Saudara sekalian. Allah subhanahu wata’ala telah berfirman dalam al-Quran surah at-Taghabun ayat 12:
وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ ۚ فَإِن تَوَلَّيْتُمْ فَإِنَّمَا عَلَىٰ رَسُولِنَا ٱلْبَلَٰغُ ٱلْمُبِينُ
Ingkang artosipun: Dan taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada RasulNya subhanahu wata’ala. Maka, jika kamu berpaling, sungguh kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Kami) dengan terang.
Salah satu rukun Iman yang harus kita pegang kokoh adalah percaya akan takdir yang telah menjadi ketetapan Allah subhanahu wata’ala. Mengapa demikian? Itu karena segala hal seperti rezeki, kematian, nasib baik, nasib yang kita tidak begitu berkenan dengan nasib tersebut merupakan berasal dari Allah subhanahu wata’ala.
Artinya, ketika manusia manusia masih berwujud janin dalam kandungan ibu, Allah subhanahu wata’ala tetapkan takdir kehidupan untuk si jabang bayi tersebut. Sejak kita belum terlahir ke dunia, kita telah diberikan kesempatan untuk ikhtiyar. Adapun nilai tentu sepenuhnya kita pasrah kepada Allah subhanahu wata’ala, karena Dia adalah Yang Maha Adil dalam menentukan segala perkara. Kita sebagai manusia sudah seyogyanya ridho dengan ketentuan-ketentuanNya subhanahu wata’ala.
Perlu kita ketahui bersama bahwa sesungguhnya manusia dicipta dengan perangkat-perangkat sebagai sarana untuk kita taat kepada Allah subhanahu wata’ala. Sebagai pengingat bagi kita semua bahwa segala indra yang dianugrahkan kepada kita, seperti indra penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, maupun pencecap, atau indra lain selain panca indra tersebut merupakan sarana bagi kita umat manusia berikhtiyar menuju kepada ridho Allah subhanahu wata’ala, melalui berbagai macam ketaatan dengan selalu istiqomah menjalankan segala perintah Allah subhanahu wata’ala dan menjauhi laranganNya subhanahu wata’ala.
Dalam kitab Al-Majalis As-Saniyyah[1] telah dijelaskan:
اَلْمُكَلَّفُوْنَ عَلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ اَلْقِسْمُ الْأَوَّلُ قَوْمٌ خَلَقَهُمُ اللّهُ تَعَالَى لِخِدْمَتِهِ وَلِجَنَّتِهِ وَهُمُ الْأَنْبِيَاءُ وَالْأَوْلِيَاءُ وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالصَّالِحُوْنَ
Artinya: Orang mukallaf itu dibagi menjadi empat golongan:
Golongan pertama ialah kaum yang telah diciptakan oleh Allah subhanahu wata’ala agar selalu mengabdi kepadaNya dan akan ditempatkan di surgaNya subhanahu wata’ala. Golongan ini merupakan golongan para nabi, para wali, orang-orang mukmin dan orang-orang saleh.
وَالْقِسْمُ الثَّانِى قَوْمٌ خَلَقَهُمُ اللّهُ تَعَالَى لِجَنَّتِهِ دُوْنَ خِدْمَتِهِ وَهُمُ الَّذِيْنَ عَاشُوْا كُفَّارًا ثُمَّ خُتِمَ لَهُمْ بِالإِيْمَانِ
Golongan kedua merupakan kaum yang telah diciptakan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk menempati surgaNya subhanahu wata’ala, meskipun sepanjang hayat tidak pernah beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala. Ini merupakan golongan orang-orang kafir maupun orang yang sepanjang hayatnya menjalankan maksiat. Hanya, di akhir hayatnya lantas orang-orang ini kemudian bertaubat dari segala yang telah dilakukan di dunia dengan menjalankan amal saleh di sisa kehidupan sehingga tercatat sebagai orang yang beriman.
وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ قَوْمٌ خَلَقَهُمُ اللّهُ تَعَالَى لَالِخِدْمَتِهِ وَلَالِجَنَّتِهِ وَهُمُ الْكُفَّارُ الَّذِيْنَ يَمُوْتُوْنَ عَلَى الْكُفْرِ حُرِمُوْا فِىى الدُّنْيَا نَعِيْمَ الْإِيْمَانِ وَفِى الْآخِرَةِ يُعَذَّبُوْنَ بِالْعَذَابِ وَالْهَوَانِ
Golongan ketiga ialah kaum yang diciptakan oleh Allah tidak untuk berkhidmat kepadaNya subhanahu wata’ala dan tidak pula untuk menghuni surgaNya subhanahu wata’ala. Ini merupakan golongan orang-orang kafir yang terus melaksanakan kekafiran hingga akhir hayatnya. Di dunia tidak bisa merasakan nikmat iman, di akhirat malahan mendapatkan azab dari Allah subhanahu wata’ala serta direndahkan pula derajatnya, na’uzubillah min zalik.
اَلْقِسْمُ الرَّابِعُ قَوْمٌ خَلَقَهُمُ اللّهُ تَعَالَى لِخِدْمَتِهِ دُوْنَ جَنَّتِهِ وَهُمُ الَّذِيْنَ كَانُوْا عَامِلِيْن بِطَاعّةِ اللّهِ ثُمَّ مَكَرَ بِهِمْ
Golongan keempat ialah kaum yang telah diciptakan Allah subhanahu wata’ala untuk berkhidmat kepadaNya subhanahu wata’ala, tapi saying tidak menempati surgaNya subhanahu wata’ala. ini merupakan golongan orang yang taat kepada Allah subhanahu wata’ala Idi sepanjang hayatnya namun kemudian di akhir hayatnya nia menjauh dari Allah subhanahu wata’ala sehingga ketika maut datang menjemput ia ditetapkan dan dicatat sebagai orang yang kafir dari Allah subhanahu wata’ala, na’uzubillah min zalik.
Ya muqollibal qulub, tsabbit qulubana ‘ala dinik. Semoga kita senantiasa diberikan kemudahan untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangannya subhanahu wata’ala hingga maut memisahkan ruh ini dari raga kita. Amin.
[1] Karya Syaikh Ahmad bin Syaikh Hijaz Alfasyani