Sering kali kita merasa baru saja mengetehaui suatu hal, baru saja memahami poin penting dari suatu hal yang sebenarnya hal itu sudah lama simpang siur di kehidupan kita, atau sering kali kita melihat pencapaian akan sesuatu, dampak akan sesuatu yang luar biasa besar atau besar saja, atau ya mengarahkan kehidupan seseorang ke arah yang lebih baik.
Dan ketika kita menyadari semua itu, kita hanya bisa berkata..
“ah, seandainya aku melakukan itu sejak dulu,”
“ah, kenapa aku baru tau sekarang ini,”
“wah, aku tidak pernah diberi tau tentang itu sebelumnya,”
Dan lain sebagainya.. Kita, atau mungkin hanya aku, kemudian jatuh dalam penyesalan, tidak terima, atau bahkan menjadikan keterlambatan kita menyadari sesuatu itu sebagai excuse, sederhanya seperti pernyataan ini,
“ga apa-apa ya aku ga bisa, soalnya aku baru tau gimana supaya seperti itu,”
“yah dia mah enak, dari dulu udah diajarin kaya gitu, makanya sekarang udah bisa dan jago,”
Dan perkataan - perkataan lainnya, sebagian jatuh sebagai keluhan.. Astagfirullah…
Sebenarnya tujuan tulisan ini aku buat lebih untuk meng encourage diriku sendiri. Aku yang merasa tertinggal, aku yang merasa selama ini acuh, lalu ketika menyadari hal itu, seperti aku ingin kembali ke masa lalu. Tapi kemudian, ada satu titik dimana aku berpikir ulang, harus kah pada akhirnya berakhir menjadi keluhan – keluhan semata? Menjadi excuse akan ketidaksamaan kita dengan orang lain dalam hal pencapaian – pencapaian? Apakah itu semua ada gunanya. Aku yakin tidak. Aku mencoba mengaitkan ini dengan konsep keyakinanku, keluhan – keluhan tadi itu lebih melambangkan kepada ketidaksyukuran seseorang, dan aku rasa itu tidak sebagaimana mestinya seorang muslimucapkan.
“Karena siapa yang bersyukur, maka kenikmatan itu akan Allah tambahkan, dan siapa yang ingkar akan kenikmatan Allah, sesungguhnya azab Allah amatlah pedih.”
Kembali lagi pada pemikiran – pemikiran tentang penyesalan, atau.. lebih ke tentang kesadaran. Banyak orang, ya sangat termasuk aku, menjadi termenung, terlebih sang introvert seperti aku, meratapi keadaan,mengurung diri, mengalahkan diri sendiri, hahaha lebay tapi for real, aku pernah seperti itu. Yang pertama, begitulah introvert ketika rasa – rasa tidak percaya diri muncul, ya, tentunya pemicunya adalah melihat pencapaian seseorang yang apabila dipikir secara tidak sehat, yang muncul adalah, “aku bisa juga seperti itu, kalau saja…” Lalu baper, lalu menyendiri, lalu menghilang, lalu mengurung diri (hahaha jangan bayangkan aku seperti ini setiap saat, yes, just a little sarcasm and seasoning)
Yap!! Kata kuncinya adalah mengandai – andai.
Especially untuk diriku, dan teman – teman yang mungkin pernah merasakan hal yang sama,
Mungkin konsep bersyukur dan menerima adalah bekal menjadi dewasa yang sudah lama orang – orang terapkan, sehingga sebenarnya tidak ada yang merasakan ini kecuali aku saja,
Tapi alhamdulillah pada akhirnya aku tau, mungkin terlambat, tapi Allah lah yang berkenan memberikan hidayah pada makhluknya, aku tidak ada kuasa apapun untuk menentukan kapan akan turun hidayah yang bisa mengantarkanku untuk menjadi seseorang yang berbeda, seseorang yang lebih baik.
Tapi pada akhirnya, aku punya kesempatan untuk bersyukur karena aku sudah menyadarinya, dan bisa menjadi aku yang dewasa…
Aku membaca hadits ini, dan merasa tepat sekali dengan apa yang aku alami,
“Semangatlah dalam menggapai apa yang manfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan bersikap lemah. Jangan pula mengatakan: ‘Andaikan aku berbuat demikian tentu tidak akan terjadi demikian’ namun katakanlah: ‘Ini takdir Allah, dan apapun yang Allah kehendaki pasti Allah wujudkan’ karena berandai-andai membuka tipuan setan.” (HR. Muslim 2664)
Inilah takdir Allah, kenapa aku atau kamu, ya, kamu saudaraku, baru mengetahui akan suatu hal, baru menyadari kebaikan akan sesuatu, atau baru diberikan hidayah di dalam hati. Pasti Allah punya rencana yang lebih baik dari pada pengandaian kita, dari pada rencana kita, in syaa Allah..
Karena pada akhirnya, pun orang lain sudah berlalu ribuan kilometer di depan, ketika kita baru mengetahui apa rahasianya, pada akhirnya kita tahu rahasianya, tak perlu menyesali kenapa bukan sejak dulu sehingga kita bisa mencapai titik yang sama dengannya sekarang, kita tidak akan tahu rencana yang Allah siapkan untuk dia, barangkali Allah membiarkannya berlari terlebih dahulu untuk dapat membenarkan jembatan yang sama yang nantinya akan kita lalui ketika sampai di titik yang sama? Atau barangkali tenggat waktu kita di dunia ini memang berbeda…
Yah, kita akan tau nanti, in syaa Allah. Yang terpenting sekarang, bagaimana kita memandang apa yang ada di hadapan kita dengan bijaksana, meyakini bahwa inilah takdir terbaik yang Allah siapkan untuk kita, tinggal kita memilih,
Ikut berlari setelah mengetahui caranya berlari? Atau termangu saja melihat orang lain yang sudah lebih dulu tau caranya berlari, menatapnya lemas sampai ia hilang di cakrawala?
Maafkan kemelankolisanku dengan tulisanku ini. Semoga hanya akan membawa kepada kebaikan semata.
Barangkali aku tidak akan bertahan pada pemikiran ini dalam waktu lama, aku bisa saja melupakannya, maka itulah salah satu alasan kenapa aku harus menuliskannya. Mungkin nanti akan ada masanya keyakinanku tidak lebih baik dari saat ini, bahkan sedang menurun. Dan aku butuh memanfaatkan karunia Allah berupa tulisan yang lebih lekang ini in syaa Allah untuk mengingatkanku kembali, bahwa Allah sudah pernah mengarahkan aku untuk lebih dewasa seperti detik ini.
Doakan aku agar selalu mengandalkan Allah di segala tahapan kehidupanku, di setiap langkah perjalananku, dan setiap hembusan napasku.