#12 TETAP TIDAK ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ "Bagaimana jika aku melamar anak Tuan dengan mahar sebuah puisi?" tanya pemuda itu pada seorang penyair kondang. ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ "Puisi seperti apa yang hendak kau maharkan?" ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ "Puisi tentang pengorbanan." ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ "Bacakan!" ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Pemuda itu mengambil secarik kertas di sakunya. Penyair Kondang mengawasi dengan curiga. Kemudian pemuda itu membaca: ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Kau rupanya yang telah mencuri hati yang kugembalakan dengan setia di dalam diri Kau sayat dan kau kuliti, bermacam bumbu kau taburi ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Kau habisi! ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Kali ini, kubawakan secarik puisi sebagai surat tuntutan agar kau lunasi dengan seluruh hati yang kau sembunyi di balik tulang rusukmu sebelah kiri ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Jika tidak, kita terpaksa maju ke hadapan pak polisi atau bagaimana jika kau cukup mengangkatku sebagai seorang suami? ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ *** ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Penyair Kondang termenung. Dia memeluk pemuda itu erat dan berkata, "Tetap tidak! Belajarlah lagi! Puisimu kampungan macam baumu yang kampungan! Dasar anak kampungan!" ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ (Al Ayubi, 2019) ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ @30haribercerita #30hbc19 #30hbc1912 #duabelas #tetaptidak #jurnalsederhana #perjalanan #beranjak #langkah #berkata #catatan #temabagaimanajika #30hbc19jika https://www.instagram.com/p/BsiS74klZAt/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=oqk1omiieh9j









