Saat hati telah condong pada dunia, maka hilanglah kenikmatan dalam ibadah.
Tubuh bersujud padaNya, namun hati sibuk memikirkan urusan dunia.
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
TVSTRANGERTHINGS
sheepfilms
YOU ARE THE REASON
I'd rather be in outer space đ¸

No title available
Alisa U Zemlji Chuda

â

JVL

@theartofmadeline

Product Placement
styofa doing anything
Lint Roller? I Barely Know Her

Kaledo Art
Monterey Bay Aquarium
Cosmic Funnies

Kiana Khansmith
almost home
KIROKAZE
Game of Thrones Daily

seen from United States
seen from Finland

seen from United States

seen from TĂźrkiye
seen from Spain
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Poland

seen from Iraq

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Indonesia

seen from United Kingdom
seen from Canada
seen from Australia

seen from Germany
seen from Malaysia
seen from Australia

seen from Malaysia
seen from Ireland
@starwithbigdream
Saat hati telah condong pada dunia, maka hilanglah kenikmatan dalam ibadah.
Tubuh bersujud padaNya, namun hati sibuk memikirkan urusan dunia.
Hari ini telah kubaca sebuah ungkapan, lalu kusapu hatiku penuh kehangatan. Ungkapan itu berbunyi:
Allah itu selalu mewujudkan hal yang mustahil melalui cara yang lebih mustahil lagi. Jadi, tenanglah.
Ketika engkau diberi ujian
Cara terbaik untuk menghibur dan mengobati dirimu saat diberi ujian oleh Allaah ialah mengingat bahwa "ujian itu tanda sayang Allaah sama kamu". âmama
Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberikan ujian kepada mereka." (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)
Dan benar bahwa, setiap kita akan diuji dengan apa yang kita cinta, dengan apa yang kita miliki, dengan apa yang ada dalam kehidupan kita.
"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, Kami telah beriman dan mereka tidak diuji?" (Al-'Ankabut : 2)
Jika nanti hati kita mendadak ingin retak rasanya karena ujianNya, dada kita terasa sesak, diri kita amat lelah, maka cara terbaik untuk mengobatinya adalah mengingat bahwa ujian itu tanda Allaah sayang sama kita.
Ketika hal itu yang menjadi obat penenang hati kita, maka jangan lupa melanjutkannya ke jalan-jalan yang telah Allaah tetapkan sebagai penolong bagi orang-orang yang beriman ; sabar dan shalat.
ŮŮا ŘłŮŘŞŮŘšŮŮŮŮŮŮŮا بŮا ŮŘľŮŮبŮع٠ŮŮا ŮŘľŮŮŮٰŮŘŠŮâ Űâ ŮŮا٠ŮŮŮŮŮا ŮŮŮŮبŮŮŮŘąŮ؊٠اŮŮŮŮا ŘšŮŮŮ٠اŮŮ؎ٰشŮŘšŮŮŮŮŮâ Űâ
اŮŮŮذŮŮŮŮŮ ŮŮظŮŮŮŮŮŮŮ٠اŮŮŮŮŮŮŮ Ů Ů ŮŮŮٰŮŮŮŮا ŘąŮبŮŮŮŮŮ Ů ŮŮا٠ŮŮŮŮŮ٠٠اŮŮŮŮŮŮ٠عٰ؏ŮŘšŮŮŮŮŮ
"Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Dan (sholat) itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) mereka yang yakin bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya." (QS. Al-Baqarah : 45- 46)
âLemahnya hati seharusnya membuat dirimu lebih mudah bersujud. Malah lebih lama berdoa. Kerana kuatnya kamu bila ada Tuhan.â
â
Ingatlah jika pada akhirnya setan itu hanya berbisik, selebihnya adalah dirimu.
Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadap kalian, melainkan (sekadar) aku menyeru kalian, lalu kalian mematuhi seruanku.
Oleh sebab itu, janganlah kalian mencerca aku, tetapi cercalah diri kalian sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolong kalian, dan kalian pun sekali-kali tidak dapat menolongku.
Qs. Ibrahim: 22
Belum Usai.
Seburuk dan sebencinya kamu dengan seseorang, jangan ungkap kesalahan dan kekesalanmu terhadapnya di dunia maya. Jika persoalanmu dengannya belum selesai, maka selesaikan dengannya, bukan disini.
Mungkin kamu akan merasa puas, sebab merasa paling benar, merasa paling tersakiti sehingga berhak melakukannya. Akan tetapi, tetap saja, itu belum selesai. Kepuasanmu itu hanya akan sesaat. Lewat begitu saja.
Rasa kesalmu yang tadinya tidak seberapa, justru kian menggebu menjadi benci yang tak terkendali, tiap kali kamu mengingatnya. Maka, mari bertanggung jawab atas sesuatu yang kita mulai dan terlibat di dalamnya.
