Gak terasa #muthia #sematawayang #maukuliah (di West Java)
seen from Sweden
seen from United States
seen from Spain
seen from United States

seen from United States

seen from Ecuador
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from China

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Australia
seen from Indonesia
seen from United States
Gak terasa #muthia #sematawayang #maukuliah (di West Java)
Aku Tidak Peka.. Maaf.
Sore ini kita berpapasan lagi nona. Tapi lagi-lagi jurus acuhmu menjadi santapanku. Baiklah kini aku sudah terbiasa. Hanya saja tanda tanya ini masih terus menetap dalam pikiranku. Ia tak kunjung pergi juga. Tanda tanya mengenai sebab sikapmu itu.
Hari itu ku beranikan diri untuk bertanya padamu nona, aku sudah gerah dengan perubahanmu. Sepotong permohonan maaf tak luput kuberikan, karena ku tahu pasti ada yang salah dengan diriku hingga kau berubah. Ya, hari itu aku ingin tanda tanya itu terjawab. Tapi apa? Nona, kau hanya bilang "tidak ada yang salah, sebenarnya tidak bermaksud bersikap acuh mungkin ini kesalahanku" cuma itu katamu?? Dan aku pun tidak bisa memaksamu untuk menjawab.
Setelah hari itu tadinya kupikir kita sudah saling bisa memaafkan, tapi ternyata tidak. Sikapmu masih sama, nona.
Hingga akhirnya aku sendiri yang mulai mengobrak-abrik memoriku. Aku berusaha mencari-cari kesalahan-kesalahanku sendiri, berusaha mengumpulkan fakta-fakta keburukan diri ini. Bahkan dengan cara menanyakannya pada orang lain yang kini lebih sering bersamamu. Kau tahu nona? Rasanya sesak sekali. Tiap fakta yang kudapatkan dari mereka seperti menyanyat hati sendiri.
Ternyata kau lebih percaya mereka untuk menceritakan keburukanku? Aku tidak naif nona, meski menyayangimu, saat mengetahui itu aku sangat-sangat kecewa. Tetapi kekecewaan itu tidak lebih besar dari fakta betapa banyak keburukanku terhadapmu. Nona.. maafkan aku.
Aku tidak peka. Mungkin selama ini kau sudah cukup bersabar menghadapiku. Entah kesalahanku yang mana yang membuat kesabaranmu habis. Aku sudah tidak sanggup lagi mencari tahu hal itu. Namun apakah begini hukumannya nona?
Apakah kini memorimu tentangku hanya berisi hal-hal buruk? Sudah kau hapuskah memori saat kita berjuang bersama meraih mimpi-mimpi? Sudah kau hapuskah memori saat kita tertawa bersama setelah kau berhasil melupakan tuanmu yang mengkhianatimu? Sudah kau hapuskah memori saat kita saling merawat satu sama lain saat sakit?
Cukup. Aku sudah tidak berharap lagi sikapmu akan berubah seperti dulu, yang kuharapkan hanya kau bisa benar-benar memaafkanku. Hanya itu nona. Haruskah ku ulang lagi permintaan maafku yang dulu? Tapi bagaimana? Sejak terakhir kali kita bicara kau selalu menghindar jika berpapasan denganku.
Hingga kuputuskan untuk mengirimkanmu pesan singkat, mungkin ini adalah komunikasi 'lepas' kita yang terakhir karena setelah ini, aku akan benar-benar berhenti.
"Assalamualaikum.. Nona, semoga saat dan setelah kau membaca ini hatimu selalu bahagia. Nona, aku sudah mendengar banyak fakta dari mereka tentang sikap buruk ku terhadapmu. Terimakasih telah menyadarkanku meski lewat mereka. Mungkin kau tidak enak bicara langsung padaku. Aku pahami itu. Nona, maafkan aku atas segala sikap buruk ku terhadapmu baik yang disengaja maupun tidak. Aku tahu memberikan maaf tidak semudah memintanya. Namun ku mohon nona, karena aku takut pada Rabb ku. Ia pasti juga tidak akan memaafkanku jika kau tidak mau memaafkanku juga. Aku yakin kau masih memiliki hati yang luas seperti dulu. Dulu aku sudah pernah meminta maaf padamu, namun kau malah balik meminta maaf. Baiklah, jika saat itu kau meminta maaf, aku sudah memaafkan semua kesalahanmu. Kini maukah kau yang giliran memaafkanku? Hanya cukup kata 'iya' itu sudah berarti segalanya bagiku. Dan terlepas dari semua ini, terimakasih atas segala memori indah yang pernah kita lalui.
Salam hangat,
Sahabatmu yang penuh khilaf"