Antara aku, bayanganku, dan yang membersamaiku.
Kala itu, sore adalah menjadi saat yang benar-benar ditunggu. Bukan hanya aku, tapi juga kau, dia, mereka; yang apabila dibuat satu cakupan menjadi kita.
Aku tidak pernah puas memandang lembayung senja. Aku dan kau, dia, mereka atau yang disebut dengan kita begitu terpukau, hingga mengucapkan berbagai perumpamaan indah akannya. Jingganya. Ia sepertinya merindu untuk bertemu malam, sehingga pergi dengan cepat tanpa permisi lagi.
Seiring berjalannya waktu, ia tenggelam, hingga menyisakan sedikit saja bayangan dalam remang-remang kegelapan.
Aku masih belum sadar, tiba-tiba hari menjadi gelap dan suara yang tadinya riuh menjadi sunyi dalam satu waktu.
Aku masih mengira bahwa ini adalah saatnya untuk berbisik, karena kita sudah berada dalam malam. Tabir di mana banyak mata yang akan memenjamkan diri.
Namun, aku masih belum mendapatkan jawaban. Hingga bayanganku sendiri mulai hilang. Aku memutuskan untuk duduk, diam menunggu fajar. Masih berpikir bahwa; mungkin yang lain terlalu lelah berbicara karena sudah mengeluarkan kekatanya saat senja tadi.
Kutunggu fajar, hingga langit mulai membiru. Aku menoleh ke kanan, ke kiri, belakang dan berjalan ke depan. Dengan harapan, ada orang di sini. Tapi nyatanya;
Ternyata aku ditinggalkan. Dan, satu hal yang aku sadari, bahwa...
Pada akhirnya, aku akan sendiri. Pun, yang lain.
Ini hanya tentang perbedaan waktu, kapan kesendirian itu akan datang. Ia pasti tiba.