Pagi ini, semesta turut berbahagia, menghantarkan Rhea pergi ke sekolah tempatnya akan bekerja, setidaknya 10 tahunan ini, begitu yang tertulis pada perjanjian kerjanya dengan pemerintah.Â
   “Bismillah” ucap Rhea dalam hatinya ketika memasuki gerbang sekolah berwarna hijau, yang sepertinya baru di perbaharui catnya. Kedatangan Rhea disambut dengan seorang Ibu paruh baya.Â
“Sini mari mba, mba Rhea ya, ayuuk mba masuk sini”  Ibu itu menghampiri dan mengulurkan tangannya. Rhea bisa merasakan betapa ramahnya, tempat kerjanya nanti.Â
Rhea diantarkan menuju meja kerjanya, dan ia bergegas menemui kepala sekolah untuk memeperkenalkan diri.Â
“Iya, selamat datang mba Rhea, semoga kedepanya kita bisa bekerjasama dengan baik dan kedatangan mba Rhea bisa membawa perubahan yang lebih baik di sekolah ini”, pak kepala sekolah menutup perkenalan singkat kala itu.Â
“Sekarang mba Rhea, kita ke ruang kerja, nanti sekalian memperkenalkan diri ke guru-guru yang lain”Â
Rhea berdiri memperkenalkan dirinya. Salah satu hal yang membuatnya lega adalah kenyataan bahwa tidak ada yang mengenal dirinya sebelumnya. Jadi Rhea bisa lebih leluasa.Â
“Selamat pagi Bapak, Ibu dan teman – teman. Perkenalkan nama saya Rhea Kusuma Anjani. Bapak Ibu, bisa memanggil saya Rhea, saya berumur 24 tahun, saat ini belum berkeluarga, dan merupakan anak ke dua dari tiga bersaudara. Senang bisa berkenalan dan semoga kedepannya, kita bisa bekerja sama dengan baik. Terimakasih”Â
Rhea duduk Kembali dan melihat ekspresi teman – teman kerjanya. Rhea merasa diterima dengan baik dan mendapat sambutan yang hangat. Bapak kepala sekolah mempersilahkan guru yang lain untuk memperkenalkan diri satu per satu.Â
“Hari ini ada yang tidak masuk di sekolah karena sedang mengikuti diklat mewakili sekolah di Semarang, Namanya adalah Dejan Antares”.Â
Rhea mengangguk sambil tersenyum.Â
“Oke mba Rhea, jadi nanti mba Rhea untuk tugas mengajarnya di kelas VI dan juga ada tugas tambahan yaitu untuk membuat lapor bulan, yaitu laporan kepegawain yang harus dibuat setiap awal bulannya, nanti disertai juga dengan tanda tangan absen dari setiap pegawai. Nanti habis ini bisa tanya – tanya ke operator sekolah ya”Â
“Nggih pak, nanti saya pelajari”.Â
Rhea pulang kerja dengan hati yang berbunga – bunga. Merasa diterima dan di sambut dengan hangat di tempat kerja dan mendapat lingkungan kerja yang terlihat baik dan supportif satu sama lainnya.Â
Keesokan harinya Rhea berangkat ke sekolah dengan hati yang riang. Sebagai pegawai baru dan tentu dengan semangat yang masih penuh, ia menjadi yang pertama datang di sekolah. Meletakan tas di kursi dan membersihkan meja kerjanya, yang sedikit berdebu. Ia membawa beberapa barang – barang dari rumah untuk diletakan di meja kerjanya.
“Mba Rhea, hari ini akhir bulan, nanti mba Rhea persiapkan berkas untuk laporan bulanan ke dinas ya, nanti dilampirkan juga absen bulan ini juga.”
“Oh iya mba, siap nanti Rhea selesaikan setelah selesai pelajaran di kelas, mba”
Rhea mengecek kembali absen kepegawaian bulan ini. Ia teringat pesan Bu Sania, untuk membuat lapor bulan yang pertama kali harus ia selesaikan adalah memastikan semua anggota guru di situ sudah melakukan absensi satu bulan. Ia mengecek absensi setiap nama, dan ternyata ada satu guru yang belum melakukan absensi sama sekali. Pak Antares rupanya.Â
“Bu Sania, ternyata absenya pak Antares masih kosong, sama sekali belum absen Bu” Rhea bertanya pada bu Sania. Rhea selama seminggu di sekolah ini memang belum pernah bertemu dengan Pak Antares.
“Oo, Pak Antares memang tidak masuk Rhe, seminggu ini ia bertugas mewakili sekolah mengikuti diklat di Semarang, tapi hari ini dia udah masuk kok” ucap Bu Sania sambil Bersiap – siap pulang.Â
“Tapi kok, saya tidak melihatnya ya Bu di kantor” Rhea merasa sama sekali belum melihat Antares .
“Ah pak Antares memang jarang di kantor mba, ia berangkat tapi pangkalannya di perpus sana, paling kalo ada rapat ia baru ke kantor, kamu ke sana aja” Bu Sania berpamitan dengan untuk pulang ke rumah.Â
Rhea masih terpaku memegang buku absensi, masih memikirkan pak Antares. Dia orang yang seperti apa dan harus berkomunikasi dengan cara seperti apa.Â
“Rhea, hati – hati ya kalo ketemu pak Antares, jangan kaget” Bu Sania tiba tiba masuk lagi ke kantor hanya untuk mengatakan itu. “Pokoknya hati – hati, jangan kaget, udah itu aja”. Rhea masih duduk dibangkunya, mengumpulkan keberaniannya untuk menemui Antares.Â
“Ah sudah lah ndak tau nanti gimana” gumam Rhea dalam hati. Ia berjalan perlahan menuju perpustakaan yang berada di ujung sekolah ini. Ia sampai di depan perpustakaan. Dilihatnya ke arah rak sepatu, dan hanya ada satu sepatu perpaduan navy abu dengan merk adidas. Ia berpikir, berarti hanya ada pak Antares di dalam, dan berarti di sekolah ini hanya tinggal Rhea, Antares, dan penjaga sekolah yang belum balik dari sekolah”Â
Rhea berjalan mendekati pintu perpustakaan yang terbuat dari kaca. Diketoknya pintu itu 3 kali. “Assalamualaikum”. Dan tidan ada jawaban sama sekali dari dalam. Rhea hanya menertawakan dirinya sendiri sambil menepuk kepala. “Astaga ini bukan rumah orang, dan aku bukan tamu” gumamnya dalam hati.