Jangan menjadi pengecut yang terus berlari dari persoalan yang dihadapi, bersandiwara dibalik kata "aku baik-baik saja." atau "cukup, sudahi saja ini', nyatanya dibalik hati masih menyimpan rasa kesal yang tiada henti.
âUntukmu yang hari ini patah raga dan hatinya, yang pincang angan dan citanya, dunia boleh bertingkah semaunya, tapi jangan lupakan bahwa Tuhan menjanjikan obat untuk semua luka dan sakit dari patahnya hari ini. Sabar, semuanya akan usai sebentar lagi, sabarlah sedikit lagi.â
â
Kamu boleh menangis oleh dunia yang menghimpitmu, tapi jangan terlalu lama dan justru mengurung diri. Sebab, sesiap kamu bangun dan kembali melanjutkan hidup, maka secepat itu pula pertolongan dan bantuan akan datang. Sabar, ya :â)
@jndmmsyhdÂ
Pada Suatu Ketika di Pertemanan Kita
Gak perlu sedih kalau ada orang yang kamu anggap sahabat tapi gak hadir di momen-momen penting dalam hidupmu. Mereka tetap sahabatmu, tapi di saat itu mereka punya prioritas lain.
Waktu saya wisuda, hampir gak ada sahabat saya yang hadir. Ada, tapi sedikit, itu pun adik tingkat dan beberapa teman seangkatan. Sedih sih, tapi wajar karena sahabat saya kebanyakan sudah lulus duluan hahaha. Sudah pada merantau lagi ke tempat yang lain.
Anyway, kita perlu berlapang dada untuk menerima kenyataan bahwa pada suatu ketika kita bukanlah prioritas bagi orang lain. Ini bukan hal besar karena setiap orang punya prioritasnya masing-masing.
Keluarga, karir, bisnis, atau yang lainnya tentu jadi prioritas. Semakin kita bertambah usia, semakin ada jarak antara kita dan teman-teman kita. Bukan berarti silaturahim menjadi renggang, melainkan waktu kita tak seleluasa dulu untuk ngobrol dan nongkrong-nongkrong seperti dulu kala.
Ketika sudah menikah, misalnya, kita gak bisa sesuka hati pergi nongkrong ke luar sama teman-teman meninggalkan anak istri di rumah sendirian. Ada pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan, ada istri dan anak yang perlu lebih dulu kita prioritaskan, apakah itu bercengkerama bersama mereka, makan bareng mereka, atau jalan-jalan bersama. Setelah itu barulah kita bisa luangkan waktu untuk menyambung silaturahim dengan teman-teman.
Jadi, tenang saja, sahabat tetaplah sahabat. Kita berbagi memori masa lalu yang akan selalu dikenang. Jika jarang bertemu, bukan berarti silaturahim kita berhenti. Kita hanya sudah memiliki prioritas dan masalah masing-masing.
Berdoa saja semoga di masa depan Allah berikan kita kesempatan untuk berkolaborasi dg teman-teman untuk hal yg lebih berdampak bagi banyak orang. Berdoa saja semoga Allah jadikan kita orang yang berdaya, bukan untuk menyombongkan diri, melainkan untuk berbagi kebaikan dan mendukung teman-teman kita.
Semoga Allah lapangkan hati kita. Semoga Allah bukakan jalan rezeki kita. Semoga Allah jadikan kita pribadi yang bermanfaat.
Taufik Aulia
Selamat Jalan Anak Ibu..
Sudah hampir 2 minggu kami berganti rumah sakit. Karena di rumah sakit sebelumnya menurutku tidak ada tindakan yang kongkret. Pertama kali bertemu dengan Dokter Spesialis anak di rumah sakit ini, aku sudah terisak, dengan campuran emosi dokter memarahiku "kenapa baru dibawak sekarang anaknya buk ", " Ibu terapi anak ibu tanpa tau sakitnya apa " Dan serentetan kalimat² yang membuatku tidak bisa merutuki kebodahan diri. Meski aku membela diri tapi apa yang diucapkan dokter memang ada benarnya, hah sudahlah aku tidak ingin menyalahkan siapapun dalam hal ini. Singkatnya hari itu di penghujung Juni 2021 dokter menyarankan untuk melakukan serangkaian prosedur kesehatan untuk mencari tahu penyakit apa yang ada pada anakku.
Hari itu bayi mungilku, harus menangis tak kala petugas medis mengambil sampel darahnya, Ya Allah hancur hatiku tidak tega melihatnya. Dan malam harinya dilanjutkan dengan USG kepala. Diagnosa dokter rumah sakit kedua kemungkinan anakku mengalami "Global Development Delay, Microcepal dan Cerebral Palsy" Dokter memintaku untuk siap dengan segala kemungkinan.
Doa tak pernah putus aku panjatkan, semoga anakku bisa tumbuh normal seperti kebanyakan anak lainnya.
