Takaful
Setelah perjalanan panjang yang terasa cepat di 2021, satu pertanyaan yang kemarin-kemarin sempat terlontar dari seseorang, membuatku semakin berefleksi.
"Apakah mbak punya kekurangan?"
Pertanyaan sebenarnya tidak se-lugas itu, tapi aku tahu yang dimaksud demikian.
"Kata siapa nggak punya?" Tanyaku retoris.
Rasa-rasanya, kalau pertanyaan itu ditujukan ke setiap orang dan dijawab dengan jujur, tentu saja ada. Meski harus kuakui, 'kadar' dan bentuk kekurangan itu bisa berbeda-beda.
Ditanya begitu, aku jadi banyak bercerita.
Iya, kekuranganku banyak dan beragam. Bahkan, aku masih sangat ingat saran yang dituliskan guru TK-ku di rapor dulu. Saran yang sepertinya masih tetap PR bagiku sampai sekarang. Apa itu? Rahasia :)
Saat bercerita, sejenak aku merasa lega. Lega melihat diri sendiri yang sudah berdamai dengan segenap kekurangan yang dimiliki. Tapi hari ini, terpikir kembali bagaimana jika kekurangan-kekurangan itu kemudian menjadi beban.
Dulu, sewaktu SMA, pertama kali aku mendengar konsep takaful dari seorang guru matematikaku. Saat itu, beliau menjadi wali kelasku dan menceritakan tentang rukun ukhuwah. Rukun pertama ta'aruf, hingga rukun keempat adalah takaful.
Takaful. Saling memikul beban. Saling meringankan.
Berat, memang. Apalagi jika merasa diri kita yang menjadi beban bagi orang lain. Merasa kita yang harus selalu 'diberi'. Selalu diliputi pertanyaan, "bisakah aku lebih baik?".
Di suatu kesempatan, guruku juga berpesan.
"Kalau ada teman yang beda sama kamu, jangan dijauhi. Barangkali dia ladang dakwah, ladang kebaikan kamu."
Wah, mendengar kalimat begitu, apa yang terjadi denganku?
Menangis saat itu juga.
Mungkin itu sebabnya, persaudaraan yang dilandasi keimanan dijanjikan surga. Karena berat, berat sekali.
Kalau kata seorang Mbak, kita harus terapkan mindset yang berbalik tentang kekurangan dan kelebihan seseorang ini.
Terhadap kekuranganmu, bersabarlah. Pada kelebihanmu, bersyukurlah. Sebaliknya. Terhadap kekurangannya, bersyukurlah. Pada kelebihannya, bersabarlah. Dengan begitu, hidup kita akan lebih tenang. Bagiku, jika dirunut mindset ini juga senada dengan konsep takaful.
Pada akhirnya, setiap kekurangan yang ada akan selalu menjadi PR untuk terus berbenah. Itu ujian, maka melampauinya dengan baik adalah suatu bentuk kebaikan. Bukan, mengakui kekurangan bukan untuk memakluminya. Tapi, menerimanya dan berusaha lebih lagi.
"Mbak, kira-kira apakah bisa?"
Pertanyaannya kemarin juga adalah pertanyaanku untuk diriku.
"Bisa, bismillah." Kataku, menutup bahasan kami sore itu.
Semoga, semoga selalu diberi kesabaran dan dimampukan dalam prosesnya.
Kuningan, 31 Desember 2021. 23:10 WIB