Rhea membuka pintunya dan melangkahkan kaki masuk ke dalam perpustakaan. Sepi, dan seperti tidak ada orang. Bagian peminjaman buku juga sudah kosong. Di lihatnya sekeliling, sepertinya ia tidak melihat siapapun di dalam perpustakaan ini.Â
Rhea yang penyuka buku, perhatiannya terdistraksi sejenak menyusuri buku-buku yang rapi berjajar di rak buku. Dibacanya judul buku tersebut satu per satu sambil sesekali membaca synopsis buku tersebut.Â
“Siapa ya, nyariin siapa” suara seorang laki laki mengagetkannya. Di lihatnya seorang laki laki sedang duduk di bangku yang disediakan untuk membaca. Sorot matanya tajam, seolah mempertanyakan keberadaan Rhea disini. Rambutnya pendek rapi, dengan kumis, dan jenggot yang sepertinya habis di cukur tipis.Â
Rhea tanpa sadar terpaku mengamati Antares. “Lho kok diam” Antares menyadarkan Rhea yang sedari tadi diam.Â
“Maaf pak sa..” Rhea bermaksud memperkenalkan dirinya tadi sudah terpotong oleh Antares
“Iya tau, guru baru di sini kan? Ada apa ke sini”? tanyanya.Â
Rhea memberanikan diri berjalan mendekati Antares, membawa absensi kepegawaian di tangannya.   “Maaf pak, bila mengganggu waktu Bapak, saya mau meminta tanda tangan pak Antares, di absensi kepegawaian untuk lapor bulan nanti pak” Rhe sekarang berdiri tepat di depan Antares. Antares tetap terpaku pada buku yang sedang ia baca.Â
           “Taruh situ dulu aja, nanti aku tanda tangani” Dejan masih belum teralihkan dari buku yang ia baca.Â
           “oh iya pak, saya letakan disini ya” ucap Rhea.
           Rhea bertanya – tanya, Antares ini sebenarnya orang yang seperti apa. Ia menebak – menebak dalam pikirannya sendiri. “Sepertinya usianya beberapa tahun di atasku, sorot matanya mengisyaratkan dia orang yang pintar, dari caranya bicara sepertinya orang yang selalu mengungkapkan apapun yang ada dipikirannya, dan tidak peduli dengan orang lain, sedikit menakutkan” gumam Rhea dalam hati.Â
“Ah ngapain juga aku pikirin, bukan urusanku juga” ucap Rhea sambil berjalan menyurusi Lorong buku. Matanya Kembali terpesona dengan deretan buku itu, tertarik pada salah satu novel karya Tere Liye berjudul Hujan.Â
           Rhea memutuskan untuk membaca buku sembari menunggu Antares menandatangani absensi kepegawaiaanya. Rhea berjalan mencari tempat duduk yang menurutnya paling nyaman. Ia memilih tempat duduk lesehaan dengan bantal dan beberapa meja yang terjajar rapi.Â
           “Perpustakaan ini, sepertinya bakal jadi salah satu tempat favoritku, rapi, dingin, sepi, that’s my favorit” gumamnya dalam hati. Rhea tenggelam dalam bukunya. Membacanya dari kata – ke kata, dari baris ke baris, dari paragraph satu ke paragraph selanjutnya.Â
Rhea adalah tipe pembaca yang tenggelam ke dalam buku yang ia baca. Seolah olah ia ikut masuk dalam ceritanya. Memaknai setiap paragraph yang ia baca. Waktunya menjadi terlupakan ketika sudah bergelut dengan buku.Â
           Sementara itu, Antares melih jam tangan berwarna hitam di tangannya. Jam hitam favoritnya pemberian Ayahnya sejak 4 tahun yang lalu. Di lihatnya jarum pendek sudah menunjukkan di angka 3 dan jarum Panjang menunjuk di angka 3. Ia bergegas membereskan buku dan laptopnya dan bergegas pulang. Ia berjalan menuju pintu keluar, dan pikirannya tiba tiba menghentikan langkahnya.Â
“Oh iya, absensinya belum ku tanda tangani dan ketinggalan” Antares Kembali dan mengambil absensi kepegawainnya.Â
           Antares menutup pintu perpustakaan dan menguncinya. Antares memang guru tetapi ia mendapat tugas tambahan sebagai ketua perpustakaan. Wajar ia mempunyai kunci perpustakaan. Antares mengambil sepatunya di rak sepatu, dan ia terdiam sebentar. Ada sepatu pantofel hitam di samping sepatunya. Ia tertegun sebentar dan mengingat sesuatu.Â
           “Astaga, perempuan memang merepotkan”. Antares membuka kembali pintu perpustakaan. Ia bergegas mencari pemilik sepatu itu dan ia menemukannya. Seorang perempuan yang sedang tenggelam di dalam bukunya, sambil mendengarkan music favoritnya.Â
           “Dasar anak kecil, polos sekali dia” gumamnya dalam hatiÂ
           “Mau nginep disini” tanya Antares dengan nada cuek khasnya.Â
           “Haa? Rhea kaget, oo udah jam 4 ya ternyata”..Â
“Keluar, mau aku kunciin disini, tidur sama buku buku” Antares melontarkan kata kata yang membuat Rhea terkejut.Â
“Bagaimana bisa orang seperti dia jadi Guru, orang secuek itu, ndak pernah mikirin apa yang dia katakana” gumam Rhea dalam hatinya.Â
Rhe bergegas keluar dan mengambil sepatu di rak sepatunya. “Kenapa kok tadi belum pulang”? kata Antares sambil mengunci pintu perpustakaan.Â
“Nunggu kamu absen lha pak,” jawabnya dalam hati.Â
“Makanya bilang yang jelas, Pak minta tanda tangan absen, ditunggu sekarang ya, kan jelas.” Kata Antares sambil memakai sepatunya.Â
“Bilang yang jelas, katakan, sampaikan, kamu udah dewasa buat menyampaikan sesuatu dengan jelas” Antares pergi meninggalkan Rhea yang masih terpaku mendengarkan ucapan Antares.Â
Pipi Rhea mulai basah, tak sadar air mata Rhea menetas. Baru kali ini ia bertemu dengan orang baru dan baru pertama kali ia diperlakukan seperti itu. Antares tidak jahat, tapi hati Rhea yang terlalu lembut untuk menghadapi dunia yang mulai keras menurutnya