Di pekan berikutnya saat kontrol ulang dan membaca hasil lab dan USG kepala.
Allhamdulilah tidak ditemukan keanehan dan semua normal dari darah dan otak anakku. Namun dokter rehab medik menyarankan untuk dilakukan CT Scan. Dan dihari yang sama kami pun melakukan prosedur CT Scan.
Singkatnya 06 Juli 2021 saat aku mengambil hasil CT scan di lantai dasar, putra ku, aku titipkan dengan neneknya ( setiap kontrol aku selalu dg ibu ku karna suami tidak memungkinkan harus meninggalkan pekerjaan) di ruang poli anak sedang aku mengambil hasil CT scan minggu lalu.
Bergetar hati ini saat membuka hasilnya, aku tidak bisa menahan tangis diruangan tersebut. Tidak peduli sebanyak apa mata memandangku.. Aku hancur sangatt hancur...
Tertera di kertas putih itu anak ku terkena " Celebral Palsy"
Jauhhh harii sebelum dokter memberi diagnosa tersebut aku dan suami sibuk mencari tau apa itu CP.. Dan kmi selalu berharap semoga anak kami bukan CP
Aku pergi ke poli anak dengan perasaan hancur . Belum kering air mataku belum tenang hati ini, lalu Allah uji lagi saat tidak aku temukan anak dan ibu ku di Poli anak.
Aku masuk kedalam ruangan dokter, kosong. Aku cari di kamar mandi, juga tidak ada. Aku berinisiatif turun ke lantai satu rumah sakit, siapa tau ibu ku pergi ke kantin rumah sakit saat hendak turun perawat poli anak yang sudah mengenalku mengatakan jika anakku dilarikan ke UGD.
Allahu akbar.. Apalagi inii ya Allah
Aku berlari menurunin anak tangga, masuk ke dalam UGD dan anak ku sudah di penuh dengan banyak selang ditubuhnya..
Allahu akbar.. Apa ini ya Allah
Hari itu putra ku tiba² mengalami pneumonia, kadar oksigennya jauh dibawah normal.
Anakku di swab dan Allhamdulilah negatif covid. Lalu dokter menyarankan untuk rontgen, karena ada kecurigaan dengan paru-paru nya..
Hari itu awan gelap tak kunjung pergi dari hari-hari ku. Melihat anakku dibanyak selang di badannya, minum ASI ku dengan selang yg dimasukkan kedalam mulutnya.. Anak ku dirawat dirumah sakit.
Esokkan harinya dokter membacakan hasil rontgen paru anakku. Kabar buruk lagi-lagi harus ku dengarkan.
" Buk. . Paru-paru anak ibu nggak baik, ini (sambil menunjukan hasil rontgen) yang putih-putih ini adalah cairan dan hampir 90% paru-paru anak ibu ditutupi cairan tersebut"
Aku terdiam dengan air mata yang terus mengalir mendengar ucapan dokter.
" Ibu harus sabar ya.. Siap dengan kemungkinan terburuknya"
Kalimat dokter selanjutnya yang membuat ku semakin terisak
Ya Allah sembuhkan anakku, ku mohon.
Malam keempat anakku dirawat tepat setelah ba'da isya, Allah lagi-lagi sedang menguji kami
Anakku kritis :(
Serangkaian prosedur penyelamatan dilakukan tim medis, mereka memintaku untuk terus berdoa dan menguatkan putraju, sholawat terus aku lantunkan ditelinga putraku sembari tim medis terus memberi pertolongan.
Singkatnya pukul 00:00 Wib anakku di pindahkan ke NICU.
Dengan tertatih kami orangtuanya mengikuti tim medis, melihat dengan sendiri anakku dengan ventilatornya, dengan banyak selang yang terpasang diruang dingin yang menjadi hari terakhir aku dapat memeluk putraku.
Waktu jenguk yang terbatas, selalu aku manfaatkan sebaik-baiknya untuk menghabiskan waktu bersama putraku. Meski ibu hanya bisa melantukan ayat suci di sampingmu nak, melihat detak jantungmu nafasmu yang termonitor pada alat² yang terpasang.
Anakku koma :((
Obat-obatan yang diberi tidak memberi efek padanya, kondisi putraku yang cerebral palsy semakin memperburuk kondisinya.. Tubuhnya semakin membengkak karena urinenya tidak kunjung keluar, berkali-kali anakku puasa sebab kadar oksigennya semakin menurun, berkali-kali henti nafas dan prosedur terakhir yang bisa dilakukan dokter pun dilakukan setelah mendapat persetujuan dari orang tua. Yaitu memasang ventilator terakhir yang disambungkan langsung ke tenggoraka. Allahu rabb
Puncak dari segalanya saat aku memohon pada Allah.. Untuk diberi yang terbaik bagi anakku. Aku dan suami ikhlas jika Allah lebih menyayangi anak kami..
