Serah Berserah Menyerah Terserah
Katamu, namamu berarti ikhlaslah. Aku tahu, orangtuamu pasti menginginkan ketenangan hati padamu. Karena sungguh, tanpa ikhlas dan berserah hati yang tenang mungkin hanya angan. Untuk itu, teruslah berusaha menata hati agar dapat mendekati ikhlas itu. Sulit memang, dan aku tahu. Kamu bisa, dan aku yakin.
Batas berputar telah lewat. Yang ada sekarang hanya prinsip hidup yang kamu teorikan selama ini. Kini Tuhan menuntut praktiknya. Bahwa hidup itu pilihannya hanya dua, kalau tidak bersyukur ya harus bersabar. Maka setelah ini adalah waktu untuk membuktikan teorimu itu bukan hanya bualan semata. Bahwa kau bukanlah lelaki pecundang yang hanya bisa membual.
Aku tahu berat. Aku tahu kini rasa untuk mundur dan berputar justru semakin kuat. Bahkan setan membisikkan kekhawatiran berlebihan yang belum tentu terjadi. Semua belajar, semua butuh proses. Aku tahu kamu butuh belajar sabar begitu pula dirinya. Kalian harus saling menguatkan dan mengingatkan untuk lebih sabar lagi. Sekali kalian bergandengan tangan, sungguh Dia tidak suka kamu melepaskan gandengan itu. Perspektif tinggimu takkan mampu melampaui batas takdirmu. Percayalah seberapa dalam keyakinanmu, seberapa tinggi harapanmu, takkan pernah terwujud jika Dia tak bekehendak. Dan percayalah jalan ini adalah jalan yang terbaik. Meski kau belum memahami hikmahnya, namun kamu hanya perlu percaya. Maka waktu yang akan menjawab.
Maka pastikanlah dirimu telah siap menerima segala sesuatu dengan ikhlas karenaNya. Tangisanmu semalam justru membuat Ibumu malah semakin khawatir dengan kesehatan mentalmu. Bukan apa-apa, beliau tahu kamu kuat dan mampu melewati semua keraguan yang remeh ini. Semua hanya tentang waktu. Namun beliau khawatir, ini akan membutuhkan waktu yang lama. Dan bisa jadi, pada hari itu semua belum tuntas selesai. Yang pada akhirnya kamu hanya melukai perasaan dia. Ibu sangat khawatir perang batinmu belum selesai pada hari itu. Sungguh. Bahkan ketidakhadiran kakak tersayang justru kamu kaitkan dengan tanda dari Allah bahwa Dia tidak merestui semua ini terjadi. Tenanglah bahwa ini hanya bisikan setan semata. Namun perasaanmu valid, aku tidak menyangkalnya.
Aku paham betul kamu hanya takut. Respon dia yang sering meledak-ledak akan menyakiti perasaan keluargamu. Karena kamu tahu keluargamu jauh dari kesempurnaan yang dia bayangkan. Kamu takut jika ada hal kecil yang kurang sesuai padahal bisa ditolerir, dia akan meledak atau pun jika tidak dia akan memendam ketidaknyamanan dalam dirinya sendiri. Kamu kalah, dia kalah, tidak ada yang menang. Kemenangan hanya bisa diperoleh ketika kalian sama-sama bersabar dan menerima. Semua perubahan butuh proses. Semua proses butuh waktu. Dan waktu yang panjang hanya bisa dilewati dengan kepercayaan.
Karena tidaklah kau meninggalkan sesuatu karena-Nya melainkan diganti dengan hal yang lebih baik. Dan bisa jadi itu dirinya, seorang lain. Bersiaplah, bersiaplah. Hal yang tak baik untuk bersatu, takkan pernah disatukan. Meskipun kuntum telah berusaha gugur, percayalah dia takkan jatuh kecuali atas kehendak-Nya. Bahkan burung yang mencari makan jauh dari rumahnya, akan selalu menemukan jalan pulangnya. Maka, kembalilah ketika semua keyakinan telah sempurna untuk bersatu.
Dan ikhlaslah, karena aku tahu impianmu memiliki kehidupan yang nyaman, tenang, dan tentram mulai sekarang butuh perjuangan yang sangat berat. Sangat berat bila kau hanya mengandalkan dirimu sendiri. Jangan lupa untuk membagi peran dengan teman perjalanan. Percayakan dia peran itu. Jangan anggap dialah bebannya. Bersatulah, karena musuh sesungguhnya ada di luar. Kalian harus kuat dulu di dalam. Dan jangan lupa ada Dzat Yang Maha Kuat. Karena sungguh kalian hanya makhluk lemah dan jauh dari sempurna.