Kepada Siapa Seharusnya?
Mau nyoba ngeblabbering kek mba @jagungrebus hehe~ barangkali ada sedikit manfaat yang bisa diambil dari sini.
Sadar nggak sih, kita seringkali berbicara sesuatu yang kelihatannya remeh tapi ternyata punya effect besar terhadap sesuatu? Contoh nih, kita sering bilang, "Untung ada lo ya, mungkin kalo engga, gw udah mati ketabrak mobil".
"Thanks ya. Lo benerbener nyelamatin hari tersulit gw".
"Kalo bukan karna lo, mungkin gw bakal depresi dan kehilangan hidup gw"
Dan masih banyak lagi.
Mungkin sebagian orang menganggap ini adalah hal yang wajar, dan kebanyakan orang mikir begini, "Loh ya emang bener gitu kok. Kenyataannya kan gitu". Eeeee nggak seremeh itu, bambang~ redaksinya tolong bisa diganti lah ya. Contohnya bisa diganti dengan, "Alhamdulillah Allah udah nyelamatin hidup gw lewat lo tadi"
Atau "Gw bersyukur sama Allah karna udah menghadirkan lo di hidup gw".
Sejatinya setiap manusia hanyalah perantara atas apapun yang sudah dikehendakiNya. Oleh karena itu, jangan sampe kita menyepelekan sebuah ucapan. Kita mengucap kalimat syahadat aja, udah terhitung masuk islam. Mengucap kata cerai pun udah bisa terhitung talak. So, dari sini kita bisa lebih hati-hati sama ucapan yang dapat berakibat fatal.
Btw, sebenernya kita ini ngebahas apa sih? Ini namanya tauhid atau menjadikan Allah sebagai satu-satunya sandaran hidup kita. Kita lupa, seringkali menganggap perlakuan orang lain ke kita adalah suatu hal mutlak dari orang itu sendiri. Padahal kalo kita percaya, ada campur tangan Allah disana, ada peran Allah dibaliknya.
Effect besarnya apa ya kirakira kalo kita ndak paham bagaimana cara meng-esakan Allah sebagai pangkal dari segala urusan? Sebagaimana yang dibahas dalam Al-Qaulul Mufiid 1/125 kitab Qawaaidul Arba', kita bisa jatuh ke lubang syirik lafzhi (syirik dalam ucapan), ketika menjadikan 'manusia' bak dewa dengan segala-galanya, hingga lupa kepada siapa seharusnya kita mengucap rasa syukur.
Semoga dari sini, kita lebih lapang ketika mendapati bahagia maupun sedih dalam hidup kita, sebab, pokok keyakinan atas segala sesuatu adalah Allah. Wallahu a'lam.