Hati kami sebagai orang tua hancur melihat Putra Kami terbaring di ranjang kecil itu dengan segala selang nya.kondisinya semakin menurun.
Selasa, 13 Juli 2021 pukul 14:00 anakku berpulang padaNya. Tepat dihari lahirnya. Tepat diusia 4 bulan 4 hari
Aku mengendongkannya terakhir kali setelah hampir 10hari tidak pernah mengendongnya. Hari itu Aku dan suami memandikan putra Kami terakhir kalinya.
Cukup sampai disini cerita ini.. Sungguh saya tidak sanggup sebenarnya menulisnya..
Terimakasih untuk semua teman²kami, keluarga kami, sahabat kami, orangbaik yang telah mendoakan dan membantu kami. Buat tim medis dan dokter anak kami. Terimkasih sudah semaksimal mungkin menjaga anak kami
Selamat jalan putraku yang luar biasa.. Perjuangan anak ibu udah selesai ya nak.. Syafiq udah nggak sakit lagi sayang.. Berbahagialah disisi Allah dengan para syuhada ya nak..
Semoga kelak Allah kumpulkan lagi kita bersama ayah dan ibu disurga kelak bersama syafiq.. Tiap hari ibu dan ayah rindu syafiq
Selamat jalan Muhammad Syafiq Uwais
09 Maret 2021-13 Juli 2021
Love,
Ibu
#tentangpernikahan: Bila Saja
Seandainya kita mengalami ini, ingatlah di suatu hari.
Bila suatu saat kamu merasa lebih baik dari pasanganmu dan mampu memberinya lebih, maka jangan hinakan ia. Jangan buat ia merasa bersalah karena tak dapat memberikan seperti apa yang kamu harapkan. Jangan buat ia merasa rendah akan apa yang telah ia usahakan.
Ingatlah bahwa di suatu hari, ia telah mengusahakan supaya kita bisa tertidur nyenyak dan lelap, tanpa terkena terik panas dan hujan, tanpa adanya gigitan nyamuk dan ancaman lainnya. Ingatlah, ia pernah berusaha melindungimu dan memberimu sandaran.
Bila suatu saat kamu menemukannya melakukan kesalahan, tak perlu mengungkitnya berkali-kali dan terus menerus menyalahkannya. Apalagi sampai diri kita mengangungkan diri bahwa kitalah yang selalu benar.
Ingatlah bahwa kita pun pernah salah. Dan ketika kita salah, betapa besar hatinya, yang bahkan tak pernah sekalipun memarahi kita, apalagi membentak dan berteriak. Karena kita hanyalah manusia yang tak dapat luput dari kekurangan.
Bila suatu saat terdapat perdebatan kecil dengan pasanganmu, maka tak perlu membuatnya menjadi besar. Dan jangan pernah memutuskan sesuatu dalam keadaan emosi. La taghdob, wa lakal jannah. Jangan marah, maka bagimu surga.
Ingatlah bahwa kebenaran adalah milik Allah. Tak ada siapapun yang paling benar. Maka kembalikanlah segala permasalahan kepada Sang Penguasa Alam Semesta. Tak perlu saling bersitegang memperebutkan siapa yang benar dan menang. Karena hal tersebut hanyalah akan menyebabkan sakit hati.
Bila suatu saat pasanganmu sedang ditimpa musibah dan sesungguhnya kamu kecewa, maka bersabarlah dan jangan menjauhinya. Tak perlu menghakiminya dan membuatnya bersedih hati. Ada kalanya hidup ini berjalan tak semulus seperti apa yang kita bayangkan. Beberapa kerikil tajam itu biasa dalam kehidupan pernikahan.
Ingatlah bahwa yang mampu mempertahankan rumah tangga adalah kita sendiri, bukan orang lain. Berkacalah, barangkali musibah itu bisa saja sebabnya karena kita. Kita, sebagai pasangan, yang tak pernah mendoâakannya, yang seringkali tak patuh atas perintahnya, dan juga acuh atas rambu-rambu-Nya.
Jangan pernah lupa, bahwa rumah tangga itu seperti isi rumah yang harus dilindungi. Baik ataupun buruk, sebaiknya tak keluar dari pintu secara sembarangan. Dilengkapi korden dan filter agar tak semua orang dapat âmelihatnyaâ. Disapu dan dibersihkan, agar terhindar dari berbagai macam debu fitnah serta keburukan yang asalnya dari luar. Diisi dan dihiasi dengan berbagai kata indah, supaya Allah tak enggan menjaganya dan malaikat tak malas mendoâakannya.
Malang, 8 Juli 2020 | @shafiranoorlatifah Sungguh, bila Allah telah menjadi yang kesekian, maka tak heran betapa mudahnya sebuah rumah tangga dapat dirubuhkan.
Sisi Pahit Pernikahan