Bagian 3 : Antares itu Unik
Hari berikutnya Rhea datang ke sekolah dengan perasaan yang kurang nyaman. Perasaan takut canggung ketika bertemu dengan Antares. Rhea memilih untuk tidak bertemu dengan Antares. Ia merasa malu, sebel, dan sedikit sakit hati dengan ucapan Antares ketika bertemu.Â
“Mohon maaf pak, saya mau minta tanda tangan bapak untuk laporan bulan ini” Rhea menyodorkan laporan absensi kepegawaian yang sudah dibuatnya.Â
“Oh ya, letakan di meja ya, nanti saya cek dulu kalau sudah oke nanti saya tanda tangani”
“Oh baik pak, saya ke kelas mengajar anak anak dulu pak”. Ucap Rhea bergegas menuju kelasnya untuk mengajarkan matematika.Â
Berjalan keluar kantor di pintu ia berpapasan dengan Antares. Rhea menganggukan kepala sambil menunduk ke bawah. Anggukan itu dibalas cuek oleh Antares yang tetap menatap lurus ke depan, seolah – olah Rhea tidak ada. Rhea semakin tidak mengerti Antares itu orang yang seperti apa.Â
Rhea masuk ke kelas dan mulai menjelaskan beberapa materi pembelajaran tentang planet. Suara ketukan pitu memberhentikan Rhea menjelaskan materi. Antares sudah berdiri di depan itu. “Ada rapat, di tunggu di kantor” kata Antares.Â
“Iy..” belum selesai Rhea mengucapkan terimakasih Antares sudah bergegas pergi menuju kantor. Rhea memberi tugas untuk siswanya dan bergegas menuju ke kantor untuk mengikuti rapat.Â
Rhea baru menyadari satu hal. Bahwa tempat duduknya tepat berhadapan satu sama lain dengan Antares.Â
“Iya, selamat pagi semuanya, hari ini kita akan adakan rapat koordinasi untuk satu bulan kedepan, mungkin ini pertama kalinya untuk Rhea mengikuti kegiatan rapat”.Â
“Oh iya Rhea, ini untuk laporan kepegawaiaanya sudah saya cek dan sudah benar nanti Rhea tinggal mengumpulkan ke kantor pusat ya” jelas pak Kepala.Â
“Tapi maaf pak, saya belum tau letak kantor pusatnya, di sebelah mana ya pak” Rhea merasa bingung karena belum pernah sama sekali ke kantor pusat.Â
“Maaf pak, nanti biar saya saja yang membawanya, kebetulan saya akan ke kantor pusat”. Rhea mencari pemilik suara laki – laki dan matanya menemukan yang mengatakannya bukan lain bukan adalah Antares.Â
“Oke, Rhea nanti berkasnya di serahkan ke Antares ya, biar nanti Antares yang mengumpulkan”Â
Rhea mengangguk pelan sambil melihat Antares yang masih focus mendengarkan pak Kepala. Kepala sekolah melanjutkan untuk memimpin rapat. Membahas target – target yang akan di capai dalam satu bulan ke depan, dan membahas hal – hal lainya. Semua anggota focus untuk mencatat dan berdiskusi tentang yang akan di bahas. Rhea belum banyak berbicara, hanya diam mendengarkan dan mencoba memahami situasi rapat.Â
“Iya, untuk acara rapatnya kira – kira seperti itu. Untuk lain – lain adakah yang ingin menyampaikan, atau ada sesuatu yang ingin di sampaikan”.Â
“Saya pak, begini pak Saya selama lima tahun ini mengurusi bagian inventaris di sekolah ini dan menjadi petugas inventaris. Saya rasa saya sudah Lelah pak, dan saya mau gentian ada orang lain yang mengerjakan, dan karena kebetulan sekarang ini kita kedatangan Bu Rhea yang kita tau masih muda dan pandai untuk masalah IT, jadi hari kemarin ketika ada form dari pusat mengenai pergantian pengurus inventaris sekolah, saya langsung mengisi untuk sekolah kita diganti dengan Bu Rhea” jelas pak Tegar.Â
Rhea yang mendengarnya, hanya diam sambil meneguk ludahnya. Menggumam dalam hatinya “bagaimana bisa ia tiba tiba dilimpahi pekerjaan yang bahkan dia tidak ditanyai kesediaanya untuk mengerjakannya”.Â
“Lho kenapa tidak memberikan informasi dulu kepada saya selaku kepala sekolah ini, harusnya kan memberi informasi dulu nanti kan bisa dibahas bersama – sama” dengan nada yang sedikit tinggi Bapak kepala sekolah memberikan responnya. Semua guru terdiam, dan suasana rapat menjadi hening.Â
“Iya maaf pak sebelumnya, karena saya takut ketika saya menyampaikannya kepada Bapak saya tidak mendapatkan izin untuk ganti. Maaf juga mba Rhea saya tidak memberi tahu mba dulu” jelas pak Tegar.Â
“Oh iya pak” Rhea hanya meresponnya dengan tersenyum kecil.Â
“Yasudah karena sudah terlanjur, mau bagaimana lagi, selama setahun ke depan bu Rhea yang mengurusi inventaris barang di sekolah ini, walaupun ini terpaksa tapi saya percaya Bu Rhea bisa menjalankan Amanah ini dengan baik”Â
Dengan suara lirih Rhea mengiyakan pernyataan pak kepala. Ia mengalihkan pandangannya ke depan dan di lihatnya Antares sedang melihatnya, bukan dengan tatapan tajam lagi tapi tatapan iba dan kasihan. Rhea segera memalingkan mukanya, tak di sangkanya Antares punya sisi seperti itu.Â
Pukul 13.05 selesai rapat dan semua bergegas meninggalkan sekolah. Lagi – lagi hanya menyisakan Rhea dan Antares guru yang di sekolah. Rhea berjalan mendekat menuju meja Antares. “Pak ini untuk lapor bulannya, terimakasih ya pak sudah mau mengantarkan ke kantor” Rhea meletakannya di atas meja. Dan bergegas meninggalkan Antares. Baru beberapa Langkah ia terhenti mendengar suara Antares “Iya sama sama Rhea” ucap Antares dengan nada rendah.
