Semua masih menjadi biasa, sebelum kamu tertawa di sudut ruangan berparas putih susu. Lembut, selembut sutera yang menghangat tanpa kilau mentari. Aku masih mempertaruhkan penglihatan, suara hati semakin menggema selayaknya tawanan di penjara Nusakambangan. Iya, aku tidak seberani para koruptor yang mengambil hak masyarakat, aku hanyalah seorang pria yang meminang janji pada sajadah pada malam-malam sepertiga. Untuk apa? Untuk tidak melihat lebih lama kepada kaum hawa. Apa daya, sekelebat demi sekelebat bayangan itu mencuri sisi lain dalam imaji. Ia seraya langit berwarna dengan lengkungan mejikuhibiniunya. Aku kalah, ia menang, ia berhasil membuat pandanganku beralih. Tidak lagi melirik ke arah keramik yang dilapisi karpet hijau dengan sentuhan kasar bersemburat beludru.
Untuk waktu sedikit saja ia kembali mengundang perhatian. Ada rasa yang mengudara bersama derap nafas yang semakin kedap suara. Kamu seperti hembusan angin dari ufuk pegunungan paling sejuk seantero bumi. Mengalahkan suhu tinggi yang mencapai klimaksnya saat kita mulai bersimbah keringat di ruangan ini – di ruangan yang kita namai surga berbagi.
Ada aroma mewangi dari sekujur ruangan saat kamu mengedarkan senyuman untuk kami, saat kamu mencairkan suasana lewat lagu. Tidak ada nyanyian memang, sebab kamulah nyanyian diantara musikalisasi paling merdu. Pianika yang kamu suarakan semakin merebut dinamisasi hati ini. Lagi-lagi aku tidak bisa menahan pandangan, saat matamu menyuarakan panggilan diam-diam lewat tatapan pencurian ke arahku, iya ke arahku. Kita tidak bisa saling sembunyi lagi kan? Kita tahu ada yang namanya komunikasi hanya lewat diamnya sikap. Namun, tatapan itu seakan mengajakku untuk berlama-lama di sana. Bercanda tawa di dalamnya. Meski kita tidak saling mengenal, meski kita baru dipertemukan Tuhan.
Sampai detik yang entah ke berapa pada malam itu, kita masih bisu, keberanian nyatanya semakin tersimpan erat pada dada kita. Sekitar semakin membiru bersama dinginnya sikap. Kita tidak berdua saja, banyak pasukan surga kebaikan yang berlalu lalang di sini. Kamu sibuk berbicara dengan yang lain, begitupun aku. Namun, kita masih saling menyuarakan obrolan lewat dalamnya tatapan yang saling kita curi-curi pada sempitnya kesempatan. Sampai pada akhirnya seisi ruangan meninggalkan peran. Anak-anak asuh yang bermain peran pun sudah bersalaman tanda perpisahan. Lantas kita? Masih sama, tidak ada suara untuk sekadar bertanya nama. Kita pergi. Meski sebelumnya sempat membekukan waktu lewat jepretan kamera. Memasukkan senyuman paling manis untuk diabadikan. Kamu tahu, pada saat itu aku ingin berada di dekatmu, bersanding di sampingmu, hingga saat foto itu dikirimkan lewat media sosial, kamu bisa memperhatikanku. Namun, semua hanya bayangan saja. Wajahku tertutup kilatan lampu warna-warni. Buram. Tidak sejelas pria yang berada sesisian denganmu.
Langit mulai temaram. Kita meninggalkan senyuman tanda perpisahan. Kita? Bukan kamu dan aku kan, sebab aku terlalu kaku untuk berpamitan pulang denganmu. Aku hanya bertukar salam dengan teman-temanmu yang lain. Sedangkan ke kamu, aku hanya bertegur senyum lewat tatapan yang masih dalam, menundukkan pandangan, lantas masuk kembali ke dalam mobil dengan dada yang tak karuan rasanya.
Bagaimana jika rindu ini benar-benar merindu?
Ah, bukankah kita baru dipertemukan, semoga saja rindu ini terilis dengan sendirinya. Aku masih galau untuk urusan perasaan. Aku terus belajar tentang makna menjatuhkan pilihan, menjatuhkan hati pada sebuah cinta yang sebenarnya bisa saja salah kan?
Keyakinan membawaku pada keberanian, bilamana harus mencintai seseorang aku pun harus siap dengan mahar perkawinan. Karena mencintai tidak sesederhana jatuh cinta. Kepastian selalu ada pada setiap rupa-rupa rasa yang bertumbuhan. Dan semoga Dzat Yang Maha Cinta selalu mengamankan perasaan ini sebaik-baiknya. Hingga kita (mungkin saja) dipertemukan Tuhan kembali lewat jalan-jalan kebaikan lain. Saat kita sudah sama-sama saling memahami seperti tadi, seperti obrolan antara tatapan mata kita di sempitnya kesempatan. Jadi, tidak usah saling berucap cinta kan? Bukankah kita sudah tahu kalau memang saling mencinta, saling mempunyai rasa yang serupa.
Al Farisi -- dalam cerita cinta kehidupan