Rasanya menyesakkan sekali ternyata memang materi fiqh yang kami pelajari semester ini, kelanjutan dari bab semester lalu yang membahas tentang nikah, tapi lebih banyak berkutat dengan perdebatan hukum ketimbang faidahnya. Sedangkan sekarang, kami diajar oleh dosen yang kaya hikmah, dan membahas hal yang menyesakkan: tentang talak, dzihar, li'an, dan semacamnya. Tentang berbagai hukum yang berkaitan dengan perpecahan dalam rumah tangga, yang tentu saja jauh dari kata manisnya pernikahan yang seringkali jadi bayangan.
Lalu, kalimat penutup dari beliau pada pertemuan barusan rasanya benar sekali juga: tentang bagaimana kita bisa menghindari hal-hal tersebut, atau, membuat masyarakat menghindari berbagai bentuk perpecahan dalam kehidupan rumah tangga. Yaitu, adalah dengan pendidikan, dimulai dari mendidik diri sendiri agar menjadi pribadi yang berakhlak baik, berperilaku baik, juga berlisan baik. Sehingga, apapun yang kita lakukan jangan sampai melukai orang lain, termasuk nanti saat masuk ke jenjang kehidupan pernikahan. Jangan sampai, sebab ketidakpuasan terhadap diri pasangan -yang mana tentu saja setiap orang tidak sempurna- lisan kita menjadi liar, tindakan menjadi seenaknya, hanya ingin diberi, tanpa bisa memberi dengan baik.
Ya, selalu: diri sendiri lah yang harus pertama kali dididik, bukannya menuntut sekitar.
Makanya, sekali lagi, jauh sebelum memasuki bahtera rumah tangga, perbaikilah akhlaq diri, tau hak-hak apa saja yang menjadi hak pasangan kita. Jangan sampai yang kita tau tentang pernikahan hanyalah hak diri sendiri, juga sebuah suguhan manis yang tak bertepi. Tapi kita harus berusaha diri kita lah yang menciptakan dan menghadirkan suguhan manis tersebut!
Selamat belajar menjadi pribadi-pribadi yang baik, kawan!
(10/03/21)
rumus âberantemâ dalam rumah tangga: 5 butir cinta untuk tiap 1 tetes konflik :p
Ada salah satu kebiasaan dalam keluarga awal, yang cukup berpengaruh dalam kehidupan pernikahan saya.
Terutama dalam manajemen pasca berantem. :D
Yang namanya sebagian besar ibu, biasanya pernah marahan sama anaknya. Alasannya beragam lah, ya. Nggak terkecuali ibu saya.
Ibu saya beberapa kali marahan dengan saya di pagi hari. Hal biasa. Namun ada pembelajaran membekas dari Mama yang saya terapkan di rumah tangga.
Beberapa jam kemudian, Mama minta maaf. Saya juga jadi terbiasa untuk meminta maaf. Kemudian siang hari hingga keesokan hari dan seterusnya, kami biasa lagi. Sampai akhirnya marahan lagi (hahaa).
Ketika berumahtangga, saya tipikal pribadi yang cukup straightforward. Apa yang menurut saya penting, saya sampaikan saja.Â
Terkadang, saya dan suami bersitegang.
Tapi entah mengapa itu nggak pernah berlangsung lama, beberapa saat kemudianâ walaupun mungkin suasana masih tegangâ secara ganjil saya tetap ramah pada suami, suami juga begitu. Kemudian saya minta maaf, suami juga.
Kemudian saya berupaya bercanda, atau mijitin, atau ambilin minum untuk suami. Suami juga tetap mau jemurin pakaian atau nyuci piring, wgwgw.
Fokus saya setelah biasanya berkonflik dengan suami, adalah memikirkan gimana caranya menghidupkan interaksi-interaksi menyenangkan yang lebih banyak porsinya setelah konflik. Â
Prinsipnya: habis berantem lucuk sama suami, langsung berusaha ciptakan suasana yang hangat dan asyik lagi, sebanyak dan se-oke mungkin.
Apakah permasalahan yang kami perdebatkan, udah selesai setelah itu? Belum. Wgwg. Tapi yang jelas, dengan kondisi yang berangsur-angsur adem, kami jadi lebih jernih untuk mengevaluasi apa yang kami konflikkan di awal.
Kami jadi belajar sudut pandang satu sama lain lebih jernih. Kemudian, baru kami bahas dengan lebih dalam lagi dalam forum rutin kencan kami. <3
Rupanya, apa yang saya dan suami lakukan ketika sehabis berkonflikâ mirip-mirip dengan konsep dari lembaga riset pernikahan The Gottman Institute.
âIt goes like this: for every one negative interaction, you need to engage in five positive ones.â
Atau, kalau istilahnya The Gottman Institute, ini adaah Rumus 5:1 Ratio.
