One Day After Appa Went to Work
Satu hari setelah Appa pergi bekerja. Pagi ini terasa sangat sepi di apartemen Appa. Aku bangun terlalu pagi. Masih ada sekitar 15 jam sampai Appa pulang. Aku membuat sarapan dan mencuci piring bekas makan malamku. Hari ini kuputuskan merebus beberapa sayur dan membuat omelet kesukaanku. Appa juga menyukai omelet buatanku ini. Dia bahkan selalu minta dibuatkan dobel. Aku selalu suka membuatkan makanan yang diminta Appa. Walaupun kami belum lama tinggal bersama, tapi soal makanan kesukaan Appa sudah banyak yang kuketahui. Saking semangatnya aku membuat sarapan untuk dua orang. Satu untukku dengan porsi single dan satu lagi untuk Appa dengan porsi jumbo. “Astaga apa yang kulakukan?” Kataku pada diri sendiri. Aku tak sadar sudah membuatnya. Padahal pagi ini aku hanya sendiri. “Sepertinya hari ini aku akan menunggu Appa sambil memakan omelet sepanjang hari.” Keluhku sambil menaruh omlet-omlet itu ke dalam piring. Kususun semua makanan yang sudah jadi di atas meja di ruang keluarga. Kami memang punya meja makan yang berukuran sedang. Tapi aku dan Appa lebih senang makan sambil menonton televisi. Tepat pukul 7 pagi semua makananku sudah siap untuk disantap. “Ckreek!” Terdengar suara pintu yang dibuka dari ruangan sebelah. Sambil berlari kecil kudekarkan telingaku menuju pintu apartemen. Sambil menahan degup jantung yang semakin keras, kuberanikan diru untuk mengintip dari balik pintu. “Ternyata benar dia.. Hm, kenapa pulang pagi-pagi sekali? Apakah dia tidak ada jadwal?” Tanyaku sendiri. Selang beberapa detik aku memutuskan untuk kembali menyusun makan besarku. Walau aku tak yakin bisa menghabiskannya. Sembari makan aku teringat ajjushi penjaga apartemen kami. Kupikir beliau akan senang jika aku membawakan sarapan untuknya. Kukemasi masakanku yang masih belum kusentuh kedalam tempat makan. Aku yakin ajjushi pasti belum sarapan, tidak ada salahnya untuk berbagi dengan beliau. Sekitar sepuluh menit berlalu, aku bergegas untuk turun ke lantai dasar menemui ajjushi penjaga apartemen. Kurapikan rambut dan pakaianku sambil menuju pintu apartemen. Aku memencet nomor 1 pada tombol lift. Lift bergerak turun secara perlahan. Apartemen yang aku tinggali berada di lantai 10 jadi kuperkirakan 3-5 menit aku bisa sampai ke lantai satu. Ketika lampu tombol mulai turun menuju angka 5, tiba-tiba lampu tombol naik kembali ke angka 6. Aku sedikit kaget, bagaimana bisa aku kembali ke atas sedangkan aku sudah separuh jalan?! Aku menggerutu ringan. Penasaran siapa yang memencet tombol sehingga aku harus kembali naik. Saat ini lampu tombol berada di angka 8, lalu 9 dan berhenti di lantai 10. Benar-benar tidak masuk akal, bisa-bisanya aku kembali pada lantai apartemenku. Ini sama saja mengulang dari awal. Sambil memasang wajah masam aku menunggu pintu lift terbuka. Menanti orang yang telah membawaku naik ke lantai 10 lagi. Aku berharap setelah melihat wajahku orang tersbut bisa menyesali perbuatannya. Namun pada kenyataannya saat lift terbuka mulutkup pun ikut terbuka melihat orang yang berada di luar lift. Dia, si tetangga sebelah yang tadi pagi baru saja membuka pintu apartemennya. Dia yang sekarang juga nampak canggung untuk masuk ke lift karena melihatku. Dan saat ini aku berharap dia benar-benar canggung dan mau menggunakan lift yang lain. Namun dia tetap masuk dengan langkah ragu. Aku menggeser sedikit tubuhku agar kami tak bersentuhan. Lift turun amat lamban kali ini. Entah perasaanku saja atau memang benar adanya. Atmosper dalam lift bergant menjadi kecanggungan. Udara menjadi panas dan sesak. Tak satu patah kata pun yang keluar dari mulut kami. Aku melihat pantulan dirinya dari pintu lift. Ku amati semakin tajam dan dalam. Hm.. ini memang dia. Masih sama seperti sebelumnya. Hanya terlihat sedikit lekukan di dahi dan kantung mata yang abu. Dia nampak lelah. Dia memang selalu begitu. Ya, begini saja. Kumohon, seperti ini sedikit lagi. Paling tidak hingga pint lift terbuka. “Ehm…” Dia berdeham sebentar. Aku mulai sedikit panik. Aku tak lagi fokus pada pantulan dirinya. Aku mulai menunduk dan terdiam. Sungguh, hari ini aku tak ingin berkata apapun kepadanya. Tolong, jangan katakan apapun hari ini! “Apakah hari ini Appamu sedang pergi, Sara?” Tanyanya mebuka pembicaraan. Aku berpikir keras untuk menjawab pertanyaannya. Ketika aku menjawab maka akan ada pertanyaan lagi dan lagi hingga pintu lift terbuka. Namun jika aku tidak menjawab, akan terkesan aku mengcuhkan orang lain. Perbuatan yang tidak baik untuk seorang pengajar sepertiku. “Ya.” Jawabku singkat. Aku mengintip dari balik tundukan wajahku untuk melihat gimiknya dirinya yang memantul. Sepertinya dia akan kembali bertanya. “Kapan dia berangkat?” “Kemarin.” Jawabku cepat dan singkat. Tanpa kusadari jawaban tersebut membuat dia terus bertanya. Hingga pertanyaan terakhir yg dia ajukan ketika tombol lift menunjukkan angka dua. “Apakah kau tidur nyenyak tadi malam?” Tanyanya dengan nada merendah. Pertanyaan itu membuatku tak bisa tenang, tak bisa hanya membalas dengan satu kata lalu terdiam kembali. Aku merasa tiba-tiba dia menjadi bodoh dan kehilangan akal. “Apakah aku harus menjawab pertanyaanmu setelah apa yang kamu lakukan padaku, Oppa?” Dia sedikit kaget dengan jawaban yang kuberikan. Belum selesai dia ingin menjelaskan, mulutku sudah kembali berciap-ciap. “Kuharap kita bisa menjalani hidup kita masing-masing tanpa mengganggu satu sama lain! Seperti katamu.” Lanjutku tegas. Pintu lift terbuka sebelum dia mulai membalas pertanyaanku. Udara mulai menyeruak masuk secara perlahan. Angin semilir menyapu butiran keringat di tubuhku. Aku melangkah pergi meninggalkan dirinya. Mengunci rapat-rapat semua kenangan yang pernah ada diantara kami. Aku tak ingin melihat kebelakang. Walau raganya masih disana, tapi tidak dengan hatinya.
-shinta saragih, 2017-













