Filosofi Kereta
------------
Laju kereta yang cepat, perpindahan platfrom selalu menuju kedepan, tepat pada trek rel membuat kereta menjadi salah satu metafora terbaik untuk mendeskripsikan 'anugrah' yg sering disebut kehidupan. Dari musisi sampai motivator, sering kali menjadikan kereta sebagai sebuah kata indah untuk merepresentasi elegi hidup.
.
.
Sejak lahir, seseorang sudah diberi kepercayaan untuk menjadi penumpang kereta bernama kehidupan. Sudah pasti satu gerbong adalah milik satu orang. Di sana terisi dengan orang-orang yang dipercayakan untuk mengisi hidup entah untuk berfoya-foya atau memberi nilai. Pertama, diisi oleh komunitas utama yang disebut keluarga dan orang tua menjadi peran utamanya. Seiring waktu berjalan, manusia akan mengijinkan orang asing untuk memasuki gerbongnya entah menjadi teman, pacar, musuh apapun itu. Terkadang seseorang akan lupa bahwa ada kalanya kereta akan berhenti untuk berganti penumpang. Ada yang turun karena berpisah gerbong dan mempunyai jalan hidup lain, ada juga yang turun karena memang sudah berhenti. Namun tiap kenangan akan tertempel pada tiap-tiap udara yang mengisi gerbong.
.
.
Semakin lama kereta berjalan, semakin manusia akan ngisi diri dengan ambisi, cita-cita dan harapan yang terkadang tidak sesuai dengan arah rel kereta. Ketika itulah acap kali seseorang akan menengok kebelakang seakan lupa bahwa kereta akan terus melaju. Tak jarang bahkan meminta masinis untuk berhenti sebab mungkin lelah atau tak berdaya, mungkin karena hujan badai yang tidak kunjung henti sehingga membuat arah jalan seakan berkabut.
.
Semakin jauh kereta berjalan, semakin banyak penumpang yang datang dan pergi. Semakin banyak pertanyaan yang mungkin masih menjadi sebuah premis tanpa kesimpulan. Tugas manusia hanya bisa bertahan. Bagaimanapun hidup akan terus berjalan, sampai nanti akan berhenti kita masa harus habis.


