Kenapa sih, minimal 5:1 (5 interaksi positif untuk nyembuhin 1 interaksi negatif). Â
Kalau menurut Elizabeth A. Kensinger, associate professor di bagian Psychology Boston Collegeâ secara umum manusia lebih mudah untuk mengingat hal-hal negatif ketimbang hal-hal positif:
âAcross a number of studies, my colleagues and I have noted that memory for negative information often includes more item-specific visual details than memory for positive or neutral information.Â
People have a hard time remembering which specific balloon or butterfly (both positive) they have seen, whereas they find it relatively easy to remember which snake, or gun, or dirty toilet they have seen.â
Termasuk juga interaksi-interaksi buruk dengan pasangan/temen/anggota keluarga lain. Istilahnya, kalau cuman diimbangi sama 1 interaksi positifâ bakal terngiang-ngiang terus kan yang negatifnya (karena secara natural lebih powerful untuk diingat)?Â
Makanya, perlu diimbangi dengan 5 interaksi positif, supaya bisa lebih mengademkan dan menghangatkan suasana lagi.
Makanya judulnya: 5 butir cinta untuk tiap 1 tetes konflik. #hasek
Alhamdulillah, surprisingly not surprisingly, konsepnya Gottman Institute yang qadarullah kembaran sama prinsip kamiâ itu membantu banget untuk tetap menjaga kehangatan dalam keluarga.
Berantem, atau konflik, semata-mata adalah cara kami untuk terhubung kembali dengan cara yang berbeda dan lebih baik. :)
Saya selalu merasa aman dan nyamanâ karena tiap ada konflik punâ ada keyakinan yang kuat bahwa kami, dalam keadaan apapun yang semoga Allah ridhai, tetap saling menyayangi, mampu menyayangi. serta mampu mencurahkannya.
Wallahuâalam.
__
*Ilustrasi dari sini.
Aku menemukan kalimat seperti ini..
Apakah kau kuat? Ya, insyaAllah aku kuat buktinya aku sudah sampai sejauh ini.
Apakah kau tak lelah? Sangat, tapi biarlah lelahku menjadi bukti bahwa rasa sabarku kian Allah perluas.
Apakah kau akan terus begini? Ya, sampai kesabaranku lelah dengan rasa sabarnya sendiri.
Mengapa begitu yakin? Karna Allah terus bersamaku.
Apakah yang membuatmu bertahan? Karena aku percaya bahwa Ali bin Abi Thalib pernah berkata,
"Yakinlah, ada sesuatu yang menantimu setelah sekian banyak kesabaran (yang kau jalani), yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit".
14.58
Nanti malam minggu.
Cepat Pulih Anakku
09 Maret 2021 adalah momen terbaik dalam hidupku. Setelah berjuang 10 jam menahan sakit akhirnya aku bisa melihat malaikat kecil yang Tuhan titip dalam rahim ku. Kelahiran yang cukup sulit. Bagaimana aku dalam setiap rasa sakit selalu meminta padaNya untuk diberi keselamatan, aku dan anakku.Â
Allhamdulilah tepat pukul 14:00 wib malaikat kecil yang kami tunggu kehadirannya akhirnya lahir, dengan berat 3200 gram anak pertama ku seorang laki-laki, tapi mana suara tangismu nak?Â
Beberapa menit yang mendebarkan bagiku, mana suara tangis anakku, prosedur keselamatan dilakukan dokter dan akhirnya aku mendengar suara tangisnya meski amat sangat kecil .Â
2 hari diklinik akhirnya kami diizinkan pulang. Dan Kejanggalan-kejanggalan ditemukan pada bayi ku yang baru melihat dunia.Â
Tidak seperti bayi pada umumnya yang begitu aktif menggerakkan tangan dan kakinya, sebaliknya anakku tak ada gerakan. Semula aku menepis semua 'pikiran negatif' maupun omongan ibuku alias neneknya. Aku menapik dugaan mereka dengan mengatakan
"emang belum waktunya bayi bisa begini dan begitu, nanti lihat jika usia 1 bulan tidak ada perubahan baru kita ambil tindakan"..Â
Ya dengan sombongnya, bukan bukan aku sok pintar tapi terkadang aku membenarkan meski didalam hati ucapan Ibu yang kerap kali menyinggung perkembangan anakku membandingkan dengan anak kakakku yang hanya selisih umur 3 bulan.Â
Â