Deg. Rhea takjub, ia mendengar kata kata itu dari Antares. “Kalau mau pulang pulang aja, ndak usah nungguin jam kerja selesai, di sini udah biasa gitu” sambung Antares.Â
“Iya,” jawab Rhea tanpa memalingkan mukanya.Â
Rhea duduk di kursinya kembali. Di lihatnya dari dalam Antares sudah pergi dengan motornya menuju kantor di pusat, dan hanya tinggal di sendiri di sekolah ini. Rhea masih tidak habis piker bagaimana bisa dia sekarang ini mendapat tugas tambahan lagi, yang Rhea sendiri tidak tahu tugasnya seperti apa, dan harus bagaimana, dan petugas lainnya siapa. Rhea memikirkan banyak hal di pikirannya sendiri. Ia baru menyadari bahwa dunia kerja memang tidak semudah yang ia pikirkan.Â
Pikirannya buyar saat sebuah notifikasi whatsapp masuk ke handphonya. Di bukanya sebuah pesan bertuliskan “Anda sudah dimasukan ke dalam grup oleh nomor yang tidak anda kenali”. Rhea sudah bergabung dengan grup whatsapp pengurus inventaris sekolah bersama dengan pengurus barang inventaris sekolah lain. Rhea kembali meletakan handponeya sembari menghela nafas.Â
Sekarang ia tidak punya pilihan, tidak ada pilihan lagi selain menerima dan menjalaninya. Meskipun entah tidak tahu apa yang akan terjadi di depan Rhea percaya apa apa yang terjadi itu memang yang terbaik untuk di jalani meskipun kadang ia tidak menyukaiinya.Â
Rhea membereskan meja kerjanya, dan bersiap untuk pulang. Ia kembali mendapati handphone berbunyi kembali. Dilihatnya sebuah nomor tanpa nama, dinotifikasinya. Di bacanya sebuah pesan tertulis “Laporan sudah sampai dengan selamat di kantor pusat”.Â
Rhea mengerti, sepertinya itu Antares. “Iya terimakasih pak” jawab Rhea. Rhea bergegas pulang ke rumah dengan perasaan yang sedikit lega setidaknya, satu tugas untuk bulan ini sudah selesai.Â
Sesampainya di rumah, di bukanya kembali chat whatsapp dari nomor tak Bernama tadi. “Oh sudah centang biru dua, tapi gak di bales e dasar, bilang sama sama kek apa gimana” beberapa detik kemudian Rhea sadar itu Antares Rhea, Antares manusia yang cuek dan tidak bisa di tebak.Â
“Selamat pagi anak anak, ayok gimana kabarnya hari ini. Hari ini Ibu Rhea akan mengabsen anak anak dulu, silahkan anak anak nanti ketika bu Guru panggil nama anak anak, silahkan anak anak menyebutkan makanan sarapan anak anak hari ini”
“Bu Rhea hari ini seneng sekali anak anak telihat semangat sekali hari ini, sebelum memulai pelajaran hari ini ada yang ingin ditanyakan”Â
“Bu mau tanya” Dante ketua kelas VI mengacungkan tangannya.Â
“Iya Dante silahkan, apa yang ingin ditanyakan ya” Rhea mempersilahkan Dante untuk bertanya.Â
“Begini Bu, kemarin waktu kelas V kan kita iuran uang Bu, untuk acara liburan ke Yogyakarta Bu. Nah kemarin kita ndak jadi liburan ke sana Bu” jelas Dante.Â
“Iya, Dante, terus gimana Dante”
“ Nah tadi kita sudah tanya ke Pak Desta, terus katanya uangnya sudah diberikan ke Bu Rhea karena bu Rhea wali kelas VI Bu, jadi kami mau minta uang kami kembali Bu” tanya DanteÂ
Rhea terdiam sejenak mendengarkan pertanyaan Dante. Mencoba mencerna kata kata Dante. Ia mencoba tetap tenang dan menjawab pertanyaan Dante.
“Okay, nanti Ibu coba konfirmasikan dulu masalah ini dengan pak Desta ya” kata Rhea dengan tenang.Â
“Sekarang kita buka bukunya halaman 63 ya” Rhea melanjutkan pelajarannya sampai dengan selesai dengan pikiran yang tidak fokus.
