03. [ACI 2011] Perjalanan yang Nyaris Dibatalkan
Kami masuk ke bagian dalam bandara. Melewati pemeriksaan keamanan ribet bukan main. Jelaslah dengan segala atribut yang menempel di badan kami. Melucuti tas, peralatan dan barang-barang pribadi yang sedemikian banyak menjadi pekerjaan tersendiri. Belum lagi masalah mengumpulkan balik dan memakaikannya kembali. Awas-awas ada yang tertinggal kami menengok beberapa kali memeriksa ulang untuk memastikan. Sebelum akhirnya lanjut berjalan mendekati antrian untuk check-in.
Hanya 5 menit kurang lebih dan kami sudah berada diurutan paling depan. Berhadapan langsung dengan seorang lelaki muda. Dibatasi sebuah meja loket yang telah dilengkapi dengan indikator timbangannya. Belum berfirasat. Kami menyerahkan KTP dan kertas dengan cetakan detil penerbangan. Masih ditemani tawa-tawa santai sembari menunggu keluarnya boarding pass. Makin lama makin mencurigakan. Tidak biasanya si penjaga loket mengutak-atik komputernya sebegitu lama. Tidak ayal dia berdiri kemudian meminta maaf.
Ah, kabar buruk! Langsung saja firasatku menyalip. Catat ini. Apabila seorang pelayan jasa meminta maaf, itu tandanya awal dari mimpi buruk. Mereka sudah diajarkan demikian. Karena persis dibelakang kata maaf-nya itu pasti sudah menunggu cerita pahit. Benar saja. Katanya tiket kami pagi ini untuk berangkat ke Lombok sudah dibatalkan.
Dibatalkan!! Bagaimana mungkin? Ini hari pertama pemberangkatan dan tadi pihak panitia di depan pun tidak mengatakan apa-apa. Pasti ada yang salah. Kami meminta beliau memeriksa ulang. Bukan sekali tapi beberapa kali. Hasilnya selalu sama. Komputer mengatakan tiket kami sudah dibatalkan. Dia pun tidak bisa berbuat apa juga. Tugasnya untuk menurut dengan apa yang dikatakan si komputer. Sungguh awal petualangan yang gila.
Kami tidak tinggal diam. Penerbangan yang seharusnya mengantar kami ke Lombok hanya punya waktu sisa 30 menit lagi sebelum proses check-in nya ditutup. Lantas kami menelpon balik ke pihak panitia untuk klarifikasi. Tebak apa, mereka sama terkejutnya. Baru setelah dirunut muncul satu petunjuk. Agen perjalanan yang mereka tugaskan sebenarnya memang membatalkan satu tiket, yaitu tiket balik yang dari Mataram ke Jakarta. Rencana perjalanan kami yang baru adalah untuk kembali dari Bima ke Jakarta. Bukan lagi dari Mataram. Tiket penerbangan untuk pagi ini seyogianya tidak pernah disentuh. Seharusnya memang tetap berlaku karena sejauh ingatannya tidak pernah dibatalkan. Ia sudah barang pasti keliru. Ini pasti bukan satu, pasti keduanya dibatalkan. Entah atas arahan siapa.
Klarifikasi lebih lanjut membenarkan dugaan kami. Ingatan komputer ternyata masih lebih kuat dari manusia. Pihak panitialah yang tidak sengaja membatalkan keduanya. TIDAK SENGAJA. Bagaimanapun itu bisa terjadi kami tidak perduli. Yang pasti mereka harus bisa mencarikan tiket yang sama untuk penerbangan ke Lombok pagi ini juga. Harus dengan pesawat yang sama. Bukan tanpa alasan. Kami sudah terlanjur di dalam terminal 2F, yaitu satu-satunya terminal untuk penerbangan domestik di terminal 2 ini. Kalau untuk pindah ke terminal 1 tentunya tidak sedikit ongkos dan waktu akan dihabiskan. Itupun kalau sanggup mengejar jadwal penerbangan. Daripada membuat onar dengan yang belum lagi pasti mengapa juga tidak mencoba untuk membeli balik tiket kami yang dibatalkan itu.
Sukses. Beruntung kursi kami belum dilepas ke penumpang lainnya. Lega juga akhirnya tau tetap dapat berangkat hari ini. Kami bergegas balik ke antrian check-in mumpung masih ada beberapa menit lagi.
Pagi mendekati siang, pesawat pun siap berlepas. Bandara Internasional Lombok (BIL) tujuannya. Kami duduk tenang di tempat duduk masing-masing. Berusaha menikmati penerbangan. Mengucap selamat tinggal Jakarta. Menanti selamat datang Lombok. Berharap sapaan dari BIL, bandara kebanggaan masyarakat Lombok.