Dan akhirnya diusia 40 hari tidak ada perkembangan pada anakku. Kami memilih membawanya ke Dokter Anak terdekat. Diagnosa sementara dari DSA adalah brachial palsy sebuah gangguan pada saraf leher akibat persalinan yang sulit, anakku dirujuk ke dokter rehab medik, dihari berikutnya kami bertemu dengan dokter reham medik , dan hari itu adalah patah hati terbesar dalam hidupku. Diagnosa dokter menyebutkan anakku bukan terkena brachial palsy. Bahkan dokter tidak berani memberi diagnosa karena ini adalah kasus pertama baginya. Serangkaian terapi dijalankan.
Tepat usia 43 hari. Bayi laki-laki ku harus menghabiskan banyak waktunya di rumah sakit dalam ruang fisioterapi.Â
1 bulan pertama terapi ini membuahkan hasil.. Anakku bisa menggerakan tangannya meski belum maksimal namun sekecil apapun perkembangannya sangat aku syukuri.Â
Masuk bulan ke 2 sampai usia 3 bulan tidak ada perkembangan yang signifikan.Â
Tabungan semakin menipis. Asuransi tak kunjung selesai.Â
Bagaimana ini?Â
Dan dokter belum juga bisa memberi diagnosa pasti, entah karena ingin menjaga kewarasanku atau entahlah. beliau selalu mengatakan "curiga ada masalah pada otaknya". Serangkaian pengobatan USG kepala dan CT Scan sempat digaungkan namun tidak kunjungi dilaksanakan. Terapi terapi terapi itu yang selalu disarankan.Â
Mereka yang terlihat sangat bahagia di dunia ini, bisa jadi orang yang sangat takut akan hidupnya, namun ia mahir menyembunyikan wajah. Mereka yang sering terlihat tertawa dalam ramainya sosial media, bisa jadi adalah orang yang sangat menangis karena hidupnya, namun ia pandai menahan air matanya.
Tidaklah pantas kamu iri dengan kehidupan sosial media, kamu ya apa yang kamu sedang hadapi hari ini, sosial media hanya kemasan yang kadang menipu isi dalamnya. Teladanilah mereka yang berhasil wafat dalam ketenangan dan kebaikan, tirulah para orang yang arif dan bijaksana dalam memanfaatkan waktu usianya, sebab kamu pun sebenarnya sering lalai dan membuang waktu bukan?
Mengapa harus menjadikan standar hidup seperti apa yang dilihat di sosial media? Mereka yang lebih berhak mendapatkan kebaikan darimu adalah keluarga dan sekitarmu, untuk apa kamu terlihat baik di media tapi untuk urusan dengan tetangga dan jamaah masjid saja masih suka tidak bertanya kabar, enggan membantu urusannya, malas membincangkan bagaimana masyarakat desa kedepan?.
Sebab hari ini, banyak yang hanya mementingkan casing daripada isi, banyak yang menghabiskan hidupnya di sosial media dan enggan keluar dari rumah dan halamannya karena malas dan tidak kenal dengan tetangga juga lingkungannya.
Bukankah sudah dijelaskan bahwa caramu bermuamalah dan berhubungan dengan warga sekitar dan pertemanan adalah bagian dari undangan kematian? Mereka yang akan memandikan dan mengkafani, mensholatkan dan menguburkan.
Hari akan terus berjalan, waktu akan terus berputar, dan usia akan semakin habis kian detiknya. Aku dan kamu, jangan sampai menyesal setelah berakhirnya waktu di dunia.
Wahai hati, melembutlah.
@jndmmsyhd
Diwajari jika non muslim kerap menilai Islam memiliki formulasi hukum yang cenderung menguntungkan kaum pria dan menganggap Islam berbasis budaya patriarki, disayangkan jika yang memiliki pandangan seperti ini adalah seorang muslim. Kenapa non muslim diwajari? Karena mereka tidak mengenal dengan benar syariat Islam dari sumbernya, tetapi hanya melihat Islam dari 'oknum' yang tidak menjalankan syariat Islam dengan benar.
Aturan dalam Islam, salah satunya seperti kewajiban patuh pada suami sebagai kepala keluarga, seringkali dipandang patriarkal, yang membuat sebagian muslimah merasa menjadi korban subordinasi dan diskriminasi.
Padahal dalam Islam, ada perinciannya. Patuh kepada suami yang seperti apa? Kepatuhan istri kepada suami adalah yang didasari kepatuhan kepada apa yang Allah perintahkan, dan juga selama perintah suami tidak bertentangan dengan perintah Allah. Seorang istri tidak diperkenankan taat kepada suami yang bertentangan dengan perintah Rabb-nya.
Jika seorang suami belum mempu menjadi imam yang baik, ataupun tidak memperlakukan istrinya dengan baik, maka ajaklah ia untuk bersama-sama mendalami Agama (Tafaqquh Fiddin).