Ketika sudah di bubarkan pulang, ia kembali ke kantor dan duduk termenung. Memikirkan masalahnya tadi.Â
“Bagaimana mungkin aku yang tidak tahu apa – apa tiba tiba dilibatkan dalam masalah uang yang bahkan aku sendiri tidak tahu tentang hal itu. Bagaimana bisa pas Desta mengatakan kepada anak – anak untuk meminta uang tabungan liburan kepadaku yang bahkan aku tidak tahu jumlahnya berapa rincianya, dan beliau tidak mengatakan apapun kepadaku atau menginformasikan kepadaku” kata Rhea yang tidak habis pikir.Â
“Kok tega, begitu ke teman kerjanya, kok tega aku yang dijadikan kambing hitam” katanya dalam hati. “Aku gak pernah berpikir dunia kerja akan serumit dan sekeras ini atau mungkin lebih keras dari ini” Rhea semakin tenggelam dengan pikirannya sendiri,Â
“Mba Rhea,” suara Bu TeaÂ
“Iya bu Tea” jawab Rhea. Bu Tea adalah satu tenaga kependidikan di sekolah Rhea. Mejanya berdekatan dengan Rhea.Â
“Rhea, aku minta tolong boleh, kan sebentar lagi aku mau cuti lahiran, kira kira 2 bulan Rhea” Bu Thea memulai percakapannya
“Wah iya Bu, semoga lancar – lancar ya Bu lahirannya sampai hari H, nanti Rhea jengukin Bu kalau sudah lahir. Oh iya minta tolong apa Bu, kalau nanti Rhea bisa bantu Rhea bantu.” Jawab Rhea
“Begini Rhea, karena saya cuti, jadinya yang mengurusi bagian administrasi kosong Rhea, kalau sementara Rhea menggantikan saya bagaimana, kalau kemarin saya sudah berdiskusi dengan pak kepala dan paling cocok menggantikan adalah Rhea”Â
“Eh tapi Bu aku..” RheaÂ
“Minta tolong banget ya Rhea” bujuk bu Tea
“Iyaaa Bu, Rhea usahakan ya” jawab Rhea. Seberapa usahapun Rhea mengusahakan untuk berkata tidak, tetap saja yang keluar adalah kata iya. Rhea belum mampu mengalahkan ketakutannya untuk berkata tidak.
“Makasih banya ya Rhea, semoga urusan Rhea dilancarkan semuanya, nanti kalau ada hal – hal yang dibingungkan Rhea bisa wa saja ya ke saya, ini untuk laptop yang dipakai untuk administrasi ya..Â
“Oh iya Bu, terimakasih ya Bu” Rhea menyimpan laptopnya dalam lokernya.Â
“Ya sudah saya pulang dulu ya Rhea, sudah dijemput suami” bu Tea berpamitan pulang.Â
Rhea duduk menghela nafas. Sesekali menyesal kenapa mengiyakan permintaan Bu Tea, tetapi kalau menolak juga Rhea akan merasa tak enak hati sepanjang hari. Kalau tidak menolak Rhea juga bingung tidak begitu paham perilah urusan administrasi.Â
Rhea mengecek handphonenya, ada informasi di grup pengurus inventaris barang untuk mengerjakan laporan bulan akhir tahun. Rhea membacanya sambil duduk, apa yang harus di lakukan astaga. Rhea membaca panduan mengerjakannya dan Rhea mulai menyusun hal hal yang harus ia kerjakan.Â
“Sepertinya besok aku harus ke kantor pusat dulu, harus instal aplikasi ke pusat, tapi kantor pusat itu teh di sebelah mana, ah aku bisa tanya Antares” pikir Rhea.Â
“Ah sudahlah pikir besok lagi, aku mau pulang dulu” gumam Rhea dalam hati.Â
Beberapa menit Rhea sudah sampai Rumah, meletakan tas dikamarnya. Rhea bergegas mengambil handuk dan bergegas menuju kamar mandi. Rasanya begitu gerah dan banyak pikiran yang berlarian di kepalanya.Â
Usai mandi Rhea duduk di depan rumah bersama orang tuanya, sambil meminum teh dan pisang goreng buatan ibunya yang selalu jadi favorit di rumah.Â
“Rhea, gimana kamu udah ada teman laki-laki yang serius belum” tanya Ibu tanpa ada aba aba.Â
Rhea yang sedang minum teh tiba – tiba tersedak.Â
“Pelan – pelan nduk, ndak usah gugup gitu” kata bapak meledek Rhea
“Ah ibu, kasih aba aba dulu kek kalau mau tanya tentang itu, aku kan kaget” jawab Rhea
“Kalau kamu belum punya, mau ibu carikan ndak, kemarin ada temennya Ibu yang ingin anaknya berkenalan dengan mu Rhea” jelas IbuÂ
“Toh umurmu sudah waktunya Rhea, sahabat sahabatmu kan juga sudah to Rhea” sambung Ibunya Rhea.Â
“Anaknya cakep ko Rhea, cekatan dan kelihatanya bertanggung jawab, umurnya dua tahun di atasmu Rhea, gimana Rhea, kamu pikirkan baik – baik dulu ya, siapa tahu memang bisa jadi pasangan Rhea ataupun kalau enggak kan bisa jadi teman Rhea” Ibu berusaha untuk membujuk Rhea.Â
Rhea yang kurang nyaman dengan pembicaraan ini memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. “Aku masuk duluan ke rumah ya Bu” Rhea meletakan gelas tehnya dan bergegas masuk ke dalam rumah tanpa mengeluarkan satu patah katapun.Â
Samar samar terdengar “Biarin saja to Bu, biar Rhea yang nyari sendiri toh, Rhea juga masih muda, mungkin juga ada hal – hal yang ingin di gapai, mungkin juga lagi ingin menata hidupnya” bapak Rhea mengeluarkan pendapatnya.Â
Rhea masuk ke kamarnya, rasanya hari ini entah begitu Lelah sekali, masalah masalah di sekolah yang belum selesai dan sekarang ditambah lagi tentang perjodohan, semuanya berlarian di kepala Rhea, mengajaknya berlarian ke sana kemari.Â
Rhea membuka hapenya. Entah apa yang membuatnya mencari nama Antares dalam daftar kontaknya.Â
