#23 Mereka Berhak Tau
Jalan hidup seseorang memang tidak ada yang pernah tau. Akan mengalami apa atau bertemu dengan siapa. Kali ini semesta mempertemukan Raina dengan seseorang yang tidak pernah kusangka akan mewarnai harinya, sebut saja Aksara. Aksara, laki laki yang mampu menggoyahkan tembok pertahanan Raina yang dengan sengaja dibangun agar tidak sembarang orang bebas masuk ke dalamnya.
Raina, duduk di dalam kamarnya, Ia membuka ponselnya, membaca percakapan whatsapp dengan sahabatnya. Di bacanya berulang kali “Iya Raina, lo bener banget. Kali ini lo harus cerita ke Bapak dan Ibu”
Bercerita ke Bapak Ibu bagi orang lain barangkali menjadi hal yang begitu mudah untuk memulainya. Tapi bagi Raina, hal itu menjadi salah satu hal yang sulit untuk dimulai -walau akhir akhir ini Raina sudah lebih terbuka dengan orangtuanya-. Apalagi tentang laki – laki, belum pernah sebelumnya laki – laki menjadi topik pembicaraanya dengan bapak dan ibunya. Rasanya canggung untuk membahas
Raina beranjak keluar dari kamarnya menuju ruang tamu, bapak dan ibunya sedang berbincang bincang ditemani dua cangkir teh hangat dan roti kelapa favorit keluarganya.
“Pak, Bu …” Raina berjalan mendekat dan mencoba memulai pembicaraan
“Iya nduk sini duduk, kenapa?
Raina berjalan dan duduk tepat di samping Ibunya. “ndak papa Pak, Bu aku mau mengerjakan tugas dulu” katanya sambil bergegas berjalan lagi menuju kamar tanpa melihat ke belakang.
“Pak, kayaknya Raina ingin menyampaikan sesuatu tapi ndak jadi, apa ya, atau sedang ada masalah” Kata Ibunya yang keheranan sekaligus khawatir melihat tingkah Raina.
“Ah ndak papa, kita kasih waktu dan kesempatan dulu untuk Raina menyampaikan, besok atau lusa kalau belum menyampaikan, nanti baru kita tanya”. Ayah Raina mencoba menenangkan Ibunya.
Raina duduk di kursi kerjanya di dalam kamar. Di bacanya lagi pesan whatsapp sahabatnya. “ Ra dari sudut pandangku kamu harus bilang sama orang tua, terbuka aja ndak papa kok, sampaikan tentang dia seperti apa, pekerjaanya, sifatnya, keluarganya, orang tuamu menurutku berhak untuk tau lhoo Ra. Kalau kamu susah, pelan pelan aja. Tapi pokoknya sebelum melangkah lebih jauh, kamu harus. Harus ya, harus “
“Harus Ra, harus Ra, harus bilang” Raina menyakinkan dirinya sendiri. “Oke besok aku akan coba lagi untuk bilang ke Bapak dan Ibu” kata Raina dalam hatinya.














