Umara' Teladan
Terkisah Hisyam ibn Abdil Malik ketika masih menjabat sebagai gubernur suatu daerah, sedang melaksanakan haji bersama keluarga dan pejabat terasnya di Makkah. Syahdan, terbersit di pikiran beliau untuk bertemu seorang sahabat Nabi. Sayang, sahabat terakhir saat itu sudah wafat.
Akhirnya, dicarilah tabi'in untuk menggantikan sahabat yang semuanya telah wafat. Dan dipanggillah sosok Thawus Al Yamani mewakili jajaran tabi'in, untuk menemui Hisyam di persinggahannya.
Dan Thawus pun datang, lantas ia mengucapkan salam, “Assalamualaikum…” Lalu ia melepaskan sendalnya di depan permadani merah nan mewahnya. Dan tanpa permisi, ia berjalan ke hadapan Hisyam, lalu duduk di sampingnya, dan bertanya, “Apa kabarmu, wahai Hisyam?”
Hisyam naik pitam. Kurang ajar sekali, batinnya. Ia nyaris berniat membunuh Thawus, namun Thawus sendiri yang menenangkannya. “Anda sekarang berada di tanah suci Allah dan tanah suci Rasul-Nya. Karenanya, Anda dilarang berniat buruk seperti ini.”
Masih dalam keadaan marah, Hisyam menjawab, “Kenapa Anda bertindak kurang ajar begini padaku?”
Thawus menjawab, “Apa yang saya lakukan?”
Lalu disebutkanlah “dosa-dosa” Thawus oleh Hisyam, “Anda menanggalkan sendalmu di depan permadaniku. Anda masuk tanpa salam ta'zhim dan tidak mencium tanganku, pun tak memanggilku dengan nama kehormatanku. Anda pun duduk di sini tanpa permisi. Bukankah ini penghinaan?”
Dijawablah oleh Thawus dengan amat tenang,
“Wahai Hisyam, kutanggalkan alas kakiku ini karena aku pun menanggalkannya setiap hari lima kali di hadapan Allah. Ia tak marah, apalagi murka dengan perbuatanku,
Wahai Hisyam, aku tak mencium tanganmu lantaran aku pernah mendengar Ali ibn Abi Thalib berkata bahwa seseorang tidak boleh mencium tangan orang lain kecuali tangan istrinya karena syahwat, dan tangan anaknya karena kasih sayang.
Wahai Hisyam, aku tak mengucapkan salam ta'zhim kepadamu dan menyebutmu amirul mu'minin karena tak semua orang ridha dengan kepemimpinanmu. Karenanya, aku enggan berbohong.
Wahai Hisyam, aku tak memanggilmu dengan gelar kehormatanmu, dan menyebutmu dengan nama kunyahmu, karena Allah memanggil para kekasihnya dalam Al Qur'an dengan sebutan nama semata, seperti Ya Dawud, Ya Yahya, Ya ‘Isa. Dia justru menggunakan nama kunyah untuk menyebut nama musuh-Nya, seperti Abu Lahab.
Wahai Hisyam, aku duduk di sampingmu lantaran aku mendengar Ali pernah berkata, ‘Apabila Anda ingin melihat calon penghuni neraka, lihatlah orang yang duduk sementara orang-orang di sekelilingnya berdiri.’”
Setelah terjawab semua “kekurangajaran” Thawus, Hisyam yang tadinya murka malah balik bersimpati padanya. Bukan hanya itu, ia pun meminta nasihat lagi pada Thawus. Thawus pun berkata, “Aku mendengar Ali berkata dalam satu nasihatnya, ‘Sungguh, dalam api neraka ada ular-ular yang berbisa dan kalajengking raksasa yang menyengat setiap pemimpin yang tidak adil terhadap rakyatnya.’”
Semoga di zaman ini, ada pemimpin layaknya Hisyam, yang dekat dengan ulama dan mengambil nasihat-nasihat mereka.
Disarikan dari buku “Sejarah Para Khalifah” karya Hepi Andi Bastoni, Lc., halaman 64-65, dengan penyuntingan seperlunya.

