“Selamat malam Pak Antares, maaf pak saya mau tanya, untuk alamat kantor pusat di sebelah mana, ya pak, saya besok mo kesana pak?” send. Pesan itu terkirim ke pak Antares.Â
Tidak lama setelah itu sebuah pesan masuk.Â
Antares : Iya, besok gampang.Â
Rhea masih tercengang mendapat pesan dari Antares. “Bukankah jawabannya harusnya, petunjuk arah, atau paling gak menjelaskan arah mana yang harus di ambil”
Antares, memang sulit di pahami dan di tebak. Unik.Â
Bagian 5 : Mencairnya Kutub Utara
Esok harinya Rhea datang lebih pagi ke sekolah. Rasanya ingin datang lebih pagi saja. Ia berjalan memasuki kantor, ada bu Sania dan pak Tegar yang sudah datang ke kantor. Rhea menyapa pak Tegar dan menyalami bu Sania. Rhea meletakan tasnya di kursinya.Â
Tiba – tiba sebuah mobil hitam masuk ke sekolah. Rhea bertanya – tanya, tamu siapa yang datang ke sekolah sepagi itu.Â
“Ibu, itu ada tamu sepertinya ada mobil masuk ke gerbang sekolah” tanya Rhea pada bu Sania
“Ndak mungkin sih mba, kayaknya kalo tamu sepagi ini” kata pak Tegar
“ah iya yaaa” jawab Rhea.Â
Tiba tiba seorang laki-laki keluar dari mobil tersebut. Laki-laki yang semua orang sekolah tau, Antares. Iya Antares yang membawa mobil ke sekolah.Â
“Weh tumben Pak Antares bawa mobil ke sekolah, ada acara apa ini pak Antares” tanya pak Tegar
“Tidak sih, lagi pingin bawa aja, cuaca lagi panas” jawab Antares asal-asalan
“Dasar” gumam Rhea sambil terkekeh.Â
Bel tanda masuk kelas berbunyi. Guru – guru bergegas masuk ke kelas masing – masing. Rhea masih menyiapkan beberapa lembar kerja untuk siswanya.Â
“Nanti ke kantor pusat jam berapa” suara Antares mengagetkan Rhea, suatu keajaiban Antares bertanya lebih dulu.Â
“Nanti sekitar jam 10 an pak” jawabku.Â
“Okay, noted” Antares bergegas menuju kelasnya.Â
“Tumben tumbenan dia bersikap ramah hari ini, salah makan apa dia hari ini” Kata Rhea dalam hati sambil terkekeh kecil.Â
Rhea kembali dari kelas dan bergegas menuju kantor, dan bergegas siap siap menuju kantor pusat. Berbekal arah yang sudah diberi tahu bu Sania dan google maps sepertinya Rhea akan bisa sampai di sana. Cuma yang jadi masalahnya adalah jarak yang cukup jauh dari sekolah sekitar 30 km dari sekolah Rhea.Â
Rhea berjalan menuju parkiran, memakai jaket, dan sarung tangan.Â
“Mau kemana” tanya Antares yang entah datang dari mana tiba tiba sudah di parkiran.Â
“Mau ke kantor pusat lha, kemana lagi. Kan semalam saya tanya alamat kan, eh ndak mau di jawab” keluh Antares. Setelah sekian lama Rhea berani menungkapkan apa yang dipikiranya tentang Antares.Â
“Kan aku bilang gampang besok kan, artinya ya gampang kan, ayok masuk” kata Antares.Â
“Hah, ke mana” kata Rhea yang belum bisa menangkap maksud Antares.Â
“Mobil lah, masih tanya. Ayo aku anterin ke pusat, sekalian aku mau isi bensin” jawab Antares mencari – cari alas an.
“Jawaban yang tidak masuk akal, ucap Rhea dalam hati.Â
“Udah cepet masuk, ndak usah pake lama, kalau ada pilihan yang gampang kenapa harus repot repot pakai motor sih” Antares yang mulai kesal dengan Rhea.Â
“Memang manusia yang susah di tebak, Antares” kata Rhea pelan. Rhea membuka pintu mobil.Â
“Kamu mau duduk di belakang? Kamu kira aku supir kamu ? Duduk di depanlah” Antares keheranan melihat Rhea yang justru membuka pintu tengah mobil.Â
Rhea membuka mobil bagian depan dan duduk di samping Antares yang mengemudikan mobilnya. Tak pernah tepikirkan ia bisa satu mobil dan duduk sebelah dengan manusia paling unik, paling dingin, paling cuek, dan paling menyebalkan di sekolah.Â
“Dipakai dulu sabuk pengamannya” Antares memastikan Rhea memasang sabuk pengamannya dengan benar.Â
“Aduh gimana, aku belum pernah memakai sabuk pengaman e.” Rhea benar – benar kebingungan dan tidak pernah tau bagaimana cara memakainya.Â
“Perhatikan sini” Antares mempraktikan cara memakain sabuk pengaman yang benar. Rhea memperhatikan dengan seksama.Â
“Udah ah, sini aku pakain, lama kamu”. “Maaf ya aku pakaikan aja” Antares memakaikan sabuk pengaman Rhea, sementara Rhea duduk tak bergerak.Â
“Udah santai aja, ndak usah tegang di kantor pusat, nanti Cuma install aplikasi untuk inventaris kok, tidak akan ditanyai apa apa” Antares sepertinya memahami Rhea yang sedikit takut karena pertama kalinya ke kantor pusat dan mengurusi inventaris di sekolah.Â
“Beneran? Kata siapa” tanya Rhea yang keheranan kenapa Antares bisa tahu.Â
“Kata temanku lah, aku tanya” jawab Antares sambil fokus ke depan.Â
“Kenapa tanya ke temennya” tanya Rhea yang penasaran kenapa Antares bertanya tentang yang bukan urusannya. Sepertinya dari cerita orang – orang Antares orang yang sangat cuek dan tidak peduli dengan urusan orang lain.Â
“Udah ah banyak tanya kamu”. Jawab Antares ketus
“Ahahaaahah”, Rhea tertawa tawa sambil melihat Antares
