#12 : Bianglala
Kami pernah berandai, ah tidak, lebih tepatnya dia yg banyak berucap ‘jika’. Saat itu aku masih menjadi perempuan kedua setelah ibunya yg dia cintai. Dia berkata, jika kami menikah nanti akan tetap ibunya jadi yg pertama. Tentu aku tidak apa.
.
Di lain waktu dia juga berandai, jika jabatannya naik dan punya lebih banyak uang untuk ditabung dia akan mulai menyicil rumah untuk masa depan kami. Tentu saja aku bangga akan niatnya.
.
Tentang ‘jika’ terakhir yg pernah kudengar darinya adalah bagaimana jika kami tidak berjodoh? Jujur, aku merasa tidak memiliki jawaban atas jikanya saat itu.
.
Dia pernah membuatku seakan berada di tempat tertinggi, merasakan semilir angin menyejukkan, langit biru yg rasanya begitu dekat, dan pemandangan indah dari atas sana. Namun ibarat bianglala, dia juga membuatku berada di bawah, di dasar paling dekat dengan tanah. Meski masih ingin menikmati putaran demi putaran lagi melihat keindahan yg kusukai, ternyata waktuku ada habisnya. Aku harus turun dan meninggalkan tempatku.
.
Saat ini aku yg mulai berandai, jika saja aku tidak pernah meyakini harapan yg seolah diberikannya untukku mungkin saja luka ini tidak akan timbul.
Jika aku tidak pernah dilibatkan dalam rencana masa depannya, mungkin aku tidak merasa sepatah hati ini.
Dan dari berjuta ‘jika’ yg ingin aku andaikan, jika aku tidak bertemu dengannya maka semua jika yg selalu dia ceritakan padaku tidak akan pernah aku dengar dan tahu.
.
Namun, hidup memang seperti bianglala. Jika tidak pernah ada ‘jika’, bagaimana kita tahu cara meminta pada Tuhan kita? Bagaimana kita sadar bahwa harap seutuhnya hanya pada Dia yg tidak pernah membuat kecewa?
Hidup memang seperti bianglala dan kita bisa belajar dari setiap perputarannya.
.
Cr : We Heart It












