Jogja-k-arta
Hari ini Jogja terasa dingin. Malamnya makin sunyi. Hingga yg terdengar hanya detik jam dinding di kamar. Yang tiap detiknya seperti berhitung tibanya saatku meninggalkan kota ini. Rasanya campur aduk sih. Yg dulunya ogah-ogahan tidur di rumah, malah sekarang jadi ingin berlama-lama di kamar.
Teringat beberapa tahun lalu ketika baru mulai belajar, setiap kali orang tanya aku tinggal dimana pasti selalu diakhiri dengan "Loh kamu kan rumahnya Jogja, kok ngekos ?". Kadang ada yg kujawab sekenanya dan sambil bercanda. Tapi tak jarang kujawab dengan serius apa tendensi dibaliknya. Memangnya salah ya ngekos walaupun rumahnya satu kota hehe.
Walaupun Jogja memiliki UMP yg rendah di Indonesia--sangat rendah malah wkwk. Tapi indeks kebahagiaan Jogja menduduki posisi ke-8 secara nasional. Kurasa filosofi bahagia tak bisa diukur dengan uang benar-benar ada di Jogja. Memang kan, uang hanya bisa memberimu kebahagiaan pada level tertentu saja. Tapi anak orang butuh makan, brouw.
Oiya, sepertinya cuma di Jogja keinginanku melihat tontonan seni bisa terpenuhi kapan pun. Mau di jalan, di warung, atau pun di panggung yg memang disediakan pemerintah. Kapanpun. Cukup mengobati rasa sepi yg tiba-tiba datang tanpa permisi.
Terakhir, walaupun Jogja tidak romantis-romantis amat soalnya saya masih tuna asmara. Tapi bisa gak sih kenangan di Jogja bisa bikin aku nangis kelak ? Bisa dong ya, Ya Allah. Yayayayayaya.
Kusematkan video kawan-kawan sedang bermain musik folklore, supaya kalau kangen tinggal buka tumblr. Dengerin pake headphone biar bassnya yahud~