Antares terlihat menahan tertawanya. Rhea menyadari satu hal. Antares tidak secuek yang dia pikirkan, tidak sedingin yang dia kira. Dia punya sisi sisi hangat yang jarang diperlihatkannya di depan orang – orang.Â
Antares memutar beberapa lagu dari flashdisk yang tertancap di dalam mobil. Rhea menikmati lagu yang diputarkan sambil melihat ke arah depan. Kendaraan berlalu-lalang.Â
Tiga puluh menit perjalanan, mobil berbelok ke arah sebuah Gedung berlantai dua berwarna putih. Diparkirkannya mobil dan Rhea dan Antares berjalan menjauhi mobil menuju Gedung.Â
Rhea berhenti sebentar mengecek handphone mencari informasi di grup, mencari ruangan yang ditujunya.Â
“Udah ayo ikut aku, aku tau lokasinya, percaya aja sama aku” ajak Antares denga begitu yakinnya.Â
Rhea mengikuti Langkah kaki Antares, ke arah manapun ia pergi. Antares memasuki ruang yang bertuliskan Inventaris barang pusat. Begitu Antares masuk ke ruangan, Rhea menyadari satu hal, begitu populernya Antares di Ruangan itu. Semuanya tau Antares dan menanyakan kabar Antares.Â
“Wuih pak Antares, lama ndak ketemu dan main ke sini, tumbenan ke sini” tanya salah seorang petugas yang ada di ruangan.Â
“Oh iya ini, aku nganterin teman aku, petugas inventaris barang di sekolahku mau install aplikasi” Antares memberi kode kepada Rhea agar membawa laptopnya.Â
“Pak, ini perkenalkan Rhea, pengurus barang dari sekolah saya yang baru” Antares mengenalkan Rhea kepada pekerja di situ.Â
“oo, Rhea ya namanya. Tenang mba Rhea selama, ada pak Antares, masalah apapun pasti beres”Â
“ah ndak juga ah” jawab Antares.Â
Rhea meletakan laptopnya di atas meja. “Mba Rhea, sudah lama kenal dengan pak Antares” tanyanya.Â
“Belum pak, baru satu bulanan ini, saya kebetulan guru baru di SD saya pak, memangnya kenapa” Rhea penasaran.Â
“Oh tidak apa-apa, sepertinya Antares perhatian dengan mbak Rhea” kata Bapaknya sambil tersenyum.Â
“Mana ada Pak, Antares galak dan cuek orangnya pak, eh hahaha” Rhea sedikit menyesal mengapa mengatakannya. Untung saja Antares sudah pergi menyapa teman – teman lainnya di kantor ini.Â
“ahaha, mbak yang tidak peka. Mana ada laki – laki yang jauh jauh nganterin, dan hari ini pakai mobil kan Antares, yang dia emang sengaja bawa buat nganterin mbaknya. Lagian semalam dia juga whatsapp ke saya, tanya hari ini pengurus barang kegiatannya apa aja. Kalau bukan karena perhatian ya apa lagi mba” jelas Bapaknya.Â
Rhea hanya tertawa tawa mendengar cerita bapaknya. Semuanya terlihat sangat tidak mungkin. Laptopnya selesai di Install bertepatan dengan Antares kembali ke ruangan itu. Antares dan Rhea berpamitan pulang. Mereka berdua berjalan menuju mobil.
Antares memasuki mobilnya dan disusul Rhea masuk ke kursi depan samping pengemudi.Â
“Rhea, sabuk pengamannya dipakai” Antares merendahkan nadanya kali ini.Â
Rhea tertegun mendengar suara Antares yang lembut. Rhea memakai sabuk pengamannya, dan kali ini ia berhasil memakainya sendiri.Â
“Rhea, kalau kita muter muter dulu gimana, tidak langsung pulang” tanya Antares.Â
“Boleh Pak, sekalian liat liat jalanan, aku suka di perjalanan” Jawa Rhea sambil melihat kendaraan yang berlalu lalang di hadapannya.Â
“Rhea…” panggil AntaresÂ
“Iya, kenapa Antares”Â
“Aku mau bilang sesuatu, tapi jangan dipotong dulu yaa” Rhea menatapnya dan mendengarkannya dengan seksama.Â
“ Kemarin waktu kita pertama kali bertemu di perpustakaan, pasti kamu kaget kan Rhe dengan bagaimana sikapku ke kamu, bagaimana aku memperlaku kanmu dengan mungkin bisa dibilang tidak baik. Atau perlakuan – perlakuan yang selama ini aku lakukan mungkin sedikit banyak melukai perasaanmu Rhea, aku menyadari itu aku sadar. Tapi aku melakukannya bukan tanpa alasan Rhea. Alasan yang mungkin tidak kamu tahu. Aku ingin kamu menyadari satu hal Rhea, kalau dunia kerja itu keras. Terkadang kamu harus menerima tugas-tugas yang bahkan kamu tidak bisa menolaknya, yang harus kamu kerjakan walau kamu sendiri tidak tahu apa yang seharusnya kamu lakukan untuk menyelesaikannya.” Antares belum selesai berbicara.Â
“Aku ingin kamu belajar, bahwa orang-orang yang menurut kita baik Rhe ada kalanya ia tiba tiba mengkambinghitamkan kita atas kesalahannya. Ada kalanya ia melimpahkan tugasnya kepada kita. Ada kalanya banyak pekerjaan yang dilimpahkan kepadamu Rhea, sampai kamu kerepotan sendiri mengerjakannya”Â
“Aku ingin, Rhea jadi orang yang lebih kuat dari Rhea yang dulu, Rhea yang berani mengatakan tidak ketika diminta bantuan oleh orang lain”Â
“Aku minta maaf Rhea, sepertinya caraku selama ini salah” Antares membernikan diri mengusap ngusap kepala Rhea. “Aku minta maaf ya, Rhea”.Â
Rhea yang sedari tadi menahan air matanya, tidak mampu menahannya lagi ketika Antares mengusap – usap kepalanya. Rhea merasa ada yang peduli dengannya.Â
“kamu kenapa Rhea, kenapa nangis e” Antares yang kebingungan kenapa Rhea tiba tiba menangis.Â
