Teman sekamarku sedang bermain video game dan tidak melihatku sama sekali. Layar komputernya menunjukkan bahwa dia sedang dalam pertempuran sengit.
"Aku tidak kerja hari ini."
Aku meletakkan kantong kertas makanan dalam kantong sudah dingin.
"Ugh, benar-benar sial. Aku sudah antri lama-lama di kafetaria, dan waktu sudah giliranku, makanan yang aku inginkan sudah habis."
"Jadi aku pun pergi ke luar kampus untuk cari makan, tapi semua restoran penuh."
"Akhirnya aku cuma bisa beli makanan bawa pulang… Tapi sekarang sudah dingin, ugh."
"Ya, benar-benar menyedihkan."
Matanya tidak pernah berpaling dari layar, menunjukkan bahwa dia tidak peduli sedikit pun.
Aku sudah terbiasa dengan semua ini. Orang-orang di sini cuma peduli dengan dirinya sendiri. Termasuk aku.
Aku melihat ponselku, tapi aku juga tidak tahu mau apa. Aku cuma menekan layar berkali-kali.
"Karena dampak bencana yang tidak diketahui masih berlanjut, kualifikasi hari ini yang dijadwalkan sebelumnya akan ditunda-" ~
Dengan perasaan kesal aku mematikan televisi dan melempar ponselku ke samping.
"Bencana lagi-lagi mencatat tidak diketahui. Sudah berapa kali terjadi hal seperti ini?"
"Shenzhou, Far East, dan ada lagi itu… Apa namanya?"
"Coral Island."
"Benar, Coral Island. Setiap kali dibilangnya bencana tidak diketahui, terus akhirnya tidak ada berita lagi. Ada apa dengan dunia ini?"
"Entahlah."
"Ah, sudahlah, lagi pula letaknya jauh dari kita."
"Aku membaca di internet bahwa ada bencana yang tidak jelas terjadi di Eropa Timur lebih dari 10 tahun yang lalu. Pada saat itu, puluhan juta orang meninggal dunia, tapi berita yang terkesan sembunyikan."
"Serius? Puluhan juta orang?"
"Kalau begini terus, cepat atau lambat akan tiba giliran kita dong?"
Teman sekamarku menanggapiku, tapi tetap tidak menoleh.
"Kalau sudah saatnya ya sudahlah, tidak ada yang bisa kita lakukan."
"Lagi pula orang biasa seperti kita, cuma akan menambah jumlah angka kematian yang muncul di berita… Whoa, apa yang barusan aku katakan? Keren juga."
"Ya, mungkin saja dunia akan kiamat di detik berikutnya, dan kita semua akan mati."
"Mungkin juga, tapi setidaknya Tunggu aku menyelesaikan game ronde ini dulu, haha."
"..."
Pembicaraan singkat kami berakhir, dan kami pun kembali canggung lagi.
Burung gagak di luar jendela berisik seperti biasa.
Sinar matahari menyilaukan seperti biasa.
Dan waktu berlalu seperti biasa.
Saat aku tersadar, lagi-lagi aku melihat layar ponselku.
Selanjutnya -- sepertinya ada aksi demo lagi di suatu tempat.
Selanjutnya -- pengajuanku untuk menggunakan laboratorium ditolak.
Selanjutnya -- iklan yang mengganggu muncul berulang kali.
Selanjutnya -- orang-orang di internet berdebat tentang hal bodoh.
Selanjutnya --
Selanjutnya --
Selanjutnya --
Tidak ada yang berubah.
Hari ini masih sama dengan hari kemarin.
Begitu juga dengan hari esok, masih sama dengan hari ini.
Sembunyikan Sabu Dalam Lemari, Pengedar Narkoba Di tangkap Satresnarkoba Polres, Serang
Sembunyikan Sabu Dalam Lemari, Pengedar Narkoba Di tangkap Satresnarkoba Polres, Serang
RELASIPUBLIK.OR.ID, SERANG || Pengedar sabu berinisial ES (45) diringkus personil Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Serang di rumah kontrakannya di Kelurahan Kalitimbang, Kecamatan Cibeber, Kota Cilegon, Sabtu (21/5/2022) dini hari.
Dari dalam rumah tersangka, petugas berhasil mengamankan barang bukti 13 paket sabu yang disembunyikan dalam bungkus minuman sachet yang diselipkan…
Sembunyikan Sabu Dalam Lemari, Pengedar Narkoba Di tangkap Satresnarkoba Polres, Serang
Sembunyikan Sabu Dalam Lemari, Pengedar Narkoba Di tangkap Satresnarkoba Polres, Serang
RELASIPUBLIK.OR.ID, SERANG || Pengedar sabu berinisial ES (45) diringkus personil Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Serang di rumah kontrakannya di Kelurahan Kalitimbang, Kecamatan Cibeber, Kota Cilegon, Sabtu (21/5/2022) dini hari.
Dari dalam rumah tersangka, petugas berhasil mengamankan barang bukti 13 paket sabu yang disembunyikan dalam bungkus minuman sachet yang diselipkan…
Terima Update, Nokia X6 Kini Bisa Sembunyikan Poni Nokia X6 belum lama ini telah menerima update terbaru yang memungkinkan pengguna untuk menghilangkan atau menyembunyikan notch atau poni.
LABUHA – Aneh tapi itulah yang terjadi saat ini, dimana dokumen anggaran pendapatan belanda daerah (APBD), yang merupakan dokumen publik, namun sampai saat ini pemerintah daerah (Pemkab), Halmahera Selatan (Halsel) masih menganggap dokumen APBD adalah dokumen rahasia yang tidak boleh diketahui oleh publik.
Bahkan, anggota DPRD Kabupaten Halmahera Selatan sendiri juga tak mendapatkan salinan APBD…