Kita memandangi sesuatu yang sebenarnya sudah tidak ada,
dengan sepasang mata yang sudah tidak bisa melihat;
sesuatu yang buram pudar,
sesuatu yang musnah dan berpendar,
sesuatu yang sudah lama lenyap dan menghilang,
sesuatu yang tidak akan merangkai dirinya lagi,
sesuatu yang tidak ada pada satu dua bait puisi,
sesuatu yang mengingkari janji,
sesuatu yang menggegas diri untuk pergi,
sesuatu yang sengaja melupakan jalan untuk kembali,
sesuatu yang tidak ingin diingat,
sesuatu yang sudah lupa rasanya hangat,
sesuatu yang beranjak,
sesuatu yang kini kutulis dalam sebuah sajak.
Tak apa;
kita memang bukan siapa-siapa.
Ini juga aku tulis di kereta,
dijalan tanpa tujuan
---puisi dalam “Yogyakarta: tentang sesuatu”
--------------------------------------------------------------------------------------------------------|
Tidak ada hubungan antara gambar dan puisi di atas. Selain saat melihat gambar itu, aku teringat puisi [yang entah lupa ditulis oleh siapa] tersebut. Pun sebaliknya, saat membaca puisi tersebut, aku ingat gambar itu.
Gambar yang aku ambil sendiri dengan kamera ponsel seadanya. Cukup menyimpan gemerlap cahaya kota dari ketinggian --yang sebenarnya jauh lebih indah dipandang dengan mata secara langsung--. Tak pernah terpikir bahwa gambar asal jepret itu kini bisa membawaku kembali pada ingatan satu tahun lalu.
Aku yang baru belajar keluar dari zona nyaman, yang memberanikan diri melangkah dan berlari di tempat asing, yang masih begitu penasaran dengan dunia luar, yang masih sangat bersemangat itu.
Aku yang mulai tidak takut pergi untuk mencoba petualangan baru. Mendatangi tempat-tempat yang ‘kata orang’ menarik. Kerikil kecil tak menghalangi langkahku. Berani berteriak membuka diri dan menceritakan tentang ‘siapa aku’, sesuatu yang sebelumnya hampir tak pernah kulakukan. Pergi dan pulang semauku. Hahahaa ... senang mengingatnya.
Namun, kenangan tinggal kenangan. Masa-masa itu sudah lewat. Masa yang katanya menyenangkan itu perlahan memudar dan semakin menghilang. Gemerlap cahaya lampu-lampu indah itu mulai meredup dan satu per satu mulai padam. Aku kembali menjadi aku yang sebelumnya. Aku yang takut akan dunia luar. Mulai beranjak, membangun benteng dan menetap di zona nyamanku lagi. Entah apa yang salah. Kenangan yang pergi lalu aku merasa kehilangan, atau aku yang pergi kemudian menyakiti diri sendiri?
Yang mana pun itu, saat ini aku sedang tak mau kerikil-kerikil itu menyakiti kaki.