Tanah kaku, meretak. Hijaunya minggat tak tahan dinista. Dan pecah. Terpecah karena rindu jilatan airnya segar. Sedang langit terus menggoda. Kelabu di sana menggulung, menyebar aroma segar yang dirindu tapi enggan bertamu—hanya menggoda palsu. Dan di antara kisah mereka aku berada di tengahnya. Duduk termangu di lapang yang retak dinista. Yang merindu pada penggoda palsu.
Dulu tanah ini luas walau tak seluas segara. Rimbun walau tak serimbun surai raja rimba. Tapi dunia memang semakin keras rupa-rupanya. Menghancur. Meretakkan segala. Peneroka kelaparan hanya mampir barang sedetik, kemudian pergi lagi mencari detik-detik lainnya. Peneroka menghancur dan meretakkan segala.
Tanah ini seharusnya luas walau tak seluas segara. Tapi kemudian digerogoti pancang-mancang peraih mega. Pancang yang mengais sedikit demi sedikit. Sampai tanah jadi sempit. Lalu kaku meretak. Juga hijaunya minggat tak tahan dinista.
Dan di antara kisah mereka aku terduduk. Di tengah lapang nan terik. Bersama bauan karat sepeda tua. Dari kejauhan tengah berlari kerbau legam. Mencongol belulangnya di punggung. Terus berlari menarik bajak walau napasnya terengap.
Aku melihat mataharinya terik. Panas. Saking panasnya sampai membakar air yang ada. Menjadikan tanah semakin kaku. Lalu meretak. Pecah.
“Apalagi yang kamu harapkan di sini?” tanya hati yang koyak. Bersyukurlah hati itu masih tersimpan di antara organ-organ lain yang telah rusak.
Aku tak menjawab. Tak mampu lebih tepatnya.
Tanah kaku, meretak. Hijaunya minggat tak tahan dinista. Di antara tanah ini dan tanya itu aku terbaring. Termangu di bawah terik. Membiarkan kerbau legam dengan alat bajaknya menghakimi lahan seadanya. Pun tubuh yang koyak.