Kembali...
Dulu mereka mengatakan Akulah yang terbaik. Aku pun merasa saat itu semua usaha terbaik sudah dilakukan. Alam nya manusia tidak pernah merasa puas, Naas tak bisa ditolak ketika takdir berkata tidak ada kekuatan manapun yang dimiliki makhluk terbaik sekalipun bisa menolaknya. Sejak saat itu Aku pergi bersama kecewa, rendah diri, dan marah. Pergi tanpa tujuan, tanpa perbekalan, dan tanpa apa-apa lagi selain ketiga tadi. Bertahun-tahun berlalu hingga Aku bingung hendak ke mana lagi, tidak ada tempat untuk bersembunyi. Sudah banyak hari berlalu rasa rendah diri masih tetap sama. Jauhnya perjalanan akhirnya marah pun tertinggal entah di mana, terlihat baik tapi kini Aku bagaikan makhluk hidup segan mati tak mau. Aku sering menangis diam-diam ketika mengingat hari-hari terbaik yang pernah bersamaku. Suatu hari di hamparan samudra luas yang sering Aku kunjungi, Aku berfikir untuk kembali. Kembali menjadi manusia seutuhnya dan mencoba perlahan menerima. Tuhan menguji kita, apakah disaat seperti ini ketika semua pergi, apakah kita masih yang terbaik, setidaknya bagi diri kita sendiri.
Mei menulis- masyithah

















