Sore itu ia mengambil minum. Masih setengah sadar setengah merenung. Menunggu air penuh sembari mendengarkan lantunan adzan dari Masjid terdekat. Ia berjalan sedikit ke ruang terbuka dengan gelas penuh ditangan, menengadah. Rupanya langit sangat cantik seperti biasa, biru menenangkan dengan goresan awan putih menawan. Tampak diatas sana ada satu buah layang-layang, yang mana mainan itu sudah mulai terbilang langka di era saat ini.
Layang-layang. Ia terbang sendiri bermodal rangkaian lidi yang direkatkan, dengan satu buah kertas besar yang cukup kuat. Ada sehelai kertas lain mengekor panjang dibelakang yang akan menjuntai indah, menari di langit saat ia dikobarkan dengan seutas tali senar. Menawan, bagi seseorang yang mencari ketenangan lalu melihat satu hiasan buatan itu bak terdiam diangkasa bumi, bermodal tarikan manusia dan angin alam.
Selayaknya kehidupan, layang-layang dirakit dengan ilmu, presisi, ketelitian dan modal. Sampai ia menjadi satu bidang datar cantik sesuai imajinasi. Kemudian diterbangkan dengan seorang rekan atau seorang diri. Menarik dengan kebanggaan hingga ia tersapu angin. Kepuasan saat menarik tali adalah kepuasan pribadi. Layang-layang akan terus berkobar tergantung kekuatan senar dan kekuatan pengendali senar tersebut. Meski mereka tahu angin diatas sangat tidak menentu kabarnya.