampak berjalan lancar, satu dua dan tiga terasa cepat. Hingga ku berpikir, apa dewi fortuna ada pada ku?
Namun kembali, sesuatu yang cepat pun berakhir dengan sesaat. Ah ternyata hanya kebetulan.
Rasa jenuh menghinggap, sampai di titik pemikiran "kalau begini terus gak ada perubahan, sama kaya tahun lalu, nihil!", kata ku.
Tapi aku pun tak tahu bagaimana solusi dari ini. Ketika anda seorang yang pendiam dan penyendiri, maka solusinya adalah cobalah lebih terbuka dan aktif bicara.
Namun bagaimana jika anda adalah tipe yang sebaliknya? Si periang berkarakter nyerocos dan supel, jika jawabannya adalah menjadi dingin biar dikata cool, atau memilih cuek biar dipenasaranin, bisa dipastikan hasilnya akan lebih tak terlihat dari sekarang.
Lalu bagaimana?
Entah lah, aku pun bingung dan hanya bisa pasrah dan tetap menjadi si periang yang sedih
Fade Away of Hope (2021)
1 January 2021
00.01am
Menarik nafas panjang dan menghelanya, memejamkan mata dan perlahan membuka kembali. Jarum jam sudah melewati menit pertama di tahun yang baru. Selamat datang, 2021 masehi, tahun dimana seluruh umat manusia tengah berharap akan sesuatu untuk menjadi semakin lebih baik dari kelamnya sejarah dunia di 2020 akibat pandemi.
Begitu pula aku, selain akibat badai pandemi, gelapnya kesedihan dan kekecewaan dari beratnya usaha dalam memperjuangkan sesuatu juga harus kandas tak bersisa, hingga di penghujung.
Aku pikir di tahun 2020, ada secercah senyum kecil yang dapat ku raih dari sebuah kesempatan bila berusaha dan berjuang. Tentu menjadi syarat mutlak karena semua tak diraih secara cuma-cuma. Aku pun bertaruh pada takdir, apakah memang dengan begitu impian dapat tercapai? Nyatanya, tidak seperti itu.
Januari 2020.
Aku sudah dikecewakan oleh Kedutaan Amerika. Saat itu pengajuan visa ku ditolak, setelah usaha melengkapi segala persyaratan untuk melakukan trip singkat ke New York. Pupus, waktu dan materil yang sudah dikumpulkan dipaksa menguap.
Februari 2020.
Menjalani hari-hari seperti biasa, melihat keseharian yang berulang, macet dan rutinitas liputan. Lelah dan mengalir seperti pada umumnya. Tak dinyana bahwa selang sebulan setelahnya, hidup berputar bak roller coster.
Maret 2020.
Guncangan kasus pertama saat pandemi di Indonesia terjadi. Seketika sebagian dari kita dirumahkan, entah untuk bekerja, atau menganggur. Aku pun demikian, tidak ada rutinitas pagi harian. Semua mendadak dikerjakan dari rumah. Dua minggu pertama merasa baik-baik saja dan cenderung menikmati, namun sisanya? bosan jenuh bingung dan canggung, semua terjadi dalam satu tempat dengan pemandangan yang itu-itu saja, iya kamar ku.
April 2020.
Menjaga kewarasan, dengan berpikir hal apa yang bisa menjadi distraksi kejenuhan. Menghubungi rekanan dekat ku saja nampak tidak cukup. Aku terkurung karena dunia luar dilarang beroperasi. Tepat di bulan ini pula akhirnya aku kembali terjerumus ke pintu terlarang, dating app.
Mei 2020.
Bagi seorang yang sangat extrovert, mendapat teman baru adalah mudah. Sulitnya adalah ketika kenyamanan itu timbul, secara prematur berpikir untuk menetap. Kembali tak belajar dari cerita masa lalu. Aku masih sebodoh itu. Dipermainkan dalam perasaan, dua orang dalam waktu berdekatan, berpikir dangkal untuk sebuah angan yang tergambar indah. Lagi-lagi, niat baik dan usaha nyatanya berujung kecewa.
Juni 2020.
Menormalisasi rasa itu berat. Harus bisa membiasakan dari apa yang sempat terjadi. Padahal kembali lagi, semua adalah semu. Perlahan bangkit, menjauhkan kecewa, sedikit demi sedikit.
Juli 2020.
Mulai terbiasa, kembali membuka dan menjalin dengan lebih hati-hati. Menganggap bila rasa itu kembali terjadi, adalah sebagian dari bonus. Namun rupanya, hasrat untuk berjuang kembali timbul. Merasa yakin akan keberhasilan untuk kali kedua yang nampak sangat nyata untuk diraih.
Agustus 2020.
Keberuntungan akhirnya kembali sirna. Jawaban berat harus diterima, sebagai pernyatakan penolakan. Aku kembali merasa gagal di paruh waktu 2020. Muak dan jengkel.
September 2020.
Mencoba beraktivitas kembali, sebagian tempat sudah buka dan beroperasi dalam situasi new normal. Sekedar menyegarkan keadaan dari kekelaman kemarin. Pelan, sangat pelan, ingin sangat ingin, namun kembali ku malu melihat harga diri.
Oktober 2020.
Saatnya aku menghempas semua yang terjadi lewat refleksi perjalanan. Mengendarai vespa menuju Jawa Barat nyatanya membuat ku mendapat sebuah jawaban dan kepasitan tentang apa yang menjadi kegundahan. Sudahi semua, di titik ini, adalah selesai, tentangnya, lega. Tak adalagi hal mengganjal, aku melangkah ke depan.
November 2020.
Aku kira semua berjalan sesuai rencana. Bulan baik bagi ku karena akan bertambah usia. Semua mulus di dua pekan pertama tidak ada goresan, malah menjadi yang paling berkesan. Saat itu, padahal ulangtahun ku belum tiba. Situasi dan kondisi memang seperti air, mengikuti bagaimana bentuk hati. Namun di penghujung, petir kembali menerjang, rasa kalut menghampiri. Hingga hari ku tiba, membiasakan hal buruk sebenernya sudah sejelas itu. Tapi usaha tidak menghianati hasil menjadi sesuatu yang mubazir. Kembali ku merasa kecewa dan kali ini merasa berat untuk bangkit.
Desember 2020.
Meniti titik demi titik, coba kembali menormalkan, walau terjadi pasang surut di tiga minggu pertama sampai pada hati sebuah komitmen jika ada hal yang lain yang harus dituntaskan. Ini soal perasaan menahun, merelakan jika memang harus disudahi. Butuh usaha, waktu dan materi untuk menciptakan hari penentuan. Titik klimaks perjuangan, sudah berjalan sesuai rencana, namun alam berkata beda, aku masih harus menelan kecewa. Hingga menutup tahun, saat tulisan ini dirangkai, tak ada harap yang ku panjat, sirna.
PS: Berusaha untuk bahagia, menghindari sedih dan kecewa. Kuncinya, jangan pernah menggantung harap. Ikhlaslah saat usaha menuju bahagia berakhir tak di tempatnya. Hasil yang baik adalah penentuan takdir dan bukan sebuah kepastian. Manusia hanya bisa berjuang sebaik-baiknya, sekuat-kuatnya, namun kesempurnaan hanya tetap milik Khalik.