Terpantau : turis lokal yang ditawari membeli oleh-oleh khas Jogja dalam perjalan 1 km menembus rintik.
--------------------------------
Sore itu mendung menggantung di langit disusul dengan hujan deras beberapa menit menjelang petang. Dari Kepatihan menuju Alun-Alun Utara, aku bersama ratusan pelajar mengular melakukan kirab membentuk barisan panjang.
Trotoar Jalan Malioboro penuh, kami mendendang mengikuti lagu ‘Ramadhan Tiba’ milik Opick yang diputar melalui sound system di atas pick up, hati kami bergemuruh. Penghuni jalan ikut bersuka cita, barangkali takjub dengan fenomena pelajar islam yang kerap dicap buruk oleh media yang tak senang perdamaian.
Ah, kami terlalu sibuk untuk menaruh peduli, deretan huruf yang berbentuk pemberitaan itu takkan mampu mematahkan semangat kami untuk terus menebar cinta.
--------------------------------
Usai berfoto dan bersalam-salaman di Alun-Alun, rintik hujan menderas. Sebagian orang menuju titik akhir di Masjid Gedhe Kauman, sisanya memilih segera berteduh di rumah atau tempat makan. Aku termasuk yang berteduh di tempat makan untuk menemani kawan berdiskusi soal organisasinya, sedang aku sibuk menghangatkan diri sambil mengisi perut.
--------------------------------
18.15. Hujan telah reda menyisa gerimis. Suasana terasa syahdu di pusat kota. Tersebeb enggan membakar kalori setelah mengisinya, kami memutuskan menumpang becak menuju motor yang terparkir di Kepatihan. Bapak becak motor menanyai kami terlebih dahulu sebelum duduk, “Nggak mau mampir ke pusat oleh-oleh khas Jogja dulu, Mbak?” Kami tertawa, mengaku kalau cuma sekedar turis lokal.
--------------------------------
Di atas becak, lampu-lampu gemerlap berwarna-warni. Sebagian sinarnya didifraksikan oleh aspal jalanan yang mengkilat terkena air hujan. Karena diam hanya menyisa dingin yang menembus kulit, tiba-tiba banyak cerita mengalir begitu saja. Tentang masa 4 tahun silam. Tentang drama putih abu yang mengiri jalan pendewasaan diri. Aku dan kawanku berbeda sekolah semasa SMA, tapi cerita kami begitu nyambung karena kebetulan saling tahu masalah dan orang-orang yang menjadi pelengkap cerita kami.
--------------------------------
Di trotar setapak dekat Jalan Suryatmajan, aku menyadari sekali lagi. Hidup ini penuh humor bertebaran. Sesuatu yang dulu pernah membuatmu begitu sedih, kesal, marah, kecewa, pada akhirnya hanya akan ditertawakan. Bukan sekedar karena berhasil melaluinya, terlebih karena saat semuanya telah lewat, kamu menyadari bahwa sesuatu itu begitu konyol untuk dirasai terlalu dalam.
--------------------------------
Jadi kejutan apa lagi yang akan kutertawakan nanti pada masanya?
--------------------------------
Ps : jadi orang jangan suka merasai hati atau terlalu bawa-bawa perasaan, Cik. Santai saja 😊