Tiba-tiba.
Dari sekian banyak hari yang menyenangkan, hari-hari muram tetap saja menjadi yang paling diingat. Entah karena tidak pandai berpuas hati, atau kita ini memang senang sekali meng hiperbola kan kesakitan-kesakitan.
Dari sekian banyak kesakitan-kesakitan yang hadir dan tanpa bisa dipilih, hal yang selalu paling bisa menyerang ke ulu hati adalah sebuah “ketiba-tibaan”.
Tiba-tiba pergi,
Tiba-tiba menghilang,
Tiba-tiba tidak ada kabar,
Tiba-tiba tiada.
Ketiba-tibaan dan ketiadaan adalah sebuah keniscayaan. Menikam dan menghujam dengan ganda, dan seringkali menyisakan dada yang sesak seolah-olah oksigen mendadak sangat mahal untuk digapai.
Bukan hidup namanya kalau sesekali tidak bajingan. Berulang kali bertanya meski sudah jelas tidak ada jawabannya; apapun yang hilang, terlebih secara tiba-tiba, mendadak. Kita tidak pernah benar-benar siap.