Ketika menikah, lelaki shalih itu bukan yang hanya ahli ibadah (semisal rajin shalat, rajin membaca Al-Qur'an atau puasa saja), tidak.. sama sekali bukan hanya itu. Tetapi ia yang menjauhi apa yang Allah larang, dan ia yang memahami kewajiban atas dirinya kepada Allah dan kepada yang dipimpinnya dengan akhlak yang baik.
Ia yang menyadari bahwa dipundaknya kini hadir seorang wanita yang telah diamanahkan kepadanya untuk dibina, dididik, dilindungi, supaya selamat dari api neraka.
Jika abai dalam proses tarbiyah, suami akan menjalani "sidang berat" dihadapan Allah Ta'ala dengan "dakwaan" sebagai pemimpin yang abai dan tidak bertanggung jawab.
Begitupun dalam perkara maisyah (bertanggung jawab dalam perkara nafkah), dan qiwamah (memimpin dan melindungi yang dipimpinnya). Seorang suami dalam Islam dituntut dalam perkara tarbiyah, maisyah dan qiwamah terhadap yang dipimpinnya.
Lalu jika bicara tentang "kesetaraan dalam pendidikan". Islam sudah lebih dulu mewajibkan bagi ummatnya untuk menuntut ilmu syar'i. Bukan hanya kaum lelaki, kaum wanitapun diwajibkan atas hal ini. Sebab ilmu syar'i mengantarkan kita pada akhlak mulia, serta menjauhkan kita dari pemahaman yang keliru dan amal yang terjaga.
Begitupun dengan bekerja bagi wanita. Dalam Islam, tempat terbaik bagi wanita adalah dirumahnya. Wanita dibebaskan dari kewajiban mencari nafkah, namun tidak dilarang untuk tetap berdaya dengan kemampuan yang dimilikinya, dengan syarat yang mengiringinya. Syarat inipun tiada lain adalah untuk melindungi kaum wanita itu sendiri.
Apa saja syarat itu?
1. Harus seizin suaminya (jika telah memiliki suami), karena suaminyalah yang akan dimintai pertanggungjawaban atas hal ini. Dan ini menjadi catatan penting juga bagi para suami. Jikapun tidak mengizinkan istri untuk bekerja diluar rumah, maka berikanlah bekal kepada istrinya, jika belum mampu memberikan bekal harta yang cukup jika suami qadarullah meninggal terlebih dulu, maka berikanlah bekal berupa "skill". Jangan sampai membiarkan istri kesulitan nantinya dalam memenuhi kebutuhan dirinya dan anak-anaknya, Bukankah selain percaya bahwa rezeki dalam jaminan Allah, kitapun tetap harus berikhtiar?
2. Bekerja diluar rumah dilakukan setelah kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu telah ditunaikan.
3. Pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang dibutuhkan oleh masyarakat dan tidak mungkin tergantikan oleh laki-laki.
4. Pekerjaannya terhindarkan dari sesuatu yang Allah haramkan, dan jauh dari interaksi intens dengan lelaki yang bukan mahramnya. Semisal mengajar sesama wanita, merawat dan mengobati pasien wanita, dst.
5. Jika pekerjaannya dilakukan diluar rumah, maka diwajibkan atasnya menutup aurat dengan sempurna, tidak memakai wewangian yang sampai tercium jelas wanginya oleh lelaki, dan tidak bertabarruj.
6. Bukan pekerjaan yang menuntutnya untuk sering bersafar sendirian ataupun dengan lelaki yang bukam mahramnya.
Sungguh, hanya Islam yang melindungi dan menjaga kehormatan wanita sedemikian sempurnanya. Sedangkan dalam sistem kapitalis liberal, wanita kebanyakan tidak sadar.. bahwa dalam sistem kapitalis liberal tersebut, wanita sedemikian di "eksploitasi" menjadi wanita karir tanpa batasan, dengan dalih kesetaraan.
Dalam Islam, seorang suami yang istrinya bekerja, maka ia tidak memiliki hak atas penghasilan istrinya. Sedangkan seorang istri memiliki hak untuk dipenuhi kebutuhannya sebatas kemampuan suaminya.
Laki-laki tidaklah menjadi lebih mulia dihadapan Allah hanya karena menjadi kepala rumah tangga, menjadi imam atau berdiri di depan shaf wanita dalam shalat. Karena masing-masing tentu diberi ganjaran yang sama dalam melaksanakan kewajiban yang sudah Allah Ta'ala tetapkan bagi masing-masing.
Yang menjadi patokan hanyalah satu, yaitu "Tingkat Takwa", dan itu tak ada korelasinya dengan gender. Siapapun mampu dan dipersilakan berlomba-lomba mencapainya.
Wallahu waliyyut Taufiq.
https://instagram.com/gsatria