Seorang gadis kecil berusia 7 tahun berjalan dengan begitu riangnya. Tiap langkah kakinya bergerak, mulutnya pun tak hentinya menggumamkan sebuah lagu. Terik matahari yang menyengat kulit seakan tak memberi pengaruh moodnya untuk memburuk.
Sebut saja ia Rinai. Gadis kecil yang selalu jatuh hati pada benda apapun berwarna kuning. Seperti tas ranselnya yang berbentuk burung hantu. Yang dianggapnya teman menjalankan misi.
Siang ini Rinai kembali berhasil menjalankan misinya. Sebuah misi sederhana yang diajarkan oleh sang Ibu. Menjadi sebuah rutinitas disetiap hari Jum'at sepulang sekolah.
"Assalamualaikum Ibu..." ucapnya ketika sampai di rumah.
Sang Ibu yang sedang sibuk di dapur segera berlari kecil menuju pintu ketika mendengar suara putri kecilnya.
Dengan senyum tersungging menjawab, "Waalaikumsalam Sayang... Gimana Jum'at ini, misi kita berhasil Agen Rinai?"
"Berhasil Komandan!" balas Rinai dengan sikap bergerak hormat.
Tak lupa setelah mendengar jawaban Rinai, mereka berdua melakukan tos khas kerberhasilan misinya. Gerakan tos sederhana yang diakhiri dengan jari menyerupai bentuk hati ala Korea.
"Apa yang Agen Rinai lihat hari ini?" Ibu membuka sesi pertanyaan untuk mengevaluasi misi hari ini. Sekaligus menemani si putri kecil makan siang.
"Hmm...aku liat senyum banyak orang hari ini Komandan. Dari yang ibu-ibu, kakek atau nenek juga adik-adik kecil. Mereka senyum Komandan, mereka kenal sama Rinai ternyata." cerita Rinai menggebu.
"Tapi Komandan..." Ada setitik ragu pada Rinai untuk melanjutkan kalimatnya. Wajahnya pun berubah sendu.
Ibu dengan cekatan mengusap rambut sebahu Rinai dengan lembut. Memberi isyarat melalu matanya, agar Rinai kembali melanjutkan.
"Rinai juga lihat ada yang nangis tadi, apa dia gak suka sama apa yang Rinai kasih ya?"
Ibu tersenyum lembut, "Apa dia nangis karena Agen Rinai gak kasih cokelat kacangnya? Atau nangis setelah Agen Rinai kasih cokelat kacang?"
"Kamu tau nak, terkadang seseorang meluapkan apa yang dirasakannya dengan berbagai cara. Ketika seseorang sedang bahagia contohnya, ada yang meluapkannya dengan senyum lebar, lompat-lompat kesenangan,atau juga dengan air mata.
"Tapi Rinai perlu tau, dia bukan menangis karena sedih. Tetapi karena dia terlalu bahagia. Lebih tepatnya, terharu. Perasaan bahagia yang membuncah."
Rinai mendengarkan dengan serius lalu bertanya untuk memastikan, "Jadi nenek-nenek tadi bukan nangis karena sedih Bu?"
Ibu menggeleng dengan senyum. "Bukan. Tapi menangis bahagia. Kamu tau karena apa?"
Ganti Rinai yang menggeleng.
"Mereka bahagia sebab masih ada orang-orang di luar sana yang masih peduli padanya. Masih ada yang ingin berbagi apa yang dipunya terhadap sesama.
"Sebab itu, bahagia tak melulu pada diri kita yang selalu menerima sesuatu. Bahagia sama pula artinya dengan berbagi. Ketika kita berbagi dengan orang lain, lalu melihat senyumnya. Sudah tentu bahagia itu menular pada diri kita. Agen Rinai bahagia melihat senyum mereka?"
Dengan lugas Rinai menganggukan kepalanya. Senyumnya bertambah dua kali lipat lebih ceria dari yang tadi. "Bahagia!"
Hal-hal sederhana seperti inilah yang selalu diajarkan oleh sang Ibu pada putri kecilnya. Sebuah misi Berbagi Kebahagian namanya. Cukup sederhana dengan membagikan sebungkus cokelat kacang buatan Ibunya kepada orang-orang yang ditemuinya di jalan pulang menuju rumah.
Memang terkadang kebahagiaan pun perlu dibagikan kepada sesama. Sebuah bentuk dari kepedulian juga rasa syukur kita menjadi hamba-Nya.