“Pasti, awal awal kerja di sini, terasa berat ya Rhea, ada masalah apa Rhea” tanya Antares menatap Rhea dengan tatapan yang lembut.Â
“Aku kira dunia kerjaku akan seindah ekspektasiku pak. Anak anak belajar dengan lancar, teman teman dan lingkungan yang saling supportif. Ternyata di awal ini rada rada berat. Mungkin aku yang terlalu lemah dan memang aku belum pernah bekerja sebelumnya”.Â
“Aku kaget, kemarin tiba tiba dilimpahkan menjadi pengurus inventaris barang di sekolah bahkan aku tidak ditanyai sama sekali apakah aku bersedia atau tidak. Lebih kaget lagi kemarin aku ditagih uang oleh anak – anak mengenai tabungan uang liburannya, yang katanya di suruh oleh salah satu guru di sekolah kita untuk meminta uang ke aku, karena katanya uangnya sudah diberikan ke aku. Kok tega.Â
“Hah, siapa yang berani gitu ke kamu, kenapa kamu gak bilang ke aku” tanya Antares
“Bagaimana mungkin aku bilang ke kamu, kalau dulu kamu sedingin es di kutuh utara.” Jawab Rhea
“Dan kemarin aku juga dimintai bantuan untuk menggantikan Bu Tea sementara karena cuti hamil, aku ingin menolak, dalam hatiku aku menolak Antares, tapi lagi – lagi yang keluar dari mulutku adalah iya” aku benci sisi diriku yang selalu mengiyakan permintaan orang, AntaresÂ
“Nah sekaraang kamu tahu kan, dunia kerja dan dewasa itu, tidak seindah apa yang ada dipikiranmu Rhea. Makanya dulu ketika awal kita bertemu aku bilangkan ke kamu, sampaikan, katakana dengan jelas, kamu sudah cukup dewasa untuk melakukannya”Â
Rhea mengingat perkataan itu. Perkataan yang membuatnya merasa sedikit terluka waktu itu. Rhea kini memahaminya dengan sangat jelas. Bahwa apa yang dilakukan Antares dan di katakana Antares selama ini adalah untuk kebaikan Rhea.Â
“Ini kamu minum dulu, tadi aku mampir ke kantin sebentar pas di Gedung, minum dulu, dari tadi belum minumkan” Antares menyodorkan susu kotak rasa strawberry.Â
“Kok tau, aku suka susu rasa strawberry” Rhea masih tidak mengerti kenapa Antares mengetahui minuman favoritnya.Â
“Oh Cuma kebetulan, tadi adanya Cuma itu” Antares mencoba mencari alasan.Â
“Alasan macam ap aitu” Rhea spontan tertawa dan itu membuat Antares ikut tertawa juga.Â
“Mulai sekarang, Rhea harus jadi anak yang lebih kuat, lebih berani. Kalau ada hal hal yang tidak sesuai dengan prinsip dan nilai Rhea katakan. Kalau ada hal hal yang ingin disampaikan, di sampaikan Rhea. Kamu tidak salah kalau kamu menolak memberi bantuan kepada orang yang membutuhkan bantuanmu karena kamu memang tidak bisa membantunya. Its okay. Kalau kamu butuh bantuan juga jangan sungkan untuk meminta tolong kepada orang lain. Meminta tolong kepada orang lain juga bukan suatu kesalahan Rhea”Â
Rhea mendengarkan Antares dengan seksama, sesekali melihat wajah Antares yang hari ini terlihat meneduhkan. Lagi – lagi Rhea melihat sisi Antares yang berbeda dari biasanya. Antares begitu terliahat dewasa sebenarnya. Hanya saja selama ini dia tidak menampilakn sisi sisi itu ketika di depan orang – orang.Â
“Rhe  kalau sama orang tua, juga harus berani untuk menyampaikan pendapat Rhea, dan apa yang diinginkan oleh Rhea. Kalau Rhea missal tidak mau dijodohkan dengan seseorang yang mungkin dipilihkan Bapak ata Ibu juga sampaikan saja. Toh pada akhirnya yang akan menjalani kehidupan berumah tangga kan Rhea. Tapi yang perlu diingat, sampaikan dengan kata – kata yang baik jangan sampai menyakiti orang tua, toh maksud mereka kan baik” Antares menasehati Rhea.Â
“okay Rheaaaa”? tanyanya Antares sambil mengusap kepala Rhea.Â
“Iya Pak, Rhea paham” jawab Rhea yang kini bisa tersenyum kembali.Â
           Rhea merasa senang hari ini. Antares tidak sedingin dan sejahat yang pernah ada dipikirannya. Dibalik penampilan luarnya yang begitu dingin, ternyata hatinya sehangat Mentari pagi. Rhea kini tahu dan menyadari, di sekolah ia tidak merasa sendiri lagi. Ia bisa berkeluh kesah dengan Antares, ia bisa berdiskusi dengan Antares.
           “Pak Antares, terimakasih banyak ya, untuk kebaikan kebaikan Pak Antares kepada Rhea, yang mungkin ketika di awal Rhea salah dalam menafsirkan kebaikan Pak Antares, Rhea minta maaf ya” Ucap Rhea sambil melihat Antares
           “Gak papa kok, namanya juga belum kenal, itu wajar kok, kan butuh waktu juga untuk memahami satu sama lainnya” Antares menjawab dengan begitu santainya.Â
           “Pokoknya kalau besok ada apa apa, atau ada masalah apa, atau butuh bantuan apa, Rhea katakan aja ya, nanti aku bantu sebisaku.” Kata Antares sambil tersenyum
           “iyaaa big bos” jawab Rhea sambil tersenyum.
           “Dasar anak kecil” gumam Antares dalam hatinya.Â
           “Pak Antares aku tanya sesuatu boleh? Ekspresi Rhea menunjukkan muka penasaran. “Jadi pan Antares hari ini sengaja membawa mobil biar bisa ngaterin aku ke kantor pusat”
           “Masih nanya, dasar perempuan tidak peka” keduanya sama sama tertawa